As Masukkan Byd Ke Daftar Hitam Perusahaan Pendukung Militer China

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) menetapkan perusahaan raksasa asal China, ialah Alibaba, Baidu, dan BYD, ke dalam daftar hitam sebagai perusahaan nan mendukung militer China.

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) sendiri telah memasukkan ketiga perusahaan itu dalam pembaruan daftar nan dirilis pada Senin (8/6). Sederet perusahaan itu dikecam lantaran dianggap dapat memperumit hubungan antara Washington dan Beijing setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan.

Menanggapi kondisi itu, Kedutaan Besar China di Washington DC lampau mengecam tudingan tersebut sebagai tindakan "diskriminatif". Mereka juga menganggap pemerintah AS telah "melampaui batas" dalam menggunakan argumen keamanan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perusahaan-perusahaan China nan berbisnis di luar negeri telah secara ketat mematuhi norma dan peraturan negara tempat mereka beroperasi," kata ahli bicara kedutaan melansir Al Jazeera, Rabu (10/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, AS kudu menghentikan praktik nan salah ini dan menciptakan suasana upaya nan baik, adil, dan setara, serta tidak diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China.

Alibaba, perusahaan e-commerce terbesar di China, menyatakan tudingan itu tidak benar. Baidu juga menyebut tidak ada argumen nan andal atas pencantumannya.

"Tuduhan bahwa Baidu adalah perusahaan militer sama sekali tidak berdasar. Kami tidak bakal ragu menggunakan seluruh opsi nan tersedia untuk menghapus nama perusahaan dari daftar tersebut," kata ahli bicara Baidu.

BYD belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Daftar "perusahaan militer China" milik Pentagon nan diperbarui setiap tahun sekarang mencakup 188 perusahaan, naik dari 130an perusahaan pada 2025, melansir NBC.

Perusahaan nan masuk daftar tersebut, termasuk entitas nan berada di bawah kendali mereka, bakal dilarang mengikuti perjanjian pertahanan AS berasas patokan nan mulai bertindak akhir bulan ini.

Pentagon mendefinisikan "perusahaan militer China" sebagai entitas nan dimiliki alias dikendalikan militer China, alias nan berkontribusi pada strategi "fusi militer-sipil" China, ialah kebijakan Beijing nan menggabungkan riset dan penemuan sipil dengan sektor pertahanan.

Perusahaan juga kudu mempunyai sebagian operasinya di Amerika Serikat agar dapat masuk dalam daftar tersebut.

Dalam daftar terbarunya, Pentagon menyebut Alibaba, BYD, dan Baidu mendukung pengembangan militer China melalui hubungan mereka dengan State-owned Assets Supervision and Administration Commission (SASAC) dan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.

Anggota Kongres dari Partai Republik John Moolenaar nan memimpin Komite DPR AS mengatakan daftar terbaru itu menjadi peringatan mengenai perusahaan-perusahaan China nan dinilai bekerja bertentangan dengan kepentingan nasional AS.

Di sisi lain ekspansi daftar hitam terjadi kurang dari sebulan setelah Presiden AS Donald Trump berjumpa Presiden China Xi Jinping di Beijing dalam pertemuan tingkat tinggi selama dua hari nan bermaksud meredakan perang jual beli dan rivalitas teknologi nan telah berjalan bertahun-tahun.

"Perusahaan-perusahaan nan tercatat di bursa saham AS semestinya segera dihapus dari perdagangan dan produk-produknya kudu disingkirkan dari rantai pasok nan menjadi ketergantungan negara kita," kata Moolenaar dalam sebuah pernyataan.

"Perusahaan-perusahaan Amerika kudu berakhir berbisnis dengan ancaman terhadap keamanan nasional ini. Jika tidak, mereka turut mendukung kebangkitan kekuatan militer China."

(ryh/mik)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-oto