Jepang Bikin Drone Dari Kardus, Bisa Buat Militer?

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Konflik nan terjadi di Ukraina dan Iran memberikan satu pelajaran krusial bagi militer modern. Drone murah sekali pakai nan diproduksi massal bisa mempunyai nilai strategis nan setara dengan senjata presisi mahal.

Kini, sebuah startup asal Jepang mendorong logika tersebut lebih jauh dengan mengganti rangka pesawat menjadi material nan jauh lebih sederhana, ialah kardus.

Kementerian Pertahanan Jepang dilaporkan baru saja mengadakan pertemuan dengan Air Kamuy, produsen drone nan rancangan utamanya mengandalkan bangunan kardus bergelombang (corrugated cardboard).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan ini mengisyaratkan ambisi besar Tokyo untuk mengambil peran pemimpin dalam produksi drone berbiaya rendah, di tengah pergeseran kalkulasi strategi perang modern nan sekarang sangat dipengaruhi oleh model-model drone produksi massal.

Fokus utama kementerian tertuju pada AirKamuy 150, sebuah drone bersayap tetap (fixed-wing) multiperan. Konsepnya sering disandingkan dengan drone Lucas buatan Amerika Serikat dan Shahed dari Iran, dua model nan telah membuktikan ketangguhannya di medan tempur. Bedanya, AirKamuy 150 jauh lebih mudah untuk dirakit dan dioperasikan.

Murah dan Cepat Dirakit

Daya tarik utama dari drone bunuh diri seperti Shahed dan Lucas terletak pada efisiensi biayanya. Seperti diketahui, Lucas adalah hasil reverse engineering terhadap Shahed. Drone jenis ini bisa diluncurkan secara berkali-kali dengan nilai nan hanyalah sebagian mini dari nilai rudal canggih seperti Tomahawk.

AirKamuy 150 membawa efisiensi biaya tersebut ke level ekstrem. Jika satu unit drone Lucas menyantap biaya pembuatan sekitar USD 10.000 (sekitar Rp 162 jutaan), drone kardus milik Air Kamuy hanya menelan biaya maksimal USD 3.000 (sekitar Rp 48 jutaan) per unit. Bodinya nan sangat ringan juga membikin drone ini bisa melaju lebih sigap dengan kecepatan maksimal 74 mph (sekitar 119 km/jam), mengalahkan Lucas nan berada di nomor 63 mph.

Dari sisi manufaktur, keunggulannya tidak kalah menggiurkan. Perakitan bodi drone ini hanya memerlukan waktu sekitar lima menit menggunakan tangan kosong, tanpa memerlukan akomodasi khusus. Secara teori, perusahaan mana pun nan mempunyai akses ke stok kardus standar bisa memproduksinya. Rangka pesawatnya juga bisa dilipat hingga rata (flat), nan sangat menyederhanakan proses transportasi dan logistik di lapangan tempur.

Ancaman Taktik Swarm dan Kelemahannya

Sejauh ini, Air Kamuy memosisikan produknya untuk keperluan latihan sasaran tempur, pengujian, serta aplikasi sipil seperti pengiriman paket darurat. Namun, keterlibatan Kementerian Pertahanan Jepang jelas mengisyaratkan potensi arah pengembangan ke ranah militer.

Mengingat drone bunuh diri pada dasarnya tidak memerlukan pelindung baja nan tebal, penggunaan kardus sekali pakai dinilai sangat masuk akal. Perusahaan apalagi mengiklankan keahlian 'serangan kawanan' (swarm attacks) sebagai salah satu potensi penggunaan utamanya.

Meski konsepnya terdengar mematikan, AirKamuy 150 mempunyai satu kelemahan krusial: jarak tempuh. Berbeda dengan Lucas nan ditenagai mesin bensin konvensional dan bisa terbang hingga 512 mil (823 km), AirKamuy 150 menggunakan tenaga listrik murni. Baterainya hanya sanggup memperkuat untuk waktu penerbangan sekitar 80 menit, sehingga membatasi jangkauan operasionalnya hanya untuk misi jarak pendek.

Terlepas dari kelemahan tersebut, penemuan kreasi drone kardus ini patut diawasi perkembangannya. Seiring dengan makin canggihnya AI nan melangkah secara otonom, perangkat lunak swarm dapat memungkinkan sekawanan besar drone bergerak serempak untuk membebani dan menjebol sistem pertahanan udara.

Jika material semurah kardus bisa menurunkan halangan produksi, hitung-hitungan strategi pertahanan militer bumi tampaknya kudu segera diubah, demikian dikutip detikINET dari TechSpot, Senin (4/5/2026).


(asj/fay)



Sumber detik-inet