Kilau Memudar Di Hulu Mentaya: Cerita Ketertinggalan Di Kecamatan Tertua Kotim

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Air Sungai Mentaya nan tenang menyimpan memori kejayaan masa lampau nan kontras dengan realita hari ini. Di hulunya, tersimpan satu kebenaran memilukan di tengah euforia seremoni 73 tahun Kabupaten (Kotim). Sebuah kecamatan nan menjadi salah satu nan tertua di wilayah utara kudu merenungi nasibnya sebagai wilayah nan tertinggal. Kecamatan itu adalah Mentaya Hulu.

KETIKA memasuki musim penghujan di penghujung tahun, penduduk Mentaya Hulu kembali dihadapkan pada rutinitas nan melelahkan. Jalan rusak parah sepanjang lintasan penghubung antar menjadi pemandangan nan sudah sangat lazim. Kondisi ini telah berjalan puluhan tahun, seiring dengan usia kecamatan itu sendiri nan sudah sangat tua.

“Rusaknya begitu parah, apalagi ketinggian tanah akibat lumpur bisa mencapai pinggang orang dewasa,” keluh Anang, salah satu warga, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Kondisi ini sangat kontras dengan masa keemasan Mentaya Hulu. Pada era 1970-an hingga 1990-an, area ini merupakan jantung degub industri perkayuan di Kotim. Kayu mentah mengalir deras dari hulu Sungai Mentaya, dan kapal-kapal besar bersandar di dermaga-dermaga sibuk. Kini, kejayaan itu hanya tinggal nama. Perlahan, kilau industri kayu meredup, dan nan dulu makmur sekarang sepi.

Derita Infrastruktur nan Tak Kunjung Usai

Jalanan becek dan berlumpur bukan sekadar pemandangan, melainkan momok nan menghalang nyaris seluruh sendi kehidupan masyarakat. Ruas Jalan Tanjung Jariangau-Bawan-Kuala Kuayan nan vital kondisinya rusak parah, diperparah oleh curah hujan tinggi dan lampau lintas kendaraan bermuatan kelapa sawit.

“Ekonomi, pendidikan, koordinasi , dan mobilitas masyarakat sangat berjuntai pada jalan ini.” ujar salah seorang penduduk berjulukan Nando.

Jalan nan dibangun pada masa Presiden Soeharto ini belum pernah mendapat pembaruan menyeluruh. Akses penghubung bagi seperti Baampah, Bantur, Penda Durian, Pahirangan, Satiung, dan Santilik menuju ibu kota kecamatan pun dalam kondisi memprihatinkan.

Anggota DPRD Kotim dari Dapil V, Andi Lala, menyebut sedikitnya 17 titik kerusakan parah kudu segera ditangani. Perbaikan jalan pun menjadi pekerjaan besar nan memerlukan gotong royong semua pihak.

Pemerintah wilayah memang telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp800 juta untuk penanganan jalan ini. Namun, kebutuhan jauh lebih besar. Untuk itu, DPRD Kotim terus mendorong perusahaan besar swasta (PBS) nan beraksi di wilayah ini untuk berkontribusi.

“Sangat miris sebuah dikelilingi investasi tapi justru menjadi sebuah nan tertinggal, jangan sampai seperti itu,” tegas personil Komisi IV DPRD Kotim, Santoso.

Terisolasi dari Kemajuan Zaman

Jika akses jalan nan jelek menghalang mobilitas fisik, keterbatasan akses info membikin masyarakat Mentaya Hulu nyaris terisolasi dari kemajuan zaman. Lima di kecamatan ini tetap menjadi blank spot, tanpa jaringan internet. Akibatnya, sejumlah tidak bisa mengikuti program digitalisasi pemerintah, dan penduduk kesulitan mengakses info serta kesempatan ekonomi digital.

Namun, secercah angan mulai terlihat. Anggota Komisi I DPRD Kotim, M Abadi, menyebut tahun ini ada lima nan bakal dialiri listrik: Pahirangan, Penda Durian, Tanjung Bantur, Satiung, dan Santilik.

“Ini adalah tonggak berhistoris bagi masyarakat kami, nan telah lama menantikan kehadiran listrik untuk memajukan kehidupan mereka,” kata Abadi.

Ia berambisi dengan listrik, bakal terjadi kemajuan signifikan dalam aspek sosial, ekonomi, dan prasarana bagi masyarakat Kecamatan Mentaya Hulu, Kotim.

Merangkak dari Keterisolasian

Di tengah keterbatasan, masyarakat Mentaya Hulu tidak tinggal diam. Kelompok Tani (Poktan) Pahari Sejahtera di Tangar, misalnya, tengah mengembangkan potensi ekonomi dengan training pengolahan pakan ayam petelur mandiri. Program ini didukung oleh PT KKP melalui CSR, membantu penduduk mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan dan membuka kesempatan ekonomi baru.

Ketahanan pangan juga mulai digalakkan. Polsek Mentaya Hulu berbareng golongan tani melaksanakan penanaman jagung perdana di lahan seluas 2 hektare sebagai bagian dari support program swasembada pangan . Sementara itu, koperasi “Merah Putih” mulai disosialisasikan untuk menjadi wadah penguatan ekonomi penduduk melalui simpan pinjam dan pemasaran produk lokal.

Asa di Ujung Sungai

Ketertinggalan Mentaya Hulu tidak bisa dilepaskan dari aspek geografis dan sejarah panjangnya. Kecamatan ini merupakan salah satu nan tertua, nan kejayaannya di masa lampau justru menjadi bumerang ketika sumber daya alam nan menjadi tumpuan habis.

Kini, perbaikan jalan darurat terus digenjot, program listrik menjadi prioritas dan potensi lokal mulai digali. Semua pihak berambisi Mentaya Hulu, nan usianya sudah tidak muda lagi, tidak terus terpuruk. Sudah saatnya kecamatan tertua di Kotim ini bangkit dari ketertinggalan dan kembali menjadi “permata terpendam” alias tenggelam selamanya di Hulu Sungai Mentaya.

Sumber info-lokal