Hampir semua orang pernah menahan buang air kecil. Entah lantaran sedang dalam perjalanan, sibuk bekerja, menghadiri rapat, alias susah menemukan toilet bersih. Meski tampak sepele, kebiasaan ini bisa berakibat pada kesehatan kandung kemih jika dilakukan terlalu sering.
Seiring bertambahnya usia, sebagian orang juga mulai mengalami gangguan kontrol kandung kemih. Kondisi ini lebih sering dialami ibu mengandung maupun laki-laki lanjut usia nan mempunyai masalah prostat.
Lantas, apakah kebiasaan menahan kencing selama bertahun-tahun bisa merusak kandung kemih? Berapa banyak sih urine nan bisa ditampung kandung kemih?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter ahli urologi Chong Weiliang di Advanced Urology Associates Singapura menjelaskan kapabilitas kandung kemih setiap orang berbeda. Namun secara umum, kandung kemih orang dewasa nan sehat dapat menampung sekitar 300 hingga 500 mililiter urine alias setara 1 hingga 2 gelas.
Pada volume tersebut, biasanya muncul dorongan kuat untuk buang air kecil. Sebagian orang apalagi sudah mulai merasakan kemauan buang air mini saat kandung kemih berisi sekitar 200-300 mililiter urine.
Dalam beberapa kasus, kapabilitas kandung kemih bisa mencapai 600 hingga 800 mililiter. Namun, jika volumenya melampaui nomor tersebut, rasa tidak nyaman biasanya mulai muncul.
"Banyak nan beranggapan laki-laki mempunyai kandung kemih lebih besar dibandingkan wanita. Menurut para ahli, kapabilitas kandung kemih laki-laki memang sedikit lebih besar lantaran ukuran tubuh nan umumnya lebih besar. Namun perbedaannya tidak terlalu signifikan," sorotnya dikutip dari CNA, Kamis (11/6/2026).
Selain itu, laki-laki mempunyai uretra nan lebih panjang serta kelenjar prostat nan turut memengaruhi proses penyimpanan dan pengeluaran urine.
Berapa Lama Tubuh Menghasilkan Urine Setelah Minum?
Setelah minum air putih, tubuh memerlukan waktu sekitar 15-30 menit hingga cairan mulai muncul sebagai urine pada orang nan sehat dan terhidrasi dengan baik.
Ginjal terus menyaring darah sepanjang waktu sehingga produksi urine merupakan proses nan berjalan terus-menerus, bukan sekadar perjalanan langsung dari air nan diminum menuju kandung kemih.
Namun pada kondisi tertentu, proses ini bisa berjalan lebih lama, sekitar 30 menit hingga 2 jam. Salah satunya ketika tubuh mengalami dehidrasi.
"Saat kekurangan cairan, tubuh bakal berupaya mempertahankan persediaan air untuk memenuhi kebutuhan sel dan jaringan. Akibatnya, produksi urine menjadi lebih lambat," jelas dr Chong.
Kenapa Sering Kencing Saat Duduk Lama alias Naik Pesawat?
Beberapa kondisi tertentu dapat memengaruhi gelombang buang air kecil.
Saat terlalu lama duduk alias berdiri, cairan tubuh condong menumpuk di kaki dan pergelangan kaki. Karena itu, sebagian orang merasa kakinya lebih bengkak menjelang malam.
Ketika berbaring, cairan tersebut kembali masuk ke aliran darah sehingga volume darah meningkat. Kondisi ini merangsang ginjal untuk memproduksi lebih banyak urine.
Hal serupa juga dapat terjadi saat berada di dalam pesawat. Suhu kabin nan dingin dan tingkat kelembapan nan rendah dapat membikin seseorang lebih sering mau buang air kecil.
Udara kabin nan kering juga bisa menyebabkan dehidrasi ringan. Meski pada awalnya dehidrasi memperlambat produksi urine, urine nan lebih pekat dapat mengiritasi kandung kemih sehingga memicu rasa mau buang air kecil.
Apa Bahaya Menahan Kencing Terlalu Lama?
dr Chong memperingatkan kebiasaan menahan kencing dalam waktu lama dan berulang kali dapat menyebabkan kandung kemih meregang melampaui kapabilitas normalnya alias dikenal sebagai overdistensi kandung kemih.
"Ketika kondisi ini terjadi, otot kandung kemih dapat melemah sehingga tidak bisa mengosongkan urine secara sempurna," tandas dia.
Akibatnya, urine nan tertinggal di dalam kandung kemih dapat meningkatkan akibat jangkitan saluran kemih (ISK). Selain itu, seseorang juga bisa kehilangan sensitivitas terhadap rasa penuh pada kandung kemih sehingga tidak lagi menyadari dorongan untuk buang air mini sejak dini.
Bisakah Kandung Kemih Pecah Karena Menahan Kencing?
Meski terdengar mengkhawatirkan, para mahir menegaskan kandung kemih pecah akibat menahan kencing merupakan kondisi nan sangat jarang terjadi.
"Kasus pecahnya kandung kemih umumnya berangkaian dengan trauma berat, keracunan alkohol, sumbatan saluran kemih, alias retensi urine nan parah, bukan lantaran kebiasaan menahan kencing sesekali dalam aktivitas sehari-hari," jelas dia.
Risiko tersebut juga dapat meningkat pada orang dengan gangguan psikologis tertentu nan mengurangi sensasi penuh pada kandung kemih, alias mereka nan pernah menjalani operasi maupun terapi radiasi nan melemahkan tembok kandung kemih.
Frekuensi Kencing nan Normal
Pada orang dewasa nan sehat, gelombang buang air mini normal berkisar 4 hingga 8 kali per hari.
Sebagian besar orang bakal buang air mini setiap 3 sampai 4 jam saat terjaga. Namun, jika seseorang kudu bangun lebih dari satu kali setiap malam untuk buang air mini dan kondisi tersebut mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis mungkin diperlukan.
Para mahir menegaskan tidak ada pemisah waktu pasti mengenai berapa lama seseorang boleh menahan kencing. nan terpenting adalah merespons dorongan buang air mini dan tidak membiasakan diri menundanya secara berulang.
Meski kebanyakan orang dewasa sehat tetap dapat menahan kencing selama beberapa jam sesekali, kebiasaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan terus-menerus.
Untuk menjaga kesehatan kandung kemih, master menyarankan beberapa kebiasaan berikut:
- Mengosongkan kandung kemih setelah bangun tidur.
- Tidak menahan kencing terlalu lama.
- Buang air mini sebelum perjalanan jauh alias sebelum tidur.
- Memastikan asupan cairan tubuh tetap cukup sepanjang hari.
Menariknya, terlalu sering ke toilet untuk berhati-hati juga tidak disarankan. Kebiasaan ini dapat membikin kapabilitas fungsional kandung kemih berkurang seiring waktu.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Beberapa indikasi berikut perlu mendapatkan perhatian medis lantaran bisa menandakan adanya gangguan pada saluran kemih alias kandung kemih:
- Nyeri alias rasa terbakar saat buang air kecil.
- Adanya darah dalam urine.
- Infeksi saluran kemih nan berulang.
- Perubahan mendadak pada pola buang air kecil.
- Sulit menahan kencing alias mengalami kebocoran urine.
- Sulit mengeluarkan urine.
- Aliran urine lemah.
- Merasa kandung kemih tidak kosong sepenuhnya setelah buang air kecil.
- Terlalu sering buang air mini tanpa penyebab nan jelas.
- Terbangun acapkali pada malam hari untuk buang air kecil.
- Nyeri perut bagian bawah alias perut terasa penuh akibat kandung kemih membesar.
- Demam nan disertai keluhan saluran kemih.
Ia menegaskan keberadaan darah dalam urine, meski hanya sekali dan tanpa rasa sakit, tetap kudu diperiksakan. Terutama pada orang lanjut usia alias perokok.
"Selain itu, beragam keluhan saluran kemih nan menetap tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Banyak gangguan kandung kemih dan saluran kemih nan dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini," pungkasnya.
Simak Video "Video: Terpaksa Menahan Kencing saat Mudik? Segini Durasi Amannya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·