Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengamuk usai Senat nan kebanyakan diduduki politikus partainya, Republik, malah mendukung resolusi Dewan Perwakilan untuk memaksanya menghentikan perang di Iran.
Dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (23/6), Trump menganggap usahanya untuk membikin Iran takhluk terhadap AS untuk pertama kalinya malah dirusak dengan voting War Powers Act nan membatasi kewenangannya soal perang di Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi begini, saya sudah membikin Iran berada di ujung tanduk, siap menyerah, bersedia memberikan nyaris apa pun nan kami minta, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, mereka betul-betul menghormati Amerika Serikat dan Presidennya, SAYA," ucap Trump.
"Namun, Senat Amerika Serikat justru memutuskan menggelar pemungutan bunyi mengenai War Powers Act nan tidak tepat waktu dan sama sekali tidak berarti. Pemungutan bunyi itu pada dasarnya memberi tahu negara sponsor terorisme nomor satu di bumi bahwa Amerika Serikat tidak menyukai apa nan sedang saya lakukan terhadap mereka dan bahwa saya kudu menghentikannya," paparnya.
Ucapan Trump itu muncul menyusul keputusan Senat mendukung resolusi kekuasaan perang nan telah disahkan DPR bulan ini dengan bunyi 50-48.
Keputusan ini mencerminkan kekhawatiran Kongres termasuk personil Partai Republik tentang perang di Iran.
Ini merupakan pertama kali dua bilik di Kongres mengesahkan resolusi nan mengarahkan Presiden AS untuk menarik pasukan militernya dari perang sejak Resolusi Kekuasaan Perang, nan lebih dikenal sebagai Undang-Undang Kekuasaan Perang, diberlakukan pada tahun 1973.
Meski hanya berkarakter simbolis, pemungutan bunyi tersebut merupakan kemunduran bagi Trump. Selama ini dia selalu mendapat support dari personil Partai Republik di Kongres.
Dalam unggahannya, Trump turut mengolok-olok enam politikus Partai Republik nan dicapnya "membelot" lantaran mendukung resolusi DPR AS tersebut.
"Dengan melakukan perihal tersebut, mereka justru memberikan support dan support kepada musuh. Empat personil Partai Republik nan pecundang memilih berasosiasi dengan para Demokrat, dan Iran apalagi bertanya kepada tim saya, 'Apa makna semua ini?'" papar Trump.
"Para senator tersebut baru saja membikin pekerjaan saya menjadi lebih sulit. Namun saya bakal tetap menyelesaikannya, dengan langkah apa pun, lantaran saya selalu sukses menyelesaikan apa nan saya mulai!" katanya menambahkan.
Partai Republik merupakan kebanyakan di Kongres, tapi jumlahnya banget tipis dibandingkan Demokrat. Meski demikian, beberapa di antara personil Partai Republik mulai bersikap bertentangan dengan Trump mengenai perang di Iran.
Beberapa personil Partai Republik baru-baru ini menolak biaya "anti-persenjataan" Trump sebesar US$1,8 miliar untuk memberikan kompensasi kepada sekutu politik nan menurutnya telah menjadi sasaran otoritas federal dan menunda RUU senilai US$70 miliar untuk mendanai operasi imigrasi nan dilakukannya.
Selain itu, hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos nan dirilis pada Selasa menunjukkan bahwa hanya satu dari empat penduduk Amerika nan percaya bahwa perang melawan Iran sepadan dengan biayanya, dan kebanyakan cemas bahwa gencatan senjata dengan Teheran kemungkinan tidak bakal memperkuat lama.
Pemungutan bunyi di Senat sebagian besar sesuai dengan garis partai, dengan empat personil Partai Republik berasosiasi dengan semua selain satu personil Partai Demokrat nan mendukung. Dua senator Partai Republik tidak memberikan suara.
Dalam sebuah unggahan pada Selasa malam, Trump mengkritik pemungutan bunyi tersebut, menyebutnya "tidak tepat waktu dan tidak berarti" dan menuduh mereka nan memberikan bunyi mendukung memberikan "dukungan" kepada Iran dan membikin pekerjaannya "lebih sulit".
(bac)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·