Sudah Jaga Pola Makan, Gula Darah Tetap Tinggi? Gen Z Wajib Tahu Kesalahan Ini

Sedang Trending 5 jam yang lalu
Jakarta -

Banyak nan mengira gula darah naik hanya lantaran makanan manis, kebanyakan nasi, alias jarang bergerak. Padahal ada pemicu lain nan sering dianggap sepele, ialah begadang. Satu malam tidur acak-acakan rupanya bisa membikin tubuh lebih susah mengatur gula darah.

Temuan terbaru ini ada dalam studi The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism tahun 2026 menemukan bahwa satu malam tetap terjaga semalaman dapat mengganggu respons gula darah. Artinya, apalagi pada tubuh nan tetap bugar, kurang tidur semalam saja sudah cukup membikin sistem pengaturan gula darah tidak bekerja seefisien biasanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat Tubuh Tidak Tidur, Metabolisme Tubuh Terganggu

Normalnya saat tidur, tubuh masuk ke fase pemulihan. Hormon diatur ulang, sel memperbaiki diri, dan sensitivitas insulin dijaga tetap baik. Insulin membantu gula dari darah masuk ke sel untuk dijadikan energi.

Saat begadang, ritme ini terganggu. Tubuh tetap terjaga pada waktu nan semestinya dipakai untuk istirahat. Akibatnya, keesokan hari gula darah setelah makan lebih tinggi dan turun lebih lambat. Ini menunjukkan respons insulin tidak bekerja seefisien saat tubuh cukup tidur.

Efek ini terjadi terlepas dari perubahan hormon reproduksi. Jadi masalah utamanya bukan siklus hormon, melainkan akibat kurang tidur itu sendiri terhadap metabolisme.

Berisiko Menjadi Diabetes

Lonjakan gula darah sesekali memang sering tidak langsung terasa. Banyak nan tetap merasa biasa saja meski semalam kurang tidur. Namun di kembali itu, tubuh sedang bekerja lebih keras untuk menstabilkan kadar gula darah keesokan harinya.

Saat begadang menjadi kebiasaan, gangguan mini ini bisa menumpuk. Tubuh berulang kali menghadapi gula darah nan lebih susah dikendalikan, sementara pankreas terus diminta memproduksi insulin lebih banyak agar kadar gula kembali turun. Jika berjalan terus menerus, kerja metabolisme menjadi makin berat.

Dalam jangka panjang, pola tidur acak-acakan berangkaian dengan meningkatnya akibat resistensi insulin, pradiabetes, hingga glukosuria jenis 2. Karena itu, menjaga jam tidur krusial seperti menjaga pola makan. Tidur cukup bukan sekadar istirahat, tetapi bagian krusial dari kontrol gula darah sehari hari.

Bukan Cuma Pola Makan, Pola Tidur Juga Penting

Saat membahas gula darah tinggi, nan paling sering disorot biasanya pola makan. Konsumsi minuman manis, porsi makan berlebih, terlalu sering ngemil, hingga kebiasaan makan tinggi karbohidrat olahan memang dikenal dapat memicu lonjakan gula darah. Selain itu, jarang olahraga, berat badan berlebih, dan penumpukan lemak di area perut juga ikut membikin kerja insulin menjadi lebih berat.

Namun ada satu perihal nan sering luput dibahas, ialah pola tidur. Jam tidur nan berantakan, sering tidur larut, alias kebiasaan begadang juga bisa mengganggu langkah tubuh mengatur gula darah. Saat tubuh kurang tidur, respons insulin menurun sehingga gula darah lebih susah turun setelah makan.

Artinya, menjaga gula darah tidak cukup hanya dari isi piring dan rutin bergerak. Waktu tidur nan teratur juga punya peran penting. Tubuh memerlukan tidur cukup agar sistem metabolisme tetap bekerja stabil dari hari ke hari.

Tidak Bisa Dibayar Keesokan Hari

Sering ada dugaan tidur bisa dibayar keesokan harinya. Kenyataannya, tubuh mempunyai jam biologis nan bekerja mengikuti siang dan malam. Saat semalaman terjaga, ritme ini ikut kacau. Tidur siang panjang setelah begadang belum tentu langsung menghapus dampaknya pada metabolisme.

Itu sebabnya orang nan rutin tidur larut, sering shift malam, alias kerap maraton serial sampai awal hari perlu lebih waspada terhadap kesehatan gula darah, meski merasa tetap muda dan sehat.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)

Waspadai Ancaman Gula

17 Konten

Ancaman gula berlebih dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa diremehkan. Baik nan tidak disadari keberadaannya, disadari tapi tak dipedulikan, maupun nan sudah ternormalisasi. Dampaknya fatal, bisa memicu diabetes: mother of all diseases.

Sumber detik-health