CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 20:45 WIB
Ilustrasi. Penurunan nomor stunting di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tetap belum merata. (CNN Indonesia/Febria Adha Larasa)
Jakarta, CNN Indonesia --
Angka stunting di Indonesia memang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penurunannya tetap belum merata dan kudu terus mengejar sasaran besar Indonesia Emas 2045.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) mencatat, prevalensi stunting nasional pada 2025 berada di nomor 18,8 persen. Ini menunjukkan bahwa nyaris 20 dari 100 anak Indonesia tetap mengalami stunting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menunjukkan perbaikan dibanding beberapa tahun sebelumnya, persoalan stunting tetap terkonsentrasi di sejumlah wilayah dengan nomor nan jauh di atas rata-rata nasional.
Dalam paparan prevalensi stunting berasas provinsi, BKKBN menunjukkan tetap ada provinsi dengan nomor stunting tertinggi mencapai sekitar 37 persen ialah Nusa Tenggara. Sementara provinsi dengan prevalensi terendah berada di kisaran 8,7 persen di Bali.
Data tersebut juga memperlihatkan sebanyak 26 provinsi tetap berada di atas rata-rata nasional. Sementara hanya 12 provinsi nan sukses berada di bawah nomor nasional.
Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono mengatakan, ketimpangan nomor stunting antarwilayah tetap menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah.
"Kita tetap punya PR mengenai dengan prevalensi stunting, tetap ada diversifikasi pencapaian di tingkat provinsi, nan mana ini juga menjadi concern bagi kita semua," kata Budi dalam media briefing di gedung BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (20/5).
Ia mengatakan, pemerintah sekarang memberi perhatian lebih pada wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, terutama di area Indonesia timur.
"Papua Pegunungan, NTT, Sulawesi Barat, dan seterusnya tentu kita bakal melibatkan dan melakukan upaya di provinsi-provinsi tersebut agar persoalan stunting bisa lebih ditekan," ujarnya.
Laju penurunan stunting juga melambat dalam beberapa tahun terakhir.Berdasarkan info capaian dan tren stunting nasional, prevalensi stunting pada 2021 berada di nomor 24,4 persen, lampau turun cukup signifikan menjadi 21,6 persen pada 2022.
Pada 2023, penurunannya nyaris stagnan di nomor 21,5 persen sebelum kembali turun menjadi sekitar 19,8 persen pada 2024.
Masalahnya, nomor tersebut tetap cukup jauh dari sasaran pemerintah nan menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14 persen pada 2024. Jika dihitung secara populasi, prevalensi 19,8 persen berfaedah tetap ada sekitar 4,5 juta anak mengalami stunting di Indonesia.
Prevalensi stunting ditargetkan turun menjadi 14,2 persen pada 2029 dan di bawah 5 persen pada 2045, nomor nan umumnya dimiliki negara maju.
"Harapannya di tahun 2045 sampai ada kurang dari 5 persen," kata Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN, Yuni Hastuningsih.
Dampak stunting jangka panjang
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis. Tapi, stunting bukan sekadar persoalan tubuh pendek pada anak.
"Stunting ini berakibat jangka panjang lantaran bukan saja perkembangan otak nan tidak normal dengan baik," kata Yuni.
Menurutnya, stunting dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia lantaran berakibat pada perkembangan otak, keahlian belajar, hingga produktivitas saat dewasa.
Yuni menjelaskan, akibat stunting sudah bisa terlihat sejak masa pertumbuhan anak dan dapat bersambung hingga dewasa. Berikut di antaranya.
1. Gagal tumbuh
Anak mengalami pertumbuhan nan tidak optimal, seperti berat badan lahir rendah, tubuh kecil, pendek, dan kurus.
2. Hambatan perkembangan kognitif dan motorik
Stunting dapat memengaruhi perkembangan otak, keahlian belajar, konsentrasi, hingga keberhasilan pendidikan anak di masa depan.
3. Gangguan metabolik saat dewasa
Anak stunting lebih berisiko mengalami penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes, obesitas, stroke, dan penyakit jantung.
Yuni menilai akibat tersebut membikin stunting tidak bisa dianggap sebagai persoalan kesehatan semata, melainkan juga berangkaian dengan kualitas generasi dan daya saing Indonesia di masa depan.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·