Jamur 'makan Emas' Ditemukan, Berpotensi Dipakai Nambang Di Luar Angkasa

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Sebuah jamur unik rupanya bisa 'memakan' emas. Temuan ini tak hanya mengubah pemahaman ilmuwan, tetapi juga membuka kesempatan baru untuk industri pertambangan, apalagi hingga ke luar angkasa.

Para peneliti dari lembaga riset nasional Australia, CSIRO, menemukan bahwa jamur tanah berjulukan Fusarium oxysporum bisa berinteraksi dengan emas. Padahal, jenis logam tersebut selama ini dikenal sangat susah bereaksi secara kimia.

Dalam penelitian tersebut, jamur ini bisa melarutkan partikel emas di lingkungannya, lampau mengubahnya kembali menjadi corak padat nan menempel pada tubuhnya. "Emas sangat tidak reaktif secara kimia, jadi hubungan ini tidak biasa dan mengejutkan," ujar Dr. Tsing Bohu, peneliti utama dari CSIRO, dikutip dari The Daily Galaxy,

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses ini terjadi dalam dua tahap. Pertama, jamur mengoksidasi dan melarutkan emas dari lingkungan sekitar. Setelah itu, emas tersebut diendapkan kembali menjadi partikel padat nan menempel pada struktur seperti benang milik jamur.

Yang lebih menarik, jamur nan berinteraksi dengan emas justru tumbuh lebih besar dan menyebar lebih sigap dibanding nan tidak. Temuan ini menjadi bukti pertama bahwa jamur bisa berkedudukan dalam 'siklus emas' di alam. Artinya, organisme hidup rupanya bisa memengaruhi pergerakan logam berbobot di kerak Bumi.

Dari sisi industri, penemuan ini langsung menarik perhatian sektor pertambangan. Alih-alih digunakan untuk mengekstrak emas secara langsung, jamur ini berpotensi menjadi penunjuk alami letak emas di bawah tanah. Dengan mendeteksi keberadaan jamur tertentu di tanah, para geolog bisa mengidentifikasi area nan mempunyai potensi kandungan emas tanpa kudu melakukan pengeboran besar-besaran.

Yang paling menarik lagi adalah kemungkinan penggunaannya di luar Bumi. Sejumlah peneliti mulai mempertimbangkan konsep biomining, ialah pemanfaatan mikroorganisme untuk mengekstraksi logam di lingkungan ekstrem seperti asteroid.

Dalam kondisi luar angkasa nan minim gravitasi dan susah dijangkau perangkat berat, organisme seperti jamur dinilai lebih efisien dan irit energi. Konsep ini apalagi mulai dilirik sebagai solusi masa depan untuk eksplorasi sumber daya di luar Bumi.

Meski tetap dalam tahap penelitian awal, potensi jamur ini sangat besar. Dari membantu menemukan persediaan emas di Bumi hingga kemungkinan digunakan untuk menambang di asteroid, keahlian biologis ini membuka babak baru dalam bumi sains dan teknologi.


(rns/rns)

Sumber detik-inet