Ketika Investor Sell Up Dan Rupiah Kehilangan Tenaga

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat umumnya dikaitkan dengan aspek eksternal, seperti kebijakan suku kembang The Fed, ketidakpastian geopolitik, alias perlambatan ekonomi global.

Namun, terdapat aspek domestik nan tidak kalah penting, ialah gimana Indonesia mengelola ekspor sumber daya alam (SDA) dan menjaga kepercayaan investor.

Sebagai negara nan kaya SDA, Indonesia selama ini mengandalkan ekspor komoditas sebagai salah satu sumber utama devisa.

Batu bara, minyak sawit, nikel, tembaga, dan beragam komoditas lainnya menjadi penopang neraca perdagangan sekaligus penyedia pasokan kurs asing nan berkedudukan menjaga stabilitas rupiah.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong hilirisasi melalui pembatasan ekspor bahan mentah dan penguatan industri pengolahan dalam negeri.

Kebijakan ini bermaksud meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Secara konsep, langkah tersebut merupakan strategi nan tepat untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.

Electronic money exchangers listing

Namun, tantangan muncul ketika pelaku upaya dan penanammodal menilai terdapat ketidakpastian dalam penerapan kebijakan.

Perubahan patokan nan cepat, proses perizinan nan kompleks, alias ketidakjelasan arah izin dapat meningkatkan persepsi akibat investasi.

Dalam situasi demikian, sebagian penanammodal memilih melakukan sell up, ialah menjual sebagian alias seluruh kepemilikan asetnya dan mengalihkan modal ke negara lain nan dianggap lebih menjanjikan.

Fenomena sell up tidak hanya berakibat pada investasi, tetapi juga berpengaruh terhadap nilai tukar.

Ketika penanammodal asing menjual asetnya di Indonesia, biaya hasil penjualan biasanya dikonversi ke dalam dollar AS sebelum dipindahkan ke luar negeri.

Akibatnya, permintaan terhadap dollar meningkat, sementara pasokan kurs asing di dalam negeri berkurang. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap rupiah.

Jika arus modal keluar berjalan dalam jumlah besar, pelemahan rupiah menjadi susah dihindari.

Bahkan ketika neraca perdagangan tetap mencatat surplus, keluarnya modal asing dapat memengaruhi sentimen pasar dan menurunkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional. Dalam sistem finansial modern, ekspektasi pasar sering kali mempunyai pengaruh nan sama besar dengan kondisi esensial ekonomi.

Dampak pelemahan rupiah tidak berakhir pada pasar kurs asing. Biaya impor bahan baku dan peralatan modal menjadi lebih mahal, sehingga meningkatkan biaya produksi bumi usaha.

Bagi industri nan tetap berjuntai pada komponen impor, kenaikan biaya tersebut berpotensi mendorong inflasi dan menurunkan daya saing.

Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun sektor swasta.

Kewajiban nan berdenominasi dollar menjadi lebih mahal dalam kalkulasi rupiah.

Akibatnya, ruang fiskal pemerintah dapat tertekan, sementara bumi upaya menghadapi biaya finansial nan lebih tinggi.

Karena itu, pengelolaan ekspor SDA tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan nilai tambah.

Kebijakan tersebut juga kudu mempertimbangkan dampaknya terhadap suasana investasi dan stabilitas makroekonomi.

Hilirisasi tetap perlu dilanjutkan, tetapi kudu didukung kepastian hukum, konsistensi regulasi, dan tata kelola nan kredibel.

Investor pada dasarnya tidak menolak hilirisasi. Mereka memerlukan kepastian bahwa patokan nan bertindak dapat diprediksi dan investasi nan ditanamkan mempunyai prospek untung nan jelas dalam jangka panjang.

Ketika kepastian tersebut terjaga, modal bakal tetap masuk dan mendukung pembangunan industri nasional.

Pada akhirnya, kekuatan rupiah tidak hanya ditentukan oleh persediaan devisa alias intervensi bank sentral.

Nilai tukar juga mencerminkan tingkat kepercayaan penanammodal terhadap arah kebijakan ekonomi suatu negara.

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara kedaulatan pengelolaan SDA dan daya tarik investasi merupakan kunci agar hilirisasi sukses tanpa mengorbankan stabilitas rupiah.

Sebab mata duit nan kuat lahir dari fondasi ekonomi nan kokoh, kebijakan nan konsisten, dan kepercayaan nan terpelihara.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya

Sumber prokalteng