Jakarta, CNN Indonesia --
Italia meraih gelar Piala Dunia untuk kali ketiga di Spanyol pada 1982. Namun, euforia ini dibayangi skandal suap nan mengguncang dua tahun sebelumnya tak pernah sirna dari perjalanan tim Azzurri sepanjang turnamen.
Dua tahun sebelum Piala Dunia 1982, sepak bola Italia diguncang skandal besar nan kasus pengaturan skor di Serie A nan terungkap pada 1980. Skandal itu dikenal sebagai Totonero.
Dua klub besar, AC Milan dan Lazio, menerima balasan degradasi ke Serie B akibat keterlibatan dalam Totonero. Sementara Paolo Rossi, penyerang nan kala itu berseragam Perugia, dijatuhi hukuman larangan bermain selama tiga tahun. Sanksi tersebut kemudian dikurangi menjadi dua tahun melalui proses banding.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukuman dua tahun itu membikin Rossi absen, tepat saat masa keemasannya. Ia baru diizinkan kembali bermain menjelang Piala Dunia 1982, sehingga kondisinya tetap jauh dari prima ketika berasosiasi dengan skuad Italia.
Italia memulai Piala Dunia 1982 dengan sangat lesu. Di fase grup pertama, mereka hanya bisa mencatat tiga hasil seri berturut-turut melawan Polandia, Peru, dan Kamerun tanpa satu pun kemenangan. Rossi juga tampil tanpa satu gol pun nan dilayangkan.
Kritik dari media dan publik Italia mengalir deras, menuntut Rossi dicoret dari skuad. Namun pembimbing Enzo Bearzot bersikeras mempertahankan kepercayaannya kepada sang striker.
Di babak kedua nan mempertemukan Italia dengan Argentina dan Brasil, Rossi seolah bangkit dari tidur panjangnya. Italia menghadapi Brasil nan saat itu dianggap sebagai skuad terbaik sejak 1970 dengan diperkuat Zico, Falcao, dan Socrates.
Rossi mencetak hattrick dalam kemenangan dramatis 3-2 atas Brasil. Penampilan itu seketika mengubah narasi nan sempat meremehkannya.
Baca di laman berikutnya>>>
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·