Jakarta -
Pemerintah Inggris mendesak para pelaku upaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap strategi peretasan golongan nan terafiliasi dengan China. Para peretas ini diketahui makin sering memanfaatkan perangkat elektronik sehari-hari untuk melakukan spionase.
Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) berbareng badan intelijen dari sembilan negara lain mengeluarkan peringatan keras mengenai perihal ini. Mereka mendeteksi adanya upaya berkepanjangan dari golongan nan disokong Beijing untuk meretas peralatan seperti router WiFi guna melancarkan serangan siber.
Dikenal sebagai botnet, golongan ini biasanya mengincar perangkat nan rentan. Contohnya adalah perangkat nan sudah usang alias nan belum mendapatkan pembaruan perangkat lunak (software update), untuk kemudian dijadikan pedoman aktivitas pengawasan dan pencurian data.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Eksekutif NCSC, Richard Horne, menyebut bahwa strategi ini sekarang digunakan oleh kebanyakan peretas nan mengenai dengan China. Menurutnya, pemasok intelijen dan militer China sekarang mempunyai tingkat kecanggihan nan sangat mengerikan dalam operasi siber mereka.
"Kita tidak lagi sekadar menghadapi ancaman siber nan mumpuni, tetapi sesama pesaing sejajar di bumi maya," ujar Horne dalam konvensi tahunan NCSC di Glasgow.
Pergeseran Taktik Serangan
Himbauan berbareng dari NCSC dan beragam lembaga siber dunia, termasuk dari AS, Australia, Kanada, dan Jerman, memperingatkan adanya pergeseran besar dalam strategi China. Mereka sekarang menggunakan perangkat nan terhubung ke internet (Internet of Things/IoT) untuk menyamarkan dari mana asal serangan tersebut.
Perangkat nan paling sering dibajak adalah router jaringan, namun perangkat lain seperti printer dan kamera web (webcam) juga sama rentannya.
Pejabat keamanan menganalogikan kegunaan router bajakan ini layaknya Virtual Private Network (VPN) nan memungkinkan peretas menyembunyikan letak original mereka. Menariknya, router WiFi rumahan biasa bisa disalahgunakan sebagai saluran perantara untuk menyerang perusahaan besar nan sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemilik router.
Langkah Mitigasi
Meskipun pedoman NCSC ini tidak ditujukan langsung bagi masyarakat umum nan mungkin tanpa sadar menyediakan "batu loncatan" untuk spionase, NCSC mendesak perusahaan dan organisasi untuk mengambil sejumlah langkah pencegahan, di antaranya:
- Memetakan seluruh sistem TI mereka, termasuk hubungan ke jaringan broadband konsumen.
- Menerapkan autentikasi multifaktor (MFA) bagi staf nan mencoba mengakses sistem perusahaan secara jarak jauh.
- Membatasi hubungan jaringan ke perangkat keras eksternal.
Dalam himbauan nan diterbitkan pada Kamis (23/4/2026), NCSC meyakini bahwa jaringan rahasia ini terus diperbarui dan satu jaringan bisa digunakan oleh banyak tokoh kejahatan sekaligus. Jaringan tersebut kebanyakan terdiri dari router instansi mini alias rumahan (SOHO), serta perangkat pandai lainnya.
Sebelumnya, badan intelijen Barat juga telah menyoroti golongan peretas nan disokong China berjulukan Volt Typhoon. Kelompok ini diketahui telah menyusup diam-diam ke prasarana krusial AS, termasuk sistem kereta api, penerbangan, dan pengairan.
NCSC menyebut jaringan botnet ini sekarang dibangun dan dipelihara oleh perusahaan swasta China. Dalam satu contoh kasus, sebuah upaya di China apalagi sukses membikin jaringan rahasia dengan menginfeksi 200.000 perangkat di seluruh dunia.
Tahun ini, Google juga mengumumkan telah sukses mengusik jaringan "proxy perumahan", di mana golongan kejahatan siber dan tokoh negara memanfaatkan perangkat rumah tangga nan diretas untuk melancarkan serangannya, demikian dikutip detikINET dari The Guardian, Jumat (24/4/2026).
(asj/afr)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·