Kasus Ebola Di Afrika Tengah Tembus 471, Who Waspada Ledakan Wabah

Sedang Trending 2 jam yang lalu

CNN Indonesia

Sabtu, 06 Jun 2026 20:30 WIB

Kasus Ebola di Afrika Tengah Tembus 471, WHO Waspada Ledakan Wabah Ilustrasi. Kasus Ebola makin meningkat. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah kasus Ebola nan terkonfirmasi dalam wabah nan melanda Afrika Tengah sekarang mendekati 500 kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan epidemi tersebut terus berkembang sigap dan berpotensi menjadi salah satu pandemi Ebola terbesar nan pernah tercatat.

Dalam pembaruan situasi harian nan dirilis Sabtu, WHO melaporkan terdapat 452 kasus Ebola terkonfirmasi, termasuk 82 kematian, di Democratic Republic of the Congo. Wabah itu pertama kali diumumkan tiga pekan lalu.

Sementara itu, di negara tetangga, Uganda, tercatat 19 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara keseluruhan, jumlah kasus Ebola nan terkonfirmasi di kedua negara mencapai 471 kasus dengan 84 kematian. Angka tersebut meningkat tajam dibanding sehari sebelumnya, dengan tambahan sekitar 100 kasus dan 20 kematian.

Lonjakan itu memicu kekhawatiran bahwa pandemi saat ini dapat berkembang menjadi salah satu epidemi Ebola terbesar dalam sejarah. WHO sebelumnya telah menetapkan pandemi tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional.

Pejabat senior di Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Jason Asher, mengatakan pada Jumat bahwa sejumlah model epidemiologi menunjukkan pandemi saat ini berisiko menyamai skala epidemi Ebola di Afrika Barat pada 2014 jika tidak diimbangi intervensi kesehatan masyarakat nan kuat.

Wabah Ebola Afrika Barat pada 2014 tercatat sebagai nan terbesar sepanjang sejarah, dengan lebih dari 28.000 kasus dan lebih dari 11.000 kematian.

"Skala seperti itu sangat mungkin terjadi," kata Asher dalam konvensi pers mengutip AFP.

Ebola merupakan penyakit nan menyebar melalui kontak erat dengan penderita maupun cairan tubuh nan terinfeksi. Dalam lima dasawarsa terakhir, penyakit tersebut telah menyebabkan lebih dari 15.000 kematian di beragam negara Afrika.

Wabah terbaru diumumkan pada 15 Mei di wilayah timur laut Kongo. Namun, para mahir meyakini virus telah menyebar selama beberapa waktu sebelum akhirnya terdeteksi secara resmi.

Berbeda dengan beberapa jenis Ebola lainnya, hingga sekarang belum tersedia vaksin maupun pengobatan nan disetujui untuk jenis Bundibugyo Ebola, jenis langka nan menjadi penyebab pandemi saat ini.

Untuk mempercepat respons, WHO berbareng Africa CDC pada Jumat meluncurkan rencana pendanaan senilai US$518 juta alias sekitar Rp8,4 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS). Dana tersebut bakal digunakan selama enam bulan ke depan untuk memperkuat pengawasan penyakit, pengetesan laboratorium, serta pencegahan dan pengendalian infeksi.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengakui penyebaran pandemi berjalan lebih sigap dibanding upaya penanganannya.

"Wabah ini bergerak sigap dan kami tetap berupaya mengejarnya," ujar Tedros.

Ia menegaskan pentingnya menghentikan penyebaran virus di wilayah nan saat ini terdampak sekaligus membantu negara-negara tetangga meningkatkan kesiapsiagaan.

"Kita perlu menghentikan pandemi ini di tempat asalnya, mendukung negara-negara nan sedang merespons saat ini, dan memastikan negara tetangga siap mendeteksi serta bertindak sigap jika kasus muncul," kata Tedros.

Menurutnya, Ebola adalah pandemi serius nan sebenarnya dapat dikendalikan, tetapi memerlukan respons sigap dan kerja sama internasional nan kuat.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle