CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 21:01 WIB
Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 oleh Novo Nordisk dan Kementerian Kesehatan, Kamis (11/6) di Common Grounds Terra, Menteng. (CNN Indonesia/ Rhea Febriani)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perlemakan hati atau fatty liver disease menjadi salah satu penyakit tidak menular (PTM) nan mulai jadi perhatian pemerintah. Pasalnya, penyakit ini sering tidak disadari kemunculannya lantaran berkembang tanpa indikasi pada tahap awal.
Adapun obesitas menjadi salah satu pendorong utama perlemakan hati lantaran dapat menyebabkan gangguan metabolik dan penumpukan lemak di beragam organ, termasuk hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai corak antisipasi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, akibat gangguan hati bisa dideteksi lebih awal melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
"Deteksi gangguan hati di awal, kita itu melakukan juga pemeriksaan di CKG. Jadi, kita ambil darahnya, kemudian kita lakukan pemeriksaan untuk memandang risiko, apakah ada pengerasan hati alias pokoknya gangguan hati, deh," ujar Nadia dalam Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 nan digelar Novo Nordisk berbareng Kemenkes RI di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).
Nadia melanjutkan, CKG sebenarnya sudah cukup komplit untuk mendeteksi awal sejumlah PTM. Adapun nan disasar adalah orang sehat.
"Kita sebenarnya menyasar orang sehat, dan agar orang itu tetap sehat, agar dia tahu lebih dini, jika misalnya ada gangguan, ataupun ada kelainan-kelainan penyakit tadi," kata Nadia lagi.
Nadia menegaskan, perlemakan hati tidak boleh lagi dianggap sepele. Soalnya, kondisi tersebut berangkaian erat dengan sindrom metabolik nan dipicu antara lain oleh obesitas dan diabetes.
Terkait obesitas, berasas Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada masyarakat dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen, sedangkan obesitas sentral pada masyarakat usia ≥15 tahun mencapai 36,8 persen.
Adapun mengenai akibat penyakit hati, pada 2025 Kemenkes mencatat dari sekitar 179.000 orang dewasa dan lansia nan menjalani skrining akibat penyakit hati menggunakan APRI score, sekitar 55 persen terdeteksi mempunyai akibat gangguan hati.
Nadia menekankan, hasil ini merupakan skrining awal sehingga tetap perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
Tingginya temuan akibat gangguan hati memperlihatkan pentingnya penemuan awal di tengah tren gangguan metabolik nan terus naik.
Prevalensi glukosuria di Indonesia sendiri, kata Nadia, sudah mencapai 11 persen. Adapun jumlah obesitas juga terus meningkat dalam nyaris dua dasawarsa terakhir.
Oleh lantaran itu, Kemenkes mendorong masyarakat memanfaatkan CKG, agar aspek akibat dapat diketahui lebih sigap dan segera ditangani.
"Fatty liver itu bukan suatu penyakit nan bisa dianggap suatu yang, 'Ah biasa-biasa saja.' Jangan, lantaran rupanya mungkin ke depan fatty liver itu bakal menyebabkan gangguan nan berat, sama seperti jika kita sakit jantung, ataupun sakit stroke," kata Nadia.
Adapun pada 2026, pemerintah memprioritaskan penanganan empat masalah utama nan ditemukan melalui CKG, ialah diabetes, hipertensi, obesitas, dan gangguan lemak.
Nadia menegaskan, CKG tidak berakhir pada skrining, tetapi kudu bersambung hingga tatalaksana di akomodasi kesehatan tingkat pertama.
"Empat penyakit ini nan kita temukan di CKG, menjadi prioritas. Tapi ingat, CKG itu bukan skrining, dia kudu selesai sampai tatalaksana. Kita tahu jika kita ada masalah, kita kudu berobat, dan puskesmas kudu bisa kasih pengobatan," tutur Nadia.
(rti)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·