CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 20:46 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa tanda lingkungan kerja toxic nan perlu diketahui. (iStockphoto/pixdeluxe)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak semua lingkungan kerja nan tidak sehat mudah dikenali. Ada kalanya masalah bukan berasal dari pekerjaan nan menumpuk, melainkan budaya kerja nan membikin tenaga kerja merasa tertekan, tidak nyaman, alias terus-menerus berada dalam tekanan psikologis.
Kondisi ini sering dikenal sebagai lingkungan kerja toxic. Jika berjalan dalam jangka panjang, dampaknya tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga kesehatan mental dan bentuk pekerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, seperti apa tanda-tandanya? Berikut tujuh karakter lingkungan kerja toxic nan paling sering ditemukan dalam beragam penelitian.
1. Bullying dan perilaku merendahkan dianggap biasa
Mengutip studi nan dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH), lingkungan kerja toxic ditandai oleh pelecehan, perundungan, dan pengucilan sosial nan berakibat pada meningkatnya stres serta menurunnya kesejahteraan karyawan.
Bentuknya tidak selalu terang-terangan. Sindiran di depan rekan kerja, mempermalukan bawahan saat rapat, hingga sengaja mengucilkan seseorang dari golongan juga termasuk dalam kategori ini.
2. Budaya rumor dan saling menyalahkan
Lingkungan kerja sehat mendorong kolaborasi. Sebaliknya, lingkungan kerja toxic sering diwarnai budaya saling menjatuhkan, gosip, dan minim support antarkaryawan.
Kondisi ini membikin tenaga kerja takut melakukan kesalahan, enggan berbincang terbuka, dan lebih konsentrasi melindungi diri sendiri daripada bekerja sama dalam tim.
3. Atasan terlalu otoriter
Studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berjudul Toxic Work Environment Among Cross-Generational Employees menyebut, kepemimpinan nan jelek dan budaya ketakutan (culture of fear) menjadi salah satu aspek utama munculnya lingkungan kerja nan toxic.
Dalam situasi seperti ini, tenaga kerja condong takut menyampaikan pendapat, enggan memberi masukan, alias cemas melakukan kesalahan sekecil apa pun.
4. Komunikasi tidak jelas dan tidak transparan
Melansir dari laporan Toxic Workplace Trends 2025 sebanyak 88,5 persen pekerja di lingkungan kerja toxic mengaku sering menerima pesan nan tidak konsisten dari pimpinan. Sementara 64,6 persen menyebut kurangnya transparansi sebagai masalah utama.
Kondisi ini membikin tenaga kerja kebingungan menentukan prioritas dan meningkatkan akibat bentrok di tempat kerja.
5. Burnout dianggap perihal nan normal
Lembur terus-menerus, pekerjaan menumpuk, dan kelelahan kronis sering dianggap wajar di sejumlah perusahaan. Padahal, beban kerja berlebihan tanpa support nan memadai merupakan salah satu tanda lingkungan kerja tidak sehat.
Jika kelelahan dianggap normal, tenaga kerja rentan mengalami stres berkepanjangan, kelelahan emosional, hingga penurunan produktivitas.
6. Minim apresiasi
Apresiasi tidak selalu berbentuk bingkisan alias kenaikan gaji. Ucapan terima kasih, pengakuan atas kontribusi, dan penghargaan terhadap hasil kerja juga krusial bagi kesejahteraan psikologis karyawan.
Dalam lingkungan kerja nan toxic, kontribusi tenaga kerja sering dianggap sebagai sesuatu nan sudah sewajarnya dilakukan sehingga jarang mendapatkan pengakuan.
7. Banyak tenaga kerja mau resign
Tingginya nomor tenaga kerja nan resign, sering dianggap sebagai salah satu tanda paling jelas adanya masalah dalam budaya kerja.
Jika banyak tenaga kerja keluar dalam waktu berdekatan dengan argumen nan serupa, seperti stres, konflik, alias ketidaknyamanan di tempat kerja, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal lingkungan kerja nan tidak sehat.
Lingkungan kerja nan toxic tidak selalu tampak dari luar. Kantor dengan akomodasi lengkap, penghasilan kompetitif, alias gambaran perusahaan nan baik pun bisa mempunyai budaya kerja nan tidak sehat.
Jika sebagian besar tanda di atas terus-menerus muncul dan memengaruhi kesehatan bentuk maupun mental, bisa jadi masalahnya bukan pada pekerjaan nan berat, melainkan lingkungan kerja nan memang tidak sehat.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·