Jakarta, CNN Indonesia --
Calon pembeli kendaraan baru menghadapi tekanan dobel sekaligus. Nilai tukar rupiah nan menembus Rp18.000 per dolar AS berpotensi mendongkrak nilai mobil dan motor, sementara kenaikan BI Rate ke 5,5 persen bisa membikin angsuran semakin berat.
Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku kembang referensi alias BI Rate sebesar 25 pedoman poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6), melanjutkan kenaikan sebelumnya, 50 pedoman poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026. Langkah ini diambil imbas rupiah nan terus terdepresiasi.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari akibat tingginya gejolak dunia akibat perang di Timur Tengah," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengerek nilai kendaraan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS menjadi kekhawatiran tersendiri bagi industri otomotif. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengingatkan, mobil dan motor nan tetap berjuntai pada komponen impor berisiko mengalami penyesuaian nilai jika nilai tukar terus melemah.
Beberapa Agen Pemegang Merek sebelumnya menyatakan belum bakal meningkatkan nilai dalam waktu dekat, tetapi mengawasi ketat pergerakan kurs rupiah.
Deputy Managing Director Sales and Marketing 4W Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra mengatakan salah satu strategi nan mereka lakukan sembari menahan kenaikan nilai adalah memaksimalkan penggunaan komponen lokal.
"Strategi utama kami adalah terus mengoptimalkan penggunaan komponen lokal nan ada guna membantu menjaga kestabilan harga," kata Donny, Kamis (4/6).
Sementara Auto2000, jaringan dealer terbesar Toyota, mengatakan penyesuaian nilai bakal mempertimbangkan waktu dan keahlian pasar menerimanya.
"Kita kan menaikkannya sesuai dengan timing dan nomor nan harapannya ya tetap bisa diterima oleh masyarakat. Makanya saya juga terus mengimbau ke teman-teman di cabang, pada customer," kata Anton Jimmy, CEO Auto2000.
Cicilan baru makin berat, angsuran lama aman
Di sisi pembiayaan, kenaikan BI Rate membawa ancaman tersendiri bagi calon konsumen baru. Sekitar 70 persen sumber pendanaan perusahaan multifinance berasal dari pinjaman perbankan.
Jika bank meningkatkan kembang pinjaman ke perusahaan pembiayaan, kemungkinan besar selisih itu diteruskan ke konsumen baru.
"Dampaknya bukan kepada pembiayaan nan sedang berjalan, tetapi kepada nan bakal datang. Nanti bakal dikaitkan dengan daya beli dan keahlian bayar," kata Suwandi.
Nasabah nan sudah punya perjanjian pembiayaan melangkah tidak perlu khawatir. Suwandi menegaskan angsuran nan sudah dijalani tidak bakal berubah.
"Untuk pengguna nan sudah jalan berbareng pembiayaan itu tidak bakal ada perubahan naik turunnya suku bunga," tegasnya.
(fea)
Add
as a preferred source on Google
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·