CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 17:45 WIB
Empun upas di area Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Probolinggo, CNN Indonesia --
Fenomena embun kaku alias nan berkawan disebut embun upas muncul di area wisata Gunung Bromo, Jawa Timur, beberapa hari belakangan. Hal itu membikin Bromo tampak seolah-olah sedang 'bersalju'.
Pihak balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mengatakan, kemunculan lapisan es tipis ini terjadi seiring dengan masuknya musim bediding, ialah periode di mana suhu udara menjadi jauh lebih dingin saat malam hingga awal hari.
"BB TNBTS menginformasikan bahwa kejadian embun upas alias embun kaku mulai muncul di sejumlah letak di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seiring mulai berlangsungnya musim tandus dan periode nan dikenal masyarakat sebagai musim bediding," kata Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Endrip mengatakan, menurut BMKG musim bediding merupakan kejadian nan umum terjadi pada musim tandus ketika tutupan awan berkurang sehingga panas nan tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
"Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara, terutama pada malam hingga awal hari, menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya," ucapnya.
Akibatnya, kata Endrip, suhu udara di area Bromo dan Semeru bisa merosot tajam hingga mendekati nomor nol derajat Celsius. Hal itu pun memicu terbentuknya kristal es di permukaan tanah.
"Di area pegunungan tinggi seperti Bromo dan Semeru, penurunan suhu udara dapat berjalan lebih ekstrem. Pada kondisi tertentu, suhu udara dapat mendekati 0 derajat Celsius, apalagi suhu permukaan tanah dapat lebih rendah sehingga memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis nan dikenal sebagai embun upas," ucapnya.
Fenomena embun upas ini, kata dia, umumnya dapat dijumpai pada area-area terbuka nan mengalami pendinginan udara secara intensif pada malam hari.
"Di area Bromo, embun upas berpotensi muncul di Laut Pasir, Pusung Gedhe, serta Savana Lembah Watangan. Sementara di area Semeru, kejadian ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo," bebernya.
Meski lanskap Bromo nan memutih kerap disangka sebagai salju oleh sebagian besar wisatawan, pihak TNBTS meluruskan bahwa secara sains kedua kejadian tersebut sangat berbeda. Embun upas murni terbentuk dari pembekuan uap air di permukaan, bukan dari awan.
"Embun upas terbentuk ketika uap air nan berada di permukaan rumput, daun, pasir, maupun tanah membeku akibat suhu nan sangat rendah. Lapisan kristal es nan terbentuk sering kali membikin permukaan area tampak berwarna putih sehingga kerap disalahartikan sebagai salju," tutur dia.
"Padahal, embun upas berbeda dengan salju lantaran terbentuk langsung di permukaan tanah dan bukan berasal dari presipitasi di atmosfer. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika alam nan lazim terjadi di area pegunungan tropis Indonesia pada musim tandus dan menjadi salah satu daya tarik wisata alam nan dinantikan pengunjung," tambahnya.
Mengingat suhu udara nan bisa berubah menjadi sangat ekstrem pada malam dan awal hari, pihak BB TNBTS pun mengeluarkan peringatan. Wisatawan dan pendaki diminta untuk tidak meremehkan cuaca dingin dan wajib melengkapi diri dengan busana hangat untuk menghindari akibat hipotermia.
Meski demikian, BB TNBTS mengimbau seluruh visitor dan pendaki untuk mempersiapkan perlengkapan nan memadai, seperti jaket hangat, sarung tangan, penutup kepala, sleeping bag nan sesuai standar, serta perlengkapan lain nan diperlukan untuk menghadapi suhu dingin ekstrem di area pegunungan.
BB TNBTS juga membujuk seluruh visitor untuk menikmati kejadian alam ini secara bijak dengan tetap menjaga kelestarian area dan mematuhi seluruh ketentuan nan bertindak selama berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
(frd/wiw)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·