Kenapa Masih Sering Hujan Padahal Mei Sudah Masuk Kemarau?

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Musim kemarau sudah semakin meluas, tetapi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat tetap berpotensi terjadi. Simak penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut potensi berikut ini.

Data terbaru BMKG menunjukkan saat ini sekitar 12,8 persen alias 90 area musim (ZOM) telah masuk musim kemarau.

"Berdasarkan jumlah ZOM, sebanyak 12,8 persen wilayah Indonesia (90 ZOM) mengalami Musim Kemarau," tulis BMKG di Instagramnya, Minggu (3/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wilayah nan sedang mengalami musim tandus meliputi sebagian mini Aceh, sebagian mini Sumatera Utara, sebagian mini Riau, sebagian Kep. Riau, sebagian mini Banten, dan sebagian Jakarta.

Selain itu, sebagian mini Jawa Barat, sebagian mini Jawa Tengah, sebagian mini Jawa Timur, sebagian mini Bali, sebagian NTB, sebagian NTT, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, dan sebagian Maluku juga sudah masuk musim kemarau.

Hingga awal Mei, BMKG mengungkap potensi cuaca panas terik di siang hari di beberapa wilayah. Namun, cuaca terik tersebut bisa disertai hujan mengguyur di sore hingga malam hari.

BMKG mengatakan kondisi tersebut merupakan karakter peralihan musim.

"Pola peralihan musim ini ditandai oleh perbedaan suhu udara nan cukup signifikan antara pagi dan siang hari. Pada pagi hingga siang hari, proses konveksi nan tinggi akibat intensitas radiasi mentari bakal memicu pembentukan hujan lokal pada sore hingga malam hari," kata BMKG dalam Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 28 April-4 Mei.

Menurut BMKG, hujan nan terjadi umumnya tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat dan lama nan singkat, serta berpotensi disertai kilat dan angin kencang.

Dikarenakan adanya perpaduan radiasi mentari nan tinggi dan kelembaban udara nan juga cukup tinggi, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi suhu udara nan relatif panas pada pagi hingga siang hari, serta cuaca signifikan nan dapat terjadi pada sore hingga malam hari.

Sebelumnya, BMKG mencatat dalam beberapa waktu terakhir terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sangat di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 24-26 April.

Curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat terpantau di wilayah Papua Selatan (112.6 mm/hari), Nusa Tenggara Barat (70.5 mm/hari), Sumatra Barat (63.4 mm/hari), Bangka Belitung (63.1 mm/hari), Nusa Tenggara Timur (56.5 mm/hari), Papua Tengah (54.1 mm/hari), dan Sulawesi Selatan (50.4 mm/hari).

"Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) nan secara spasial berpengaruh di sebagian wilayah Indonesia," kata BMKG dalam keterangannya, Senin (27/4).

Kemudian, sirkulasi siklonik di perairan dan pesisir barat Sumatera dan Kalimantan Barat juga memicu terbentuknya wilayah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi nan meningkatkan kesempatan pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di sekitar wilayah nan terdampak pola angin tersebut.

Selain itu, pemanasan permukaan nan cukup hangat pada siang hari serta kelembaban udara nan tetap cukup basah di lapisan bawah turut mendukung terbentuknya awan-awan konvektif nan berpotensi menimbulkan hujan lokal dengan waktu singkat.

Meski hujan tetap turun di sebagian wilayah Indonesia, kondisi suhu nan panas dan terik juga dilaporkan di sejumlah wilayah.

Pada 3-4 Mei, wilayah Kalimantan dan Sulawesi mencatatkan suhu panas tertinggi di antaranya pantauan Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Bulungan, Kalimantan Utara mencatatkan suhu maksimum 36,6 derajat Celcius dan Stamet Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur nan mencatatkan suhu maksimum 36,4 derajat Celcius.

Pada posisi berikutnya, Stamet Mutiara Sis-Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah mencatatkan suhu maksimum harian 35,8 derajat Celcius.

(lom/fea)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-tekno