Ebola Darurat Global! Angka Kematian Bisa Capai 90 Persen, Belum Ada Obat-vaksinnya

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara sekaligus eks Direktur Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan RI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menyoroti keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) nan menetapkan pandemi Ebola sebagai darurat kesehatan masyarakat dunia alias Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Menurut Prof Tjandra, ada tiga argumen utama kenapa WHO akhirnya menetapkan status tersebut pada 17 Mei 2026.

"Ketika saya menjadi Direktur Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan, istilah PHEIC saya terjemahkan sebagai 'Kedaruratan Kesehatan Masyarakat nan Meresahkan Dunia'," ujar Prof Tjandra dalam keterangannya, nan diterima detikcom Senin (18/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasan pertama, kata dia, pandemi Ebola saat ini tergolong kejadian luar biasa alias extraordinary. Hingga 16 Mei 2026, tercatat ada 8 kasus Ebola terkonfirmasi dan 246 kasus suspek di Republik Demokratik Kongo. Dari jumlah tersebut, dilaporkan pula 80 kematian suspek.

Selain itu, ditemukan kluster penyakit dengan indikasi nan sesuai dengan Bundibugyo virus disease (BVD), termasuk dugaan kematian pada empat tenaga kesehatan.

"Tingginya nomor kasus positif, ialah 8 kasus terkonfirmasi dari 13 nan diperiksa, serta terus bertambahnya laporan kasus dan kematian menunjukkan pandemi kali ini berpotensi lebih besar dari info resmi nan terlaporkan," jelasnya.

Alasan kedua, Ebola sekarang sudah menyebar lintas negara. Prof Tjandra menyebut Uganda telah melaporkan dua kasus terkonfirmasi, dengan satu pasien meninggal dunia.

"Jadi sudah ada penularan antarnegara, makanya disebut internasional," katanya.

Sementara argumen ketiga, pola penyebaran Ebola dinilai memerlukan koordinasi dan kerja sama global, terutama dalam penguatan surveilans, pencegahan, dan respons wabah.

Prof Tjandra juga mengingatkan Ebola mempunyai tingkat kematian nan sangat tinggi, ialah berkisar antara 25 hingga 90 persen.

Ia menjelaskan saat ini terdapat tiga jenis utama Ebola, ialah Ebola virus lantaran virus Zaire, Sudan virus, dan Bundibugyo virus nan sekarang menjadi penyebab pandemi di Kongo dan Uganda.

"Sejauh ini untuk Ebola lantaran Bundibugyo virus memang belum ada obat dan vaksin nan disetujui WHO," ujarnya.

Meski hingga sekarang Ebola belum pernah dilaporkan di Asia, Prof Tjandra menilai Indonesia tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan mengingat mobilitas masyarakat bumi nan semakin tinggi.

"Kasus Ebola utamanya memang ada di Afrika dan pernah dilaporkan di Eropa serta Amerika, tetapi belum pernah dilaporkan di Asia," pungkasnya.

(naf/naf)

Sumber detik-health