Jakarta -
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) alias Pelindo tengah mengembangkan pelabuhan transhipment di Dumai, Riau. Pengembangan ini dilakukan mengingat tingginya lampau lintas kargo di Selat Malaka nan didominasi oleh Singapura dan Malaysia.
Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menyebut pengembangan pelabuhan transhipment dilakukan mengingat Indonesia saat ini hanya menjadi tujuan akhir dari lampau lintas kargo di perairan Selat Malaka. Akibatnya, daya saing Indonesia kalah dengan negara-negara tetangga.
"Selama ini kita menjadi end destination. Jadi transhipment lebih seperti hub. Nah di mana channeling kita, untuk kita salah hanya hanya lima. Nah ini nan membikin kita hanya menjadi negara tujuan akhir dan kita kalah sama Singapura," ungkap Muchtasyar dalam rapat berbareng Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muchtasyar mengatakan, Dumai mempunyai posisi strategis untuk perairan Selat Malaka. Perusahaan memandang kesempatan dari kelebihan kapabilitas (overloading) di pelabuhan-pelabuhan utama Selat Malaka, seperti Tanjung Pelepas dan Port Klang.
"Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengembangkan Dumai sebagai pelabuhan transhipment. Jadi kita nggak bakal perang merebut pasarnya Singapura alias Malaysia, kita nunggu luberannya saja, overloaded-nya saja," jelasnya.
Muchtasyar menambahkan, pengembangan Dumai sebagai hub transhipment tidak hanya berakibat pada aspek bisnis. Lebih dari itu, pengembangan ini menjadi bagian dari strategis geopolitik dan ketahanan nasional.
"Itu bakal sudah menjadi suatu perihal nan baik, juga untuk strategi geopolitik kita, ketahanan negara, bahwa kita menunjukkan bahwa kita negara berdaulat dari pelabuhan ini," pungkasnya.
(acd/acd)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·