Negeri Yang Tidak Diklaim Siapapun: Bir Tawil

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Jakarta -

Kalau Anda mencari Bir Tawil di Google Maps, tidak ada nan spesial dari wilayah ini. Daerahnya kecil, tidak beraturan, hanya separuh ukuran Rhode Island, tidak dapat dibedakan dari pasir dan bebatuan dari dua gurun nan mengapitnya. Meskipun ada di perbatasan antara Mesir dan Sudan, Bir Tawil bukan milik keduanya.

"Sejauh ini, Bir Tawil bisa dikatakan kosong," kata wartawan Jonn Elledge dalam bukunya tahun 2024, A History of the World in 47 Borders.

Sulit untuk mengaksesnya lantaran Bir Tawil jauh dari pusat transportasi alias jalan raya. Kalau pun bisa ke sana, tempat itu bergunung-gunung, berbatu, dan panas. Tidak ada jalan alias rambu penunjuk arah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konon, tidak ada pemerintahan baik dari Mesir alias Sudan, jadi tidak ada hukum. Paling aneh, disebut di sana tidak ada toko, hotel, sinyal telepon, dan tidak ada masyarakat sama sekali.

Akan tetapi, kesaksian Dean Karalekas, seorang peneliti rekanan di Pusat Studi Austronesia Universitas Lancashire, nan mengunjungi Bir Tawil pada tahun 2020, malah berbeda. Sebuah golongan masyarakat berjulukan Ababda telah mendiami wilayah itu setidaknya sejak era Kekaisaran Romawi.

"Bahwa masyarakat ini telah mendiami wilayah tersebut selama ribuan tahun tidak diragukan lagi," akunya.

Masyarakat nomaden original ini bukanlah satu-satunya populasi di sana. Menurut Karalekas dalam memoarnya tahun 2020 tentang perjalanan ke Bir Tawil, 'The Men in No Man's Land', dia terkejut ketika menyadari sungguh majunya wilayah tersebut.

"Kami terkejut dengan sungguh majunya wilayah itu, dengan perkemahan permanen dan iring-iringan truk nan penuh dengan pekerja," tulisnya.

Sekarang pun, di Bir Tawil sudah ada penambang independen nan bekerja dengan detektor logam portabel kecil, hingga operasi penggalian tingkat industri nan canggih, dengan ekskavator, bor, trammel, dan pemisah.

Untuk melayani para penambang, terdapat beberapa toko dan restoran kecil, semuanya terletak berdekatan di pemukiman nan berfaedah penuh dengan jalan utama nan ramai.

Bir Tawil Banyak nan Coba Klaim

"Bir Tawil... sering digambarkan sebagai tanah tak bertuan terakhir di Bumi. Bir Tawil bukanlah tanah tak bertuan. Bahkan, wilayah ini sangat, sangat diklaim," ujar Elledge.

Setidaknya sembilan orang telah menyatakan kepemilikan Bir Tawil selama bertahun-tahun, kendati demikian tidak satu pun dari mereka diakui oleh PBB dan sebagian besar tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah nan mereka klaim kuasai.

Yang paling terkenal mungkin adalah Jeremiah Heaton, seorang petani dari Virginia nan pada tahun 2014 melakukan perjalanan ke wilayah tersebut dan mendeklarasikannya sebagai Kerajaan Sudan Utara, dengan raja nan dimaksud adalah dirinya sendiri.

Saat itu, kisah tersebut dipaparkan sebagai cerita nan mengharukan. Motifnya, menurut klaimnya, adalah untuk mewujudkan angan putrinya nan tetap muda untuk menjadi seorang putri sejati.

"(Para kepala suku Ababda) cemas bahwa salah satu dari kita mungkin adalah Jeremiah Heaton," tutur Karalekas.

"Sangat wajar, mereka mau menangkap 'orang bodoh' ini, seperti nan mereka sebut. Mereka tidak menyukai seorang laki-laki dari negara asing nan mengaku sebagai raja mereka, dan nan tampaknya tidak ragu-ragu untuk mempromosikan haknya untuk memerintah secara daring dan di media internasional," imbuhnya.


(ask/fay)



Sumber detik-inet