Warga Ri Makin Doyan Pakai Paylater, Yang Macet Banyak

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta -

PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi jasa Buy Now Pay Later (BNPL) alias PayLater. Namun di kembali lonjakan tersebut, akibat angsuran macet juga terpantau meningkat seiring ekspansi penggunaan jasa ini.

IdScore mencatat pertumbuhan PayLater sebesar 86,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026. Pertumbuhan ini disebut naik melampaui nomor angsuran konsumtif konvensional.

Akam tetapi, rasio angsuran macet (non-performing loan/NPL) PayLater tetap tercatat tinggi di atas 5% pada periode nan sama. Adapun pertumbuhan jasa PayLeter paling tinggi dari industri peer-to-peer (P2P) lending alias pinjaman daring (pindar), ialah sebesar 153,49% yoy dengan outstanding sebesar Rp 16,9 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di posisi kedua, pertumbuhan PayLater dari bank digital sebesar 37,12% yoy dengan outstanding sebesar Rp 16,2 triliun. Kemudian untuk bank umum mencatat pertumbuhan PayLater sebesar 6,81% yoy dengan outstanding sebesar Rp 18,9 triliun.

"Jadi growth-nya mereka itu 153% (pindar). Jaman saya waktu saya tetap aktif di P2P, itu angkanya sekitar setengahnya itu. Sekarang growth-nya sudah segitu, luar biasa banget. Dua kali lipat," jelas Direktur Utama Pefindo Biro Kredit, Tan Glant Saputrahadi, dalam aktivitas media gathering di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Kemudian berasas pengetahuan permukaan bumi wilayah, pengguna PayLater tetap terpusat di Pulau Jawa. Sementara dari demografi usia, pengguna jasa ini banyak digemari oleh generasi milenial sebesar 44,89% dan gen z sebesar 43,81%.

"Jadi jika untuk pengedaran PayLater, tetap terbesar itu ada di Jawa Barat," tuturnya

Glant menambahkan, sebaran NPL tertinggi untuk jasa PayLater berada di Aceh, ialah sebesar 14,53%. Di posisi selanjutnya Maluku Utara sebesar 7,34%, Papua Barat sebesar 7,21%, Maluku 6,40%, dan Sulawesi Utara sebesar 6,21%.

"Risikonya tetap paling tinggi, minta maaf, paling tinggi di Aceh, NPL-nya 14,5%," jelasnya.

(ahi/hns)

Sumber finance