CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 20:00 WIB
Ilustrasi. Hormon stres rupanya saling berangkaian dengan kesehatan usus. (iStockphoto/Tharakorn)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pernah merasa perut terasa tidak nyaman saat sedang banyak pikiran? Mulai dari kembung, mual, mulas, hingga susah buang air besar sering kali muncul ketika tubuh sedang berada dalam tekanan. Ternyata, kondisi tersebut bukan sekadar emosi semata.
Penelitian modern menunjukkan bahwa stres memang mempunyai hubungan erat dengan kesehatan usus. Bahkan, para mahir menyebut hubungan antara otak dan usus sebagai 'gut-brain connection' alias hubungan usus dan otak.
Melansir Healthine, di kembali sistem pencernaan manusia, terdapat triliunan kuman baik nan tidak hanya membantu mencerna makanan, tetapi juga berkedudukan dalam mengatur respons tubuh terhadap stres.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bakteri-bakteri ini bekerja mengikuti ritme sirkadian alias jam biologis tubuh nan mengatur siklus tidur, rasa lapar, metabolisme, hingga daya sepanjang hari.
Sayangnya, style hidup modern justru sering mengacaukan ritme alami tersebut.
Nutrition Education and Training Lead Asia Pacific Herbalife, Vipada Sae-Lao menjelaskan bahwa sistem pencernaan merupakan salah satu bagian tubuh nan paling sensitif terhadap perubahan ritme biologis.
"Penelitian menunjukkan bahwa kuman usus dan jam biologis tubuh terus saling berkomunikasi dan memengaruhi satu sama lain untuk menjaga metabolisme, berat badan, sensitivitas insulin, kesehatan kardiovaskular, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan secara keseluruhan tetap optimal," jelas Vipada.
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh bakal memproduksi hormon kortisol lebih banyak. Hormon ini sebenarnya krusial untuk membantu tubuh tetap waspada. Namun, jika kadarnya terus tinggi dalam jangka panjang, dampaknya bisa mengganggu sistem pencernaan.
Kortisol dapat memperlambat alias justru mempercepat pergerakan usus, memicu peradangan, serta mengubah keseimbangan mikrobioma usus. Akibatnya, sistem pencernaan menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami gangguan.
Tak hanya itu, stres juga sering memengaruhi kualitas tidur. Padahal, tidur merupakan waktu krusial bagi tubuh untuk melakukan pemulihan, termasuk bagi sistem pencernaan.
"Jauh sebelum sains bisa menjelaskannya, kebijaksanaan tradisional telah mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan ritme alami kehidupan. Menghadirkan kembali pola hidup tersebut ke dalam style hidup perkotaan tidak memerlukan kesempurnaan, melainkan perubahan mini nan dilakukan secara konsisten," ujar Vipada.
Ia menambahkan, seiring waktu tubuh bakal menemukan kembali keseimbangannya sehingga kesehatan bukan lagi soal upaya berat, melainkan keselarasan pola hidup.
Gaya hidup modern bikin usus 'kelelahan'
Studi berjudul Relationship between stress, diet, and gut microbiota: a cross-sectional study nan terbit di National Library of Medicine menjelaskan bahwa begadang, agenda makan nan berantakan, kerja shift, hingga kebiasaan menatap layar sebelum tiduradalah beberapa aspek nan membikin jam biologis tubuh tidak sinkron.
Ketika ritme sirkadian terganggu, kuman baik di usus juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan akibat kenaikan berat badan, gangguan gula darah, hingga peradangan kronis.
Padahal, menjaga kesehatan usus sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
Salah satunya adalah menjaga pola makan tetap teratur. Penelitian mengenai pola makan berbasis ritme sirkadian menunjukkan bahwa tubuh bekerja lebih optimal ketika makan dilakukan pada waktu nan konsisten.
Sarapan bergizi setelah puasa semalaman membantu mengaktifkan metabolisme dan sistem pencernaan. Selain itu, setiap waktu makan sebaiknya mengandung serat, protein berkualitas, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks agar daya tetap stabil sepanjang hari.
Tak kalah krusial adalah menjaga jarak waktu makan tetap konsisten, idealnya dalam rentang delapan hingga 12 jam setiap hari.
Hidrasi dan tidur juga berpengaruh
Selain pola makan, hidrasi memegang peran besar dalam kesehatan usus. Air membantu nyaris seluruh proses pencernaan, mulai dari pembentukan air liur hingga membantu pergerakan sisa makanan dalam usus.
Segelas air di pagi hari sebelum makan pertama dapat membantu 'membangunkan' sistem pencernaan sekaligus memberi sinyal pada jam biologis tubuh untuk mulai aktif.
Sementara itu, kualitas tidur juga sangat menentukan kondisi usus. Sistem pencernaan memerlukan waktu untuk melambat dan beristirahat, sama seperti otak.
Karena itu, mengonsumsi makanan berat, tinggi lemak, terlalu manis, alias minuman berkafein menjelang tidur sebaiknya dihindari. Sebagai gantinya, aktivitas ringan seperti membaca buku, peregangan lembut, alias minum teh herbal dapat membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·