CNN Indonesia
Sabtu, 13 Jun 2026 08:50 WIB
Ilustrasi. Kebiasaan sering mengecek saldo rekening bisa menambah stres, terutama jika dilakukan untuk menenangkan kecemasan. (iStock/yongyuan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Mengecek saldo rekening mungkin terlihat seperti kebiasaan umum. Apalagi di tengah nilai kebutuhan nan naik, angsuran berjalan, dan kekhawatiran duit tidak cukup sampai akhir bulan.
Sekali cek, mungkin rasanya lega jika angkanya tetap aman. Tapi tak lama kemudian, rasa resah muncul lagi. Aplikasi mobile banking kembali dibuka, saldo dicek ulang, padahal tidak ada transaksi baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Psikolog Arnold Lukito mengatakan, kebiasaan sering mengecek saldo rekening bisa memicu dan menambah stres, terutama jika dilakukan untuk menenangkan kecemasan.
"Secara psikologis, mengecek saldo untuk menenangkan diri punya sistem seperti kita menggaruk gatal," kata Arnold kepada CNNIndonesia.com, Kamis (11/6).
Menurut Arnold, setiap kali seseorang mengecek saldo dan angkanya terasa aman, muncul kelegaan kecil. Otak lampau mencatat pola tersebut sebagai 'mengecek sama dengan lega'.
Ketika rasa resah datang lagi, dorongan untuk mengecek pun kembali muncul.
Masalahnya, kelegaan itu hanya memperkuat sebentar. Setelah itu, rasa resah bisa muncul lagi dan membikin seseorang merasa perlu mengecek saldo berulang kali.
"Dalam psikologi, ini disebut reassurance seeking. Kita mencari kepastian, nan justru secara paradoks memberi makan kekhawatiran kita, bukan meredakannya," ujar Arnold.
Arnold mengatakan, kebiasaan ini tidak betul-betul menciptakan rasa aman. Sebaliknya, seseorang justru bisa menjadi berjuntai pada aktivitas mengecek berikutnya.
Kapan cek saldo tetap sehat?
Mengecek saldo rekening sebenarnya bukan perihal nan salah. Dalam pemisah wajar, kebiasaan ini krusial untuk memantau kondisi keuangan, mengatur pengeluaran, dan memastikan rencana finansial berjalan.
"Memantau finansial berkarakter sehat saat memandu keputusan dan jadi tidak sehat saat hanya menenangkan emosi sesaat tanpa mengubah apa pun," tegas Arnold.
Ilustrasi. Kebiasaan sering mengecek saldo rekening bisa menambah stres, terutama jika dilakukan untuk menenangkan kecemasan. (Getty Images/iStockphoto/RyanKing999)
Sebaliknya, kebiasaan ini mulai perlu diwaspadai jika dilakukan hanya untuk meredakan cemas. Setelah memandang saldo, mungkin muncul rasa lega sebentar, tetapi tak lama kemudian kekhawatiran kembali datang.
"Tanda nan paling jelas adalah jika kita cek lagi, padahal tahu betul tak ada transaksi baru. Itu tanda mengelola kecemasan, bukan mencari informasi," ujarnya.
Kebiasaan mengecek saldo nan didorong rasa resah juga bisa membikin tubuh terus berada dalam mode waspada. Apalagi jika kekhawatiran itu muncul berbareng tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, alias kekhawatiran soal masa depan.
Arnold menjelaskan, kekhawatiran biasanya berorientasi pada masa depan. Pikiran dipenuhi pertanyaan 'bagaimana kalau', sementara tubuh tetap tegang meski belum ada sesuatu nan betul-betul terjadi.
Jika berjalan lama, kondisi ini bisa berkembang menjadi stres kronis. Tubuh terasa terus on, tidur terganggu, otot tegang, mudah sakit, susah konsentrasi, dan lebih mudah marah. Salah satu pembeda antara capek biasa dan stres kronis adalah apakah rehat tetap bisa memulihkan.
"Lelah biasa seperti baterai nan bisa diisi ulang. Tidur cukup, libur, lampau pulih. Tanda kita mulai masuk ke stres kronis alias burnout adalah saat rehat tidak lagi memulihkan," kata Arnold.
Cara tetap sadar kondisi finansial tanpa panik
Tetap memantau kondisi finansial krusial dilakukan. Namun, Arnold menyarankan agar pengecekan saldo dibuat lebih sadar dan tidak reaktif. Berikut beberapa langkah nan bisa dilakukan.
1. Jadwalkan waktu cek saldo
Arnold menyarankan agar pengecekan saldo dilakukan secara terjadwal, bukan setiap kali rasa resah muncul. Misalnya, cukup dua kali seminggu selama 15 menit.Di luar agenda itu, dorongan untuk mengecek bisa ditahan. Cara ini membantu mengubah pola cek lantaran resah menjadi aktivitas nan lebih sadar.
2. Pastikan ada keputusan nan bakal diambil
Sebelum membuka aplikasi, tanyakan pada diri sendiri: keputusan apa nan bakal diambil setelah memandang saldo?Jika tidak ada keputusan nan perlu dibuat, besar kemungkinan pengecekan itu dilakukan lantaran cemas, bukan lantaran betul-betul memerlukan informasi.
3. Tunda dorongan untuk mengecek
Saat dorongan mengecek muncul, seseorang bisa menundanya selama 10 menit. Arnold menggambarkan dorongan itu seperti ombak nan memuncak, lampau pelan-pelan surut.
"Dorongan itu seperti ombak, memuncak lampau surut. Matikan notifikasi sado nan memancing cek nan berkarakter reaktif.," ujarnya.
Arnold mengingatkan, sering memandang saldo tidak membikin nomor di rekening berubah. Rasa kondusif nan lebih nyata justru datang dari rencana keuangan, seperti biaya darurat, anggaran belanja, alias tabungan rutin.
"Mengecek memberi ilusi kendali. Rasa kondusif nan riil datang dari rencana, bukan dari menatap angka," pungkas Arnold.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·