Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Donald Trump tampak frustrasi menghadapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu jelang penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Amerika Serikat dan Iran.
MoU tersebut bakal ditandatangani pada 19 Juni di Swiss. Nantinya, kesepakatan ini jadi kerangka untuk mengakhiri perang AS-Iran nan berjalan sejak akhir Februari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarahan Trump bukan tanpa alasan. Dia geram sekaligus cemas Iran menolak untuk menandatangani MoU lantaran Netanyahu terus menggempur Lebanon.
Penghentian serangan ke Lebanon termasuk dalam salah satu poin gencatan senjata AS-Iran nan disetujui pada April lalu.
Berikut deret ledakan kemarahan Trump ke Netanyahu.
Tak ada negara Israel
Pada Selasa (16/6), Trump mengatakan tak bakal ada negara Israel jika presiden AS bukan dia.
Politikus Republik itu sering sesumbar AS melakukan tindakan nan betul termasuk menggempur Iran dengan dalih mencegah keahlian nuklir mereka.
Program nuklir Iran juga dianggap rawan dan menakut-nakuti Israel serta area Timur Tengah.
"Tanpa saya, tidak bakal ada Israel lantaran tidak ada presiden lain nan bersedia melakukan apa nan sudah saya lakukan," kata Trump kepada awak media saat ditanya soal Netanyahu dikutip CNN.
Wanti-wanti soal Lebanon
Di kesempatan nan sama, Trump juga mewanti-wanti Netanyahu mengenai Lebanon.
"Saya punya hubungan nan sangat baik dengan Bibi (sapaan Netanyahu), tetapi sekarang Bibi kudu lebih bertanggung jawab mengenai Lebanon," kata dia.
Di tengah upaya tenteram AS-Iran, Netanyahu tetap menggempur habis-habisan Lebanon.
Iran sampai berulang kali mewanti-wanti jika serangan Israel ke Lebanon tak berhenti, mereka enggan negosiasi hingga meneken MoU itu.
Bandingkan Suriah lebih jago dari Israel
Trump sempat menyarankan ke Israel untuk menyerahkan milisi di Lebanon, Hizbullah, ke Suriah.
Dia menganggap Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa tahu betul langkah menghadapi Hizbullah.
"Dia [Al Sharaa] bukan anak pramuka, tetapi dia melakukan pekerjaan nan luar biasa dalam menyatukan negaranya, dan dia sangat memahami Hizbullah. Dia tidak menyukai mereka," kata Trump.
"Saya menyarankan kepada Israel agar membiarkan Suriah menangani Hizbullah, lantaran sejujurnya saya pikir mereka bisa melakukannya dengan lebih baik," imbuh dia.
Setop lebih banyak korban
Trump juga menilai Israel sudah terlalu lama bertempur melawan Hizbullah.
Konflik nan berkepanjangan, kata dia, menelan banyak korban jiwa.
"Anda (Israel) tak kudu merobohkan sebuah gedung apartemen setiap kali mencari seseorang, lantaran ada banyak orang di dalam gedung itu dan tidak semuanya adalah personil Hizbullah," ujar Trump.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·