CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Beberapa kebiasaan orang tua justru bikin anak kehilangan rasa percaya diri. (Istockphoto/ Fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepercayaan diri merupakan salah satu fondasi krusial dalam tumbuh kembang anak. Anak nan mempunyai rasa percaya diri nan sehat condong lebih berani mencoba perihal baru, bisa menghadapi tantangan, serta mempunyai kepercayaan terhadap keahlian dirinya sendiri.
Sebaliknya, rendahnya rasa percaya diri dapat membikin anak mudah menyerah, takut gagal, dan ragu dalam mengambil keputusan. nan sering tidak disadari, rasa tidak percaya diri pada anak terkadang muncul dari kebiasaan orang tua nan sebenarnya dilakukan dengan niat baik.
Orang tua tentu mau memberikan nan terbaik bagi buah hati. Namun, dalam praktiknya, beberapa pola komunikasi dan perilaku tertentu justru bisa mengikis nilai diri anak secara perlahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut sejumlah kebiasaan orang tua nan dapat membikin anak tidak percaya diri, melansir Psychology Today:
1. Terlalu sering mengkritik dengan keras
Memberikan masukan kepada anak memang penting. Namun, kritik nan disampaikan dengan nada keras, merendahkan, alias mempermalukan dapat meninggalkan akibat emosional nan mendalam.
Ketika anak terus-menerus mendengar komentar negatif tentang dirinya, mereka bisa mulai meragukan keahlian dan nilai dirinya sendiri. Akibatnya, anak menjadi takut melakukan kesalahan, enggan mencoba perihal baru, dan kehilangan motivasi untuk berkembang.
Alih-alih mengkritik pribadi anak, fokuslah pada perilaku nan perlu diperbaiki. Gunakan bahasa nan membangun agar anak memahami kesalahannya tanpa merasa direndahkan.
2. Terlalu melindungi anak
Banyak orang tua berupaya melindungi anak dari segala corak kesulitan. Sayangnya, sikap nan terlalu protektif justru dapat menghalang perkembangan rasa percaya diri.
Ketika anak selalu dibantu dan dijauhkan dari tantangan, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah sendiri. Padahal, keberhasilan menghadapi tantangan mini merupakan salah satu langkah terbaik untuk membangun kepercayaan diri.
Anak nan terlalu dilindungi juga berisiko merasa resah saat kudu menghadapi situasi baru tanpa support orang tua. Mereka dapat tumbuh menjadi pribadi nan kurang berdikari dan selalu berjuntai pada orang lain.
Karena itu, krusial bagi orang tua untuk menemukan keseimbangan antara melindungi dan memberi ruang bagi anak untuk belajar dari pengalaman.
3. Membuat anak merasa bersalah
Mengajarkan empati kepada anak merupakan perihal nan baik. Namun, berbeda halnya jika orang tua sering menggunakan rasa bersalah sebagai perangkat untuk mengendalikan perilaku anak.
Misalnya, dengan mengatakan bahwa anak telah mengecewakan orang tua alias membikin orang tua sedih setiap kali melakukan kesalahan. Kalimat seperti ini dapat membikin anak merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain secara berlebihan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi nilai diri anak dan membikin mereka susah mengekspresikan emosi alias kebutuhan pribadinya.
Daripada menanamkan rasa bersalah, orang tua sebaiknya membantu anak memahami akibat dari tindakannya dan mengajarkan tanggung jawab dengan langkah nan sehat.
4. Sering berbincang dengan nada sarkastis
Sarkasme mungkin terdengar seperti candaan bagi orang dewasa. Namun, bagi anak, ucapan bersuara menyindir alias mengejek dapat terasa menyakitkan dan memalukan.
Contohnya, ketika anak melakukan kesalahan lampau orang tua berkata, "Wah, pandai sekali sampai begini hasilnya." Meski dimaksudkan sebagai sindiran, anak bisa menangkap pesan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Komunikasi nan penuh sindiran dapat merusak hubungan antara orang tua dan anak. Selain itu, anak menjadi lebih susah terbuka lantaran takut dihakimi alias diejek.
Jika sedang merasa kesal, cobalah menyampaikan emosi secara langsung dan jelas tanpa menggunakan sarkasme. Komunikasi nan hangat dan penuh penghargaan bakal membantu anak merasa kondusif serta dihargai.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·