CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 19:57 WIB
Ilustrasi. Jangan anggap nyeri persendian di usia lanjut adalah perihal nan normal. (iStockphoto/bymuratdeniz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak orang tetap menganggap nyeri tulang dan sendi sebagai bagian tak terhindarkan dari proses penuaan. Ketika dengkul mulai terasa sakit, punggung sering pegal, alias mobilitas tubuh menjadi terbatas, kondisi tersebut kerap dianggap sebagai akibat alami bertambahnya usia.
Padahal, para master mengingatkan bahwa dugaan tersebut tidak selalu benar. Nyeri pada tulang dan sendi bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan nan memerlukan penanganan khusus, mulai dari terapi sederhana hingga tindakan medis nan lebih kompleks.
Dalam Simposium Orthovolution Siloam Hospitals Mampang 2026 di Jakarta, master ahli ortopedi dan traumatologi Dohar menyoroti sejumlah mitos nan tetap berkembang di masyarakat mengenai kesehatan tulang dan sendi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu nan paling sering ditemui adalah kepercayaan bahwa nyeri dapat diselesaikan hanya dengan mengonsumsi obat pereda rasa sakit. Padahal menurut dia, pendekatan tersebut tidak selalu tepat lantaran sumber nyeri bisa sangat beragam.
"Sering kali pasien berambisi solusi nan sederhana dan cepat, padahal setelah diperiksa rupanya masalahnya cukup kompleks dan memerlukan tindakan nan lebih lanjut, termasuk operasi," ujarnya dalam keterangan.
Ia menjelaskan, nyeri punggung bawah misalnya, dapat dipicu oleh beragam kondisi, mulai dari gangguan otot hingga masalah pada struktur tulang belakang. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh menjadi langkah krusial untuk menemukan akar penyebab keluhan sebelum menentukan terapi nan paling sesuai.
Tanpa pemeriksaan nan tepat, pengobatan berisiko hanya meredakan indikasi sementara tanpa menyelesaikan masalah utama.
Lansia tidak boleh berakhir bergerak
Mitos lain nan tetap banyak dipercaya adalah dugaan bahwa orang lanjut usia sebaiknya mengurangi alias apalagi menghindari aktivitas bentuk demi mencegah cedera dan memperburuk kondisi tubuh.
Dokter ahli kedokteran olahraga Henry Suhendra justru menilai pandangan tersebut dapat membawa akibat negatif bagi kesehatan. Kurangnya aktivitas bentuk dapat mempercepat terjadinya sarcopenia, ialah penurunan massa dan kekuatan otot nan umum terjadi seiring bertambahnya usia.
Menurut Henry, tubuh tetap memerlukan aktivitas fisik, baik berupa latihan kardio maupun latihan penguatan otot, pada setiap tahap kehidupan.
"Orang pada usia berapa pun tetap memerlukan latihan kardio dan latihan penguatan otot. Kalau tidak bergerak, beragam masalah kesehatan bakal lebih mudah muncul," kata Henry.
Aktivitas bentuk nan dilakukan secara teratur tidak hanya membantu menjaga kekuatan otot, tetapi juga mendukung kesehatan tulang, keseimbangan tubuh, serta keahlian menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Meski demikian, jenis olahraga dan intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Bagi mereka nan berumur di atas 50 tahun dan mau mulai melakukan latihan beban, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan, terutama jika mempunyai riwayat gangguan sendi alias pengapuran.
"Latihan dimulai secara berjenjang dengan peningkatan beban nan disesuaikan keahlian tubuh. Pendekatan ini membantu mengurangi akibat cedera sekaligus memberikan faedah nan optimal bagi kesehatan otot dan tulang," kata dia.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·