CNN Indonesia
Rabu, 27 Mei 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. Penelitian menunjukkan, pola asuh nan condong keras dapat berpengaruh terhadap otak dan sikap anak. (Istockphoto/ SDI Productions)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak orang tua mungkin tetap merasa bersikap tegas apalagi keras adalah langkah paling efektif agar anak jera dan tidak mengulang kesalahan. Apalagi jika tujuannya baik, mau anak belajar dan tidak salah langkah lagi.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa perihal tersebut cukup berakibat pada anak. Pola asuh keras seperti membentak, mengancam, alias merendahkan bukan hanya berpengaruh sesaat, tapi juga bisa berakibat pada kesehatan mental anak, apalagi hingga perkembangan otaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Anak bisa terdampak secara emosi dan perilaku
Sebuah studi nan sifatnya observasi dalam Journal of Youth and Adolescence yang melibatkan 1.137 family mengikuti perkembangan anak sejak usia sekitar 7-11 tahun.
Hasilnya menunjukkan, anak nan sering terpapar tindakan kasar psikologis dari orang tua seperti membentak, mempermalukan, alias merendahkan condong mengalami lebih banyak masalah, baik secara emosional maupun perilaku.
Masalah ini muncul dalam dua bentuk:
- Internalizing, seperti cemas, murung, dan menarik diri
- Externalizing: seperti marah, melawan, alias perilaku agresif
Artinya, akibat dari kebiasaan ini tak hanya bikin anak jadi sedih, tapi juga bisa dilihat dari langkah anak bersikap ke lingkungan sekitar.
Penelitian ini juga menekankan bahwa nan berpengaruh adalah pola nan berulang, bukan sekadar sekali-dua kali orang tua kehilangan emosi.
Paparan nan terus terjadi dari masa mini hingga menjelang remaja bisa memberi pengaruh nan menumpuk pada perkembangan anak.
2. Anak dan remaja lebih rentan depresi
Dampak ini juga terlihat saat anak beranjak remaja, jurnal dari Scientific Reports nan melibatkan lebih dari 5 ribu remaja menemukan bahwa pola asuh keras berangkaian dengan meningkatnya akibat depresi.Yang menarik, peneliti juga menemukan gimana proses itu terjadi.
Setidaknya, ada dua jalur utama. Di antaranya adalah rumination, di mana remaja condong terus memikirkan hal-hal negatif. Lalu ada victimization, di mana remaja lebih rentang mengalami perlakuan jelek dari kawan sebaya.
Dalam jangka panjang, pengalaman ini bisa membentuk langkah pandang anak terhadap dirinya sendiri. Mereka lebih mudah merasa tidak berharga, cemas, hingga kehilangan harapan.
Dengan kata lain, dampaknya bukan hanya soal takut dimarahi, tapi bisa masuk ke identitas diri
3. Berpengaruh pada perkembangan otak
Dampak pola asuh keras rupanya juga terlihat pada sisi biologis. Penelitian nan sifatnya observasi dalam jurnal Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging menganalisis perkembangan otak 246 anak melalui info MRI pada usia 8-13 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa pola asuh keras dan tidak konsisten berangkaian dengan perubahan pada struktur otak, termasuk penurunan luas permukaan di area tertentu, serta perubahan pola penipisan korteks otak.
Area nan terdampak ini berasosiasi dengan kegunaan sosial, emosi, dan sensorimotor. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan tidak hanya memengaruhi perasaan, tapi juga berpotensi memengaruhi gimana otak berkembang.
Temuan-temuan ini bukan berfaedah orang tua tidak boleh tegas. Disiplin tetap krusial dalam pengasuhan. Namun, pendekatan nan terlalu keras, terutama jika dilakukan berulang, justru bisa membawa akibat jangka panjang nan tidak diinginkan.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·