CNN Indonesia
Rabu, 27 Mei 2026 20:10 WIB
Ilustrasi. Tren perjalanan dunia bergeser signifikan pada 2026, ditandai dengan lonjakan ketenaran astrotourism alias wisata astronomi. (Vincentiu Solomon)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tren perjalanan dunia bergeser secara signifikan pada 2026, ditandai dengan lonjakan ketenaran astrotourism atau wisata astronomi. Aktivitas nan dulu dianggap kegemaran kelas atas ini sekarang menjadi tren liburan utama.
Berdasarkan info nan diberitakan Far Out Magazine pada Senin (25/5), pencarian kata kunci destinasi langit gelap meningkat 40 persen antara 2022 hingga 2025.
Pemicu utamanya adalah hilangnya langit malam nan bersih bagi sebagian besar masyarakat bumi akibat penetrasi lampu buatan nan tumbuh 9,6 persen per tahun. Saat ini, lebih dari 80 persen populasi bumi hidup di bawah polusi cahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Eropa, hanya sekitar 15 persen penduduk nan bisa memandang galaksi Bima Sakti dari rumah mereka, sementara di Amerika Serikat angkanya berkisar di 20 persen.
Sehingga, alih-alih memadati pantai alias museum di kota besar, pelancong modern sekarang beramai-ramai memburu area dengan langit tergelap di beragam penjuru bumi demi menyaksikan keelokan bintang-bintang.
Destinasi wisata astronomi tersebar dari area gurun, seperti Chile hingga perkampungan terpencil di Afrika. Kawasan tersebut wajib memenuhi dua syarat mutlak, ialah langit nan cerah dan tingkat polusi sinar nan sangat rendah.
Karakteristik ini biasanya ditemukan pada wilayah dengan dataran tinggi alias beriklim kering guna memastikan pandangan ke angkasa tidak terganggu.
Gurun Atacama di Cile menjadi salah satu letak terbaik bumi lantaran kombinasi ketinggian dan kelembapan nan minim, bersanding dengan Gurun Namib di Namibia dan Wadi Rum di Yordania nan sekarang mulai dipadati penginapan mewah.
Selain gurun, gunung berapi mati, seperti Mauna Kea di Hawaii, serta pulau-pulau mini berpenduduk jarang juga menjadi incaran.
Maladewa dan Cagar Langit Gelap Aoraki Mackenzie di Selandia Baru apalagi telah menjadi standar emas industri ini.
Wilayah Selandia Baru tersebut telah menerapkan pembatasan lampu nan ketat sejak dasawarsa 1980-an, menjadikannya situs krusial bagi wisatawan, ilmuwan, hingga suku lokal Maori.
Bahkan di negara padat polusi sinar seperti Inggris dan Amerika Serikat, area lindung seperti Brecon Beacons dan taman nasional di Utah tetap bisa menarik minat pencinta langit malam.
Nilai pasar wisata ini tercatat menembus nomor US$1 miliar pada 2025 dan diproyeksikan melonjak hingga tiga kali lipat dalam tujuh tahun ke depan.
Maraknya wisata ini juga berkelindan dengan tren pemulihan kesehatan mental serta detoks digital dari hiruk-pikuk gawai. Ironisnya, platform visual seperti IG justru menjadi motor utama nan mempopulerkan keelokan astrofotografi ke masyarakat luas.
Berpijak pada pariwisata berbasis pengalaman, kesempatan menyaksikan eklips mentari alias gugusan bintang telah bergeser menjadi pencapaian hidup nan prestisius bagi banyak orang.
Fenomena tersebut sekaligus menjadi refleksi kerinduan manusia modern untuk terhubung kembali dengan alam murni seperti nan disaksikan oleh para leluhur.
Namun, ketenaran wisata nan meroket ini membawa ancaman tersendiri. Lonjakan jumlah turis berisiko memicu pembangunan prasarana baru nan justru berpotensi merusak kegelapan langit malam di lokasi-lokasi terpencil tersebut.
Guna menjaga keseimbangan nan sensitif ini, sejumlah otoritas wisata di beragam negara mulai menerapkan izin ketat dan membatasi kuota kunjungan harian.
Pada akhirnya, meski astrotourism lahir sebagai respons atas kerusakan langit perkotaan, tren ini diharapkan bisa menjadi tembok terakhir untuk menyelamatkan tempat-tempat tersisa nan tetap mempunyai langit malam nan sempurna.
(chri)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·