Jakarta -
Tenis meja adalah salah satu olahraga nan paling menuntut keterampilan. Nah, para insinyur sekarang telah membikin robot nan bisa mengalahkan pemain ping pong top.
Namanya adalah Ace. Saat melawan pemain amatir 'elit' nan berlatih rata-rata 20 jam seminggu, robot buatan Sony AI tersebut menang cukup banyak pertandingan. Ini menandai salah satu demonstrasi nyata terkuat sejauh ini dari robot nan mencapai permainan tingkat tinggi dalam olahraga sigap dan interaktif.
Ini merupakan terobosan robotika cukup besar. Sistemnya menggabungkan penginderaan berkecepatan tinggi, pengambilan keputusan AI, dan kontrol robotik untuk bersaing dengan pemain manusia dan melakukan reaksi secepat kilat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penelitian ini telah menunjukkan bahwa robot otonom nyatanya bisa menang dalam olahraga kompetitif, menyamai alias melampaui waktu reaksi dan pengambilan keputusan manusia di ruang fisik," kata mahir robotika Peter Dürr, kepala Sony AI di Zurich, sekaligus pemimpin proyek untuk Ace nan dikutip detikINET dari AP.
"Tenis meja adalah permainan dengan kerumitan luar biasa nan butuh keputusan sepersekian detik serta kecepatan dan tenaga. Terobosan penelitian ini menyoroti potensi pemasok AI bentuk melakukan tugas interaktif real time dan langkah signifikan menuju pembuatan robot dengan aplikasi lebih luas dalam hubungan manusia nan cepat, presisi, dan real-time," paparnya.
Banyak sistem AI telah menunjukkan bahwa pembelajaran mesin dapat sukses dalam beragam tantangan virtual, mulai dari game sederhana Pong hingga permainan strategi lebih kompleks seperti catur, Go, dan StarCraft II.
Robot tenis meja Sony. Foto: Sony
Permainan bentuk di bumi nyata secara eksponensial jauh lebih susah untuk ditaklukkan menggunakan sistem buatan. Robot kudu memahami perubahan tak terduga, menginterpretasikan makna perubahan, memutuskan gimana bereaksi, dan melakukan tindakan nan diperlukan, semuanya dalam sekejap mata.
Ace dibangun berasas karya sebelumnya oleh tim di Sony AI, ialah sebuah pemasok berjulukan Gran Turismo Sophy nan bisa mengalahkan pemain manusia dalam video gim Gran Turismo. Namun, Ace jelas jauh lebih kompleks.
Desainnya terdiri dari tiga bagian utama. Pertama adalah sistem persepsinya nan memungkinkannya memandang dan melacak bola. nan krusial, ini mencakup keahlian untuk mendeteksi putaran (spin) bola, nan dapat mengubah langkah bola memantul dan lintasannya di udara.
Komponen utama kedua adalah 'otak' AI nan dilatih melakukan pukulan demi pukulan dalam simulasi permainan virtual untuk belajar tentang apa nan sukses dan apa nan tidak. Ini berfaedah sistem tersebut dapat membikin keputusan saat itu juga, alih-alih mengandalkan pengaturan awal nan sudah diprogram.
Terakhir, perangkat keras robotik berkecepatan tinggi ialah lengan robotik bersendi delapan nan sangat lincah, nan dapat mengeksekusi keputusan tentang di mana dan gimana memposisikan bet dengan presisi dan kecepatan.
Sony mengadu robot tersebut musuh tujuh pemain manusia. Ada pertandingan best-of-three (mencari dua kemenangan) melawan lima pemain amatir elit nan telah bermain slebih dari satu dekade, dan pertandingan best-of-five (mencari tiga kemenangan) melawan dua pemain liga ahli Jepang, Minami Ando dan Kakeru Sone.
Robot ini memainkan total 13 game melawan para pemain elit dan menang tujuh kali. Melawan pemain profesional, tekniknya tidak begitu efektif. Ace hanya memenangkan satu dari tujuh game. Namun performanya melampaui robot tenis meja sebelumnya dan bisa bersaing dengan pemain manusia tingkat tinggi.
Robot ini memang belum mencapai tingkat kemahiran dalam tenis meja seperti nan ditunjukkan oagen-agen nan beraksi virtual, seperti AlphaGo alias DeepBlue. Meskipun begitu, penemuan ini secara signifikan memajukan apa nan mungkin dapat kita lakukan dengan robotika di masa depan.
(fyk/afr)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·