Christie Stefanie | CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 20:00 WIB
Review film: Supergirl kandas terbang tinggi akibat naskah nan lemah dan kandas meninggalkan kesan alias menyajikan ketegangan berarti. (DC Studios)
Christie Stefanie
Review film: Supergirl kandas terbang tinggi akibat naskah nan lemah dan kandas meninggalkan kesan alias menyajikan ketegangan berarti.
Jakarta, CNN Indonesia --
Supergirl (2026) sesungguhnya punya potensi besar menjadi dobrakan dalam menampilkan superhero nan rentan dan punya celah emosional.
Sayangnya, potensi besar tersebut tersesat dalam eksekusi nan membingungkan. Film ini bukan tontonan nan sepenuhnya mengecewakan, namun dia kandas meninggalkan kesan mendalam alias menyajikan ketegangan nan berarti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eksekusi kisah sepupu Superman ini justru terasa membosankan di tengah labirin plot nan gamang dan sajian visual nan teramat pekat.
Satu-satunya magnet nan menahan movie ini agar tidak jatuh bebas adalah performa luar biasa Milly Alcock sebagai Kara Zor-El. Alcock dengan pandai menyuntikkan style edgy nan berpadu dengan estetika movie berkonsep punk rock dan kumuh.
Kara versinya tampil tidak sempurna. Ia merupakan seorang pahlawan nan urakan, sering bangun kesiangan dalam kondisi mabuk, serta menyembunyikan trauma masa lalunya di kembali kacamata hitam besar nan eksentrik.
Keputusan casting Alcock sebagai Kara terasa makin solid berkah support kreasi kostum nan mendetail serta tata produksi nan apik, terutama dalam memadukan pengaruh praktis dan visual untuk riasan para monsternya.
Namun, di sana lah akhir dari segala pujian untuk Supergirl.
Masalah mendasar movie ini berakar pada naskah perdana movie panjang tulisan Ana Nogueira nan terasa sangat lemah.
Alih-alih mengeksplorasi proses Kara keluar dari jerat depresi dan rasa dukanya melalui petualangan ini, skripnya justru memperlakukan narasi hanya sebagai wadah kosong untuk menumpuk pengaruh visual.
Transformasi emosional Kara, mulai dari menghentikan lingkaran setan merusak diri sendiri hingga menemukan kembali tujuan hidupnya, terasa seperti asal tempel, bukan hasil perkembangan plot nan organik.
Tim imajinatif seperti lebih memilih konsentrasi untuk membikin movie ini sangat punk rock, tapi ironisnya berhujung seperti jenis tawar perkawinan Guardians of the Galaxy dan Mad Max.
Review Supergirl: Kara Zor-El terasa asing dan bergerak tanpa arah dalam filmnya sendiri lantaran naskah nan begitu lemah. Foto: (DC Studios)
Tak hanya itu, perjalanan karakter Ruthye (Eve Ridley) justru konsisten menjadi penggerak utama narasi movie perdana Supergirl DCU ini. Akibatnya, Kara terlihat asing dan berkeliaran tanpa arah dalam filmnya sendiri.
Perjalanan antargalaksi Kara dalam movie ini sesungguhnya hanya dua, ialah menaklukkan Krem dan menyelamatkan Krypto. Namun, dua perihal itu kandas didalami secara emosional dalam 108 menit lama movie ini.
Isu sederhana digulirkan dalam plot nan tidak cukup menarik, hingga membikin rentetan segmen tindakan di dalamnya terasa datar dan hambar.
Kelemahan itu ditambah dengan perbincangan kaku nan ditulis berlebihan, komplit dengan pengulangan kalimat nan menjengkelkan tanpa urgensi nan jelas.
Nuansa menyenangkan dan percikan magis nan sebelumnya sukses dibangun oleh James Gunn lewat Superman (2025) sama sekali tidak membekas di sini.
Kelesuan ini turut merembet ke jejeran pemeran pendukung. Jason Momoa sesungguhnya sangat natural sebagai Lobo, namun kehadirannya terasa terlalu kondusif dan mudah ditebak.
Review Supergirl: Matthias Schoenaerts sebagai Krem of the Yellow Hills juga tak meninggalkan kesan apa pun sebagai villain utama. (DC/Warner Bros. Pictures)
Matthias Schoenaerts nan mencoba memberikan kedalaman pada sosok antagonis utama, Krem, juga kandas membangun hubungan nan kuat dengan penonton.
Padahal, golongan penjahatnya, The Brigands, digambarkan sebagai klan sadis nan melakukan penculikan dan perdagangan anak wanita (the brides).
Konsep itu sebenarnya berpotensi memperkuat konflik. Sayangnya, bentrok itu hanya jadi pemanis. Adegan Supergirl dengan the brides nan berpotensi menampilkan solidaritas wanita juga hanya diolah di permukaan dan berlalu begitu saja tanpa bekas.
Kegagalan tersebut disempurnakan penampilan kaku dari Eve Ridley nan membikin perjalanan dan perkembangan emosional karakternya terasa hambar.
Secara keseluruhan, formula nan ditawarkan Supergirl tak ada nan baru, termasuk pengaruh visualnya, dibandingkan film-film sejenisnya dan terasa sangat melelahkan.
Adegan-adegan action dalam movie ini terasa tawar hingga tak meninggalkan jejak sama sekali ketika keluar studio.
Pada akhirnya, Supergirl kandas terbang tinggi bukan lantaran kekurangan modal alias buruknya pengaruh visual, melainkan akibat naskah nan rentan dan arah imajinatif nan gamang.
Karakter sepotensial Kara Zor-El jelas layak mendapatkan panggung nan jauh lebih megah dan narasi nan lebih bertenaga, daripada sekadar menjadi pengikut dalam petualangan suram nan menjemukan ini.
(chri/chri)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·