Menteri Pu Pastikan 2 Sekolah Rakyat Di Sukoharjo Fungsional Juli 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melakukan inspeksi mendadak ke letak proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) 2 di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng), pada Minggu (14/6).

Sidak ini dilakukan untuk memastikan kesiapan prasarana pendidikan nan ditargetkan dapat digunakan saat dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026-2027. Saat ditemui Dody, pekerja gedung SR berjanji untuk mati-matian menyelesaikan pembangunan sesuai target.

Di tengah kunjungannya, Dody menyoroti keberhasilan proyek SR Sukoharjo nan sekarang telah masuk ke dalam 'zona hijau' alias sesuai sasaran perencanaan. Padahal, proyek ini sempat tersendat akibat kerusakan jalan desa nan dilalui kendaraan berat proyek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hampir di semua tempat nan menggunakan akses publik selalu menemui hambatan serupa. Jalan desa alias kabupaten biasanya bukan jalan nan layak dilewati perangkat berat. Oleh lantaran itu, para penyedia jasa (kontraktor) memang kudu mengeluarkan upaya ekstra, semacam CSR, untuk menyiapkan alias memperbaiki jalan kerjanya terlebih dahulu," ujar Dody dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

Dody mencontohkan, hambatan serupa juga terjadi di Brebes, di mana pihak pelaksana sampai kudu membangun jembatan bailey sementara.

"Hal itu agar pengedaran logistik tidak mengganggu aktivitas penduduk setempat," terangnya.

Lebih lanjut, Dody memaparkan bahwa secara rata-rata nasional, progres pembangunan Sekolah Rakyat di beragam wilayah Indonesia telah menyentuh nomor 78 persen.

Adapun konsentrasi utama Kementerian PU saat ini adalah memastikan gedung-gedung utama, ialah tingkat SD, SMP, dan SMA, bisa fungsional untuk digunakan pada pertengahan Juli. Khusus untuk pekerjaan di Sukoharjo, Dody menargetkan kesiapan bentuk bisa mencapai lebih dari 90 persen saat sasaran waktu tersebut tiba.

"Kita tetap optimistis. Minimum gedung SD, SMP, dan SMA bisa kita selesaikan dulu agar adik-adik bisa masuk ke sekolah nan baru di tahun aliran baru pada Juli nanti. Kalaupun ada beberapa tempat nan belum 100 persen tuntas, minimal kudu sudah fungsional," tegasnya.

Menariknya, dalam inspeksi tersebut, Dody mempunyai langkah tersendiri untuk mengecek kualitas dan progres proyek. Alih-alih hanya memandang kebinasaan gedung dari depan, dia memilih langsung mengecek area belakang proyek.

"Makanya saya tadi langsung ke belakang. Saya biasanya memandang bagian paling akhir untuk mengecek di mana letak masalahnya. Kalau di depan kan tidak kelihatan, di belakang baru ketahuan kondisinya seperti apa," jelas Dody membagikan style kepemimpinannya.

Saat mengecek itulah, banyak pekerja gedung nan meminta berpotret berbareng Dody. Saat itu para pekerja langsung berceletuk.

"Kami selesaikan pekerjaan sesuai target," ujar mereka nyaris bersamaan.

Saat itu, Dody langsung merespon dengan mengucapkan terima kasih. Sekaligus mengacungkan jempolnya ke pekerja nan tengah menyelesaikan genting gedung SR di malam hari.

Dalam peninjauannya, Dody juga memetakan perbedaan tantangan pembangunan SR di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Di Sukoharjo dan wilayah Jawa lainnya, tantangan terbesar saat ini berada pada fase arsitektural dan finishing.

"Fase ini memerlukan waktu paling lama lantaran sangat berjuntai pada perincian dan kesiapan tenaga kerja terampil," paparnya.

Sementara itu, untuk proyek SR di luar Jawa seperti Sumatera, Maluku, dan Sulawesi, hambatan utamanya adalah prasarana logistik.

"Masalahnya ada pada akses jalan logistik dari pelabuhan alias airport terdekat sampai ke titik letak Sekolah Rakyat. Setiap tempat punya masalah sendiri, dan satu per satu kita cari solusinya agar akhir Juni ini betul-betul bisa selesai," tambahnya.

Selanjutnya, pembangunan masif Sekolah Rakyat ini bukan sekadar proyek prasarana biasa. Dody menekankan bahwa ini adalah petunjuk langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem di Indonesia melalui jalur pendidikan. Sekolah Rakyat dirancang dengan sistem boarding school (sekolah berasrama) nan diperuntukkan bagi family prasejahtera.

"Sesuai pengarahan Pak Presiden, langkah paling mudah memutus kemiskinan ekstrem adalah dengan menyekolahkan putra-putri mereka. Bapak ibunya mungkin petani alias buruh, tapi anak-anaknya bisa jadi sarjana dan sukses. Semuanya gratis; asrama, baju, perangkat tulis, hingga laptop diberikan," papar Dody.

Sementara Project Manager Sekolah Rakyat 2 Kabupaten Sukoharjo, Mochammad Safirul Kamil mengungkapkan bahwa per tanggal 14 Juni, progres bentuk pembangunan telah menyentuh nomor 82,46 persen. Pihaknya optimistis sisa pengerjaan bakal tuntas dalam kurun waktu kurang dari sepekan ke depan.

"Kami tetap optimistis sampai dengan tanggal 20 Juni bisa selesai, dan fungsional pada tanggal 1 Juli agar adik-adik kita bisa segera melakukan aktivitas belajar mengajar di sini," ujar Safirul.

Untuk mengejar sisa sasaran penyelesaian, manajemen proyek menerapkan langkah taktis nan masif. Saat ini, sebanyak 800 pekerja nan terdiri dari 300 tenaga kerja lokal dan 500 pekerja non-lokal dikerahkan.

"Mereka bekerja dalam tiga sif setiap harinya, mulai dari pagi hingga pergantian hari di pukul 12 malam," paparnya.

(akd/ega)

Sumber finance