Pasien Hantavirus Di Rshs Bandung Meninggal, Begini Kata Kemenkes

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 10:30 WIB

Seorang pasien dikabarkan meninggal bumi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat hantavirus. Begini penjelasan Kemenkes. Ilustrasi. Seorang pasien dikabarkan meninggal bumi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat hantavirus. Begini penjelasan Kemenkes. (iStockphoto/Md Saiful Islam Khan)

Jakarta, CNN Indonesia --

Warganet ramai menyoroti berita pasien meninggal bumi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat hantavirus.

Perbincangan ini mencuat setelah Indonesia juga melaporkan kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius nan sekarang dipantau RSPI Sulianti Saroso.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak sedikit nan menduga kedua kasus tersebut saling berkaitan, terutama lantaran hantavirus nan ditemukan pada penumpang MV Hondius disebut merupakan jenis Andes virus nan dikenal dapat menular antarmanusia.

Namun, Kementerian Kesehatan memastikan kedua kasus tersebut berbeda dan tidak saling berhubungan.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Andi Saguni menegaskan pasien meninggal di Bandung merupakan kasus hantavirus jenis HFRS alias hemorrhagic fever with renal syndrome, bukan jenis HPS nan dikaitkan dengan Andes virus di MV Hondius.

"Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan jenis HPS nan di MV Hondius," kata Andi seperti dilansir dari detikcom, Rabu (20/5).

Artinya, kasus kematian di Bandung tidak berangkaian dengan Andes virus nan tengah ramai dibahas.

Andes virus merupakan jenis hantavirus nan dapat memicu kondisi hantavirus pulmonary syndrome (HPS). Virus ini banyak ditemukan di wilayah benua Amerika dan umumnya menyerang paru-paru serta sistem kardiovaskular.

Sementara itu, jenis HFRS lebih banyak ditemukan di area Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Jenis ini biasanya menyebabkan demam berdarah disertai gangguan ginjal.

Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia telah mendeteksi kasus hantavirus jenis HFRS sejak 1991.

Dari sisi tingkat fatalitas, HFRS mempunyai nomor kematian sekitar lima hingga 15 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan HPS nan pada beberapa kasus dapat mencapai hingga 60 persen.

Selain itu, sejauh ini hanya Andes virus nan diketahui dapat menular antarmanusia. Sebagian besar jenis hantavirus lainnya menular melalui paparan hewan pengerat seperti tikus, termasuk dari urine, air liur, alias kotorannya.

Narasi mengenai pasien meninggal akibat hantavirus di Bandung bermulai dari pemaparan dalam agenda sosialisasi hantavirus nan disiarkan daring pada Senin (19/5).

Dalam pemaparan tersebut, master ahli penyakit dalam RSHS Bandung, Elisabeth Hutajulu menjelaskan kondisi salah satu pasien hantavirus di Indonesia nan sempat dirawat selama tiga hari sebelum meninggal dunia.

Pasien nan disebut bekerja sebagai pekerja gedung itu awalnya mengalami demam selama sekitar sepekan. Kondisinya kemudian disertai nyeri pada perut bagian kanan serta urine berwarna pekat.

Tidak lama kemudian, tubuh dan mata pasien dilaporkan menguning, disusul keluhan nyeri otot dan sesak napas nan terus memburuk hingga memerlukan tindakan intubasi.

"Sayangnya, saat diedukasi, keluarganya menolak dan pasien meninggal," ujar Elisabeth.

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tidak panik, namun tetap waspada terhadap potensi penularan hantavirus dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat.

(nga/fef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle