Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi, rupiah sempat menembus level psikologis Rp 17.300 per dolar AS, apalagi menyentuh kisaran Rp 17.305 di sejumlah platform info pasar.
Berdasarkan info Refinitiv dan Bloomberg nan dipantau sekitar pukul 09.00-10.30 WIB, rupiah melemah sekitar 0,7% hingga 0,79% dibandingkan penutupan sebelumnya. Posisi ini menjadi salah satu level terlemah rupiah secara intraday sepanjang sejarah dan terjadi lebih sigap dari proyeksi sejumlah analis.
Kondisi ini langsung memicu perhatian publik. Di media sosial, warganet ramai membahas pelemahan rupiah dengan nada khawatir, terutama mengenai dampaknya terhadap nilai peralatan dan daya beli masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rupiah Melemah, Ini Penyebabnya
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tunggal. Mata duit di area Asia juga mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global.
"Pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54%" kata Destry dalam keterangan tertulis seperti dikutip dari detikFinance.
BI mengaku bakal terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat struktur suku kembang instrumen moneter pro-market. Upaya itu dilakukan guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya akibat bentrok Timur Tengah.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," jelas Destry.
Cadangan devisa dinilai tetap kuat sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. BI memastikan bakal terus mengambil langkah nan diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"BI senantiasa datang di pasar dan bakal terus mengambil langkah nan diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," imbuh Destry.
Reaksi Warganet: Khawatir Harga Naik
Di platform X (Twitter), pelemahan rupiah langsung menjadi topik hangat. Banyak warganet mengaitkannya dengan akibat langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Sebagian pengguna menilai pelemahan rupiah memberi berkah bagi mereka nan mendapat penghasilan dolar sehingga beramai-ramai menukarkan simpanannya.
Berikut rangkumannya:
"menangis when lu kerja diindo dgn penghasilan umr. senang when lu kerja remot dgn penghasilan dollar,' kata @destyarosca.
"gila gilaaa waktu gue tetap SD gambaran gue ni Rupiah bakal makin kuat kalo bisa 1dollar = 1000rupiah malah makin ancurrr," ujar @flawskyyy.
"disaat nilai bahan pokok naik, bahan bakar naik, semua pada naik, Arsenal malah turun berbarengan dengan nilai rupiah yg makin melemah," kata @uyeeeb_.
"Baru banget kelar rekap pengeluaran dan hitung-hitung ini-itu, kemudian tertampar realita jika rupiah melemah lagi dan melemah terus," ungkap @hzboy.
"ini rupiah nya yg melemah alias USD nya yg menguat, mau langganan sesuatu, malah budgetnya jadi kurang," kata @IsyaPrasetia.
"Bingung kudu senang alias khawatir. Rupiah melemah, tapi gue nabung USD, artinya posisi gue justru diuntungkan. Ironis, tapi begitulah langkah market bekerja..," ujar @halleluhellyeah.
Kalau detikers sendiri gimana menyikapi melemahnya rupiah terhadap dolar?
(afr/afr)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·