Kalteng Alami Inflasi 3,66 Persen, Ini Komoditas Pemicunya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Inflasi Kalimantan Tengah pada April 2026 mencapai 3,66 persen secara tahunan (year-on-year). Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng mencatat, kenaikan nilai dipicu sejumlah komoditas utama, terutama beras dan pikulan udara.

Secara bulanan (month-to-month), inflasi Kalteng tercatat 0,41 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,51 menjadi 111,97. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dalam kenaikan harga.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil terbesar terhadap inflasi bulanan, ialah 0,15 persen,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, M. Taufiqurraman, Senin (4/5/2026).

Ia menyebut, komoditas utama penyumbang inflasi bulanan antara lain beras sebesar 0,10 persen. Disusul pikulan udara, bawang merah, tomat, dan minyak goreng nan masing-masing menyumbang 0,05 persen.

Sementara itu, inflasi tahun almanak (year-to-date) hingga April 2026 mencapai 1,81 persen. Untuk inflasi tahunan, golongan makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,11 persen.

“Komoditas dominan penyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, beras, daging ayam ras, ikan nila, dan sigaret kretek mesin,” jelasnya.

BPS juga mencatat seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Tengah mengalami inflasi pada April 2026.

Electronic money exchangers listing

Menurut Taufiqurraman, kenaikan nilai dipengaruhi kondisi geopolitik dunia dan berkurangnya stok beras lantaran belum memasuki masa panen.

Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada April 2026 tercatat 139,43 alias naik 1,22 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Indeks nilai nan diterima petani naik 1,86 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks nilai nan dibayar petani sebesar 0,62 persen,” ujarnya.

Kenaikan NTP terjadi pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, dan peternakan. Sementara itu, subsektor perikanan tangkap turun tipis 0,02 persen.

“Kenaikan dipengaruhi naiknya nilai komoditas seperti karet, kelapa sawit, cabe rawit, sapi potong, gabah, dan tomat,” tutupnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Inflasi Kalimantan Tengah pada April 2026 mencapai 3,66 persen secara tahunan (year-on-year). Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng mencatat, kenaikan nilai dipicu sejumlah komoditas utama, terutama beras dan pikulan udara.

Secara bulanan (month-to-month), inflasi Kalteng tercatat 0,41 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,51 menjadi 111,97. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dalam kenaikan harga.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil terbesar terhadap inflasi bulanan, ialah 0,15 persen,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, M. Taufiqurraman, Senin (4/5/2026).

Electronic money exchangers listing

Ia menyebut, komoditas utama penyumbang inflasi bulanan antara lain beras sebesar 0,10 persen. Disusul pikulan udara, bawang merah, tomat, dan minyak goreng nan masing-masing menyumbang 0,05 persen.

Sementara itu, inflasi tahun almanak (year-to-date) hingga April 2026 mencapai 1,81 persen. Untuk inflasi tahunan, golongan makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,11 persen.

“Komoditas dominan penyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, beras, daging ayam ras, ikan nila, dan sigaret kretek mesin,” jelasnya.

BPS juga mencatat seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Tengah mengalami inflasi pada April 2026.

Menurut Taufiqurraman, kenaikan nilai dipengaruhi kondisi geopolitik dunia dan berkurangnya stok beras lantaran belum memasuki masa panen.

Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada April 2026 tercatat 139,43 alias naik 1,22 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Indeks nilai nan diterima petani naik 1,86 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks nilai nan dibayar petani sebesar 0,62 persen,” ujarnya.

Kenaikan NTP terjadi pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, dan peternakan. Sementara itu, subsektor perikanan tangkap turun tipis 0,02 persen.

“Kenaikan dipengaruhi naiknya nilai komoditas seperti karet, kelapa sawit, cabe rawit, sapi potong, gabah, dan tomat,” tutupnya. (adr)

Sumber prokalteng