Jakarta -
Thylacine atau Harimau Tasmania dikatakan punah pada 1936. Sangat disayangkan apalagi hewan ini mempunyai karakter unik. Bentuk kepalanya mirip serigala, badannya bergaris layaknya harimau, dan punya kantong seperti kanguru, nan pasti dia termasuk golongan hewan marsupial.
Spesies ini dulunya ditemukan di seluruh Australia, serta Papua Nugini, hingga punah dari daratan utama sekitar 3.600-3.200 tahun nan lalu. Tidak diketahui pasti kenapa perihal ini dapat terjadi, tetapi salah satu teori menyatakan bahwa mereka kalah bersaing dengan kehadiran dingo (anjing liar Australia).
Untungnya, populasi tersebut terisolasi di pulau Tasmania, Australia, di mana mereka sukses memperkuat hidup selama ribuan tahun lagi. Tekanan baru muncul pada era kolonisasi Eropa, saat pertanian dan perburuan berlebihan mendorong jenis ini ke dalam kesulitan nan parah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para petani memusuhinya lantaran thylacine dianggap mengincar ternak mereka, apalagi thylacine sempat menjadi sasaran pembunuhan massal nan disponsori pemerintah pada tahun 1880-an.
Terlepas dari ancaman-ancaman ini, mereka memperkuat hidup di alam liar setidaknya hingga tahun 1930-an. Beberapa pemodelan komputer, berasas serangkaian penampakan nan diduga terjadi kemudian, menunjukkan bahwa thylacine mungkin sebenarnya telah punah antara tahun 1940-an dan 1970-an, alias mungkin paling lambat tahun 1980-an hingga 2000-an, dengan populasi nan tersisa berlindung di wilayah terpencil Tasmania.
Thylacine terakhir di dunia?
Kisah nan paling banyak dipercaya orang adalah thylacine terakhir (Thylacinus cynocephalus) meninggal di Kebun Binatang Beaumaris di Hobart pada tanggal 7 September 1936, hanya dua bulan setelah jenis tersebut diberi status dilindungi.
Sering dikatakan bahwa thylacine terakhir ini berjulukan Benjamin. Namun, para mahir thylacine kemudian mereka tak setuju dengan klaim ini. Menurut ahli, pemikiran tersebut muncul pada tahun 1960-an oleh seorang laki-laki berjulukan Frank Darby nan secara tiruan mengaku sebagai kurator di Kebun Binatang Hobart selama tahun 1930-an.
Malahan, sekarang para mahir justru percaya bahwa Benjamin mungkin adalah seekor betina.
"Itu adalah seekor betina, dan tentu saja namanya bukan Benjamin. Itu adalah mitos nan disayangkan (yang diciptakan oleh) seorang pembohong kelas kakap," kata Robert Paddle, seorang peneliti dan penulis kitab The Last Tasmanian Tiger: The History and Extinction of the Thylacine, pada tahun 2022, menurut Australian Broadcasting Corporation.
Darby juga menyebarkan cerita-cerita nan menarik kepada media tentang Benjamin nan diberi hewan hidup untuk dibunuh demi intermezo para visitor kebun binatang. Hal ini, berbareng dengan banyak perihal lain nan dikaitkan dengan Darby, semestinya dihapus sepenuhnya dari catatan, berasas argumen Paddle.
"Apa nan dia katakan itu tragis, sudah saatnya untuk menghapusnya dari literatur," katanya.
Paddle adalah bagian dari golongan nan sukses mengidentifikasi kerangka thylacine terakhir. Awalnya diperkirakan tubuhnya telah dibuang, tetapi mereka menemukan sisa-sisa tersebut dalam sebuah kotak tanpa label di Tasmanian Museum and Art Gallery.
Menariknya, ada sejumlah orang nan menolak untuk melupakan thylacine. Bahkan ada golongan semi-terorganisir nan terdiri dari para fans ekstrem nan percaya bahwa hewan tersebut tetap berkeliaran di rimba belantara Tasmania. Mereka secara teratur membagikan jejak kaki, jejak kotoran, dan rekaman video buram sebagai bukti keberadaannya nan berkelanjutan. Kendati demikian, sebagian besar intelektual tidak serius mempertimbangkan pendapat tersebut.
Demikian dikutip detikINET dari IFLScience.
(ask/ask)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·