Isu child grooming menjadi satu perihal nan kudu diwaspadai oleh orang tua. Itu merupakan proses manipulatif terhadap anak di bawah usia 18 tahun nan dilakukan pelaku untuk membangunkan kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak.
Hal ini dilakukan secara berjenjang agar anak merasa kondusif dan percaya, dengan tujuan pemanfaatan seksual. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Ariani, SpA, menjelaskan child grooming tidak terjadi secara instan, melainkan memerlukan waktu dan proses nan panjang.
1. Targeting The Child
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahapan pertama adalah pelaku mencari anak nan kesenyapan alias mempunyai rasa percaya diri nan rendah. Si anak mungkin mempunyai kehidupan rumah tangga nan tidak stabil, kebutuhan emosional, dan pengawasan orang tua nan minimal.
"Jadi si pelaku bakal menargetkan anak-anak nan kira-kira bisa dijadikan korban. Biasanya anak merasa kesepian, kurang rasa percaya diri, alias rumah tangganya nan tidak stabil, alias orang tua jarang ada di rumah," jelas dr Ariani dalam jumpa media daring, Selasa (31/3/2026).
"Dia menyasar nan lebih berisiko, meskipun pada anak nan tidak ada akibat seperti ini bisa saja terjadi," sambungnya.
Sehingga tidak menutup kemungkinan anak dengan latar belakang nan baik pun bisa juga dijadikan target.
2. Gaining Trust
Tahapan selanjutnya adalah berupaya mendapat kepercayaan orang tua untuk mengurangi kecurigaan dan mendapat akses ke anak, mengumpulkan informasi, serta perkenalan rahasia. Dengan begitu, orang tua bakal luluh dan akhirnya mengizinkan anak untuk pergi dengan pelaku.
"Jadi dia mencari mengambil hati nan awal dulu, jadi memperkenalkan rahasia juga. Akhirnya, si anak mau melakukan sesuatu nan tidak diizinkan oleh orang tua," kata dr Ariani.
3. Fulfilling a Need
Tahapan ketiga adalah memenuhi kebutuhan anak dengan hadiah, kasih sayang, alias perhatian, perseorangan tersebut menjadi lebih krusial dalam kehidupan anak.
4. Isolation
Tahap keempat adalah isolasi menawarkan untuk mengasuh anak secara cuma-cuma alias melakukan support lainnya. Cara ini dilakukan untuk membangun stigma bahwa si pelaku adalah satu-satunya nan betul-betul memahami dan mencintai anak tersebut.
5. Sexualizing The Relationship
Di tahap kelima ini pelaku akhirnya melakukan tindakan manipulatif. Mungkin aksinya diawali dengan sentuhan non-seksual, tetapi si pelaku menormalisasi perihal tersebut.
6. Maintaining Control
Tahap terakhir adalah menakut-nakuti untuk mempertahankan kekuasaan atas anak. Pelaku mau anak merahasiakan dan memastikan berkelanjutan, pelaku mulai memberi hadiah, dan upaya lainnya.
"Kalau si anak sudah bisa disetir, sudah bisa didoktrin, bertindak nan manipulatif. Si anak ini dikontrol agar merahasiakan terus untuk hubungan ini," beber dr Ariani.
"Jika si anak berupaya untuk menolak, dia bakal mengancam," tutupnya.
Simak Video "Video Apakah Ada Tanda Jika Anak Alami Child Grooming? Ini Kata Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·