JAKARTA— Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menerima audiensi dari Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, pada Senin 4 Mei 2026.
Pertemuan ini menjadi momentum strategis dalam membangun kerjasama antara pemerintah dan organisasi kepemudaan untuk menyiapkan kader bangsa menghadapi puncak bingkisan demografi.
Dalam audiensi tersebut, Ketua Umum PP GMKI Prima Surbakti datang didampingi oleh Sekretaris umum Jessica Esther Warouw, Wakil Sekretaris umum, Nokiskar Samuel Hulahi.
Selain itu, datang pula, sekretaris Fungsi Masyarakat, Rudy Raubun, Sekretaris Fungsi Gereja, Sonya Simanjuntak, Sekretaris Fungsional Agraria dan Maritim, Veral Hendrisco Pattipeilohy, serta jejeran fungsional lainnya.
Sementara Menteri P2MI didampingi Sekjend KP2MI Komjend Pol Dwiyono dan kepala Jenderal Penempatan KP2MI Ahnas.
Transformasi Kelembagaan dan Visi Presiden
Menteri Mukhtarudin menjelaskan bahwa Kementerian P2MI merupakan lembaga baru hasil transformasi dari BP2MI, nan dibentuk atas komitmen kuat Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pelindungan dan tata kelola Pekerja Migran Indonesia secara terpusat.
“Ini adalah kementerian unik nan berdiri sendiri agar penanganan pekerja migran baik dari sisi hulu (penempatan) maupun hilir (purna), dilakukan dengan lebih serius dan profesional,” imbuh Mukhtarudin.
Fokus utama kementerian saat ini adalah penguatan kualitas pelindungan nan mencakup seluruh siklus migrasi: pra-penempatan (edukasi dan training skill), masa penempatan, hingga purna penempatan melalui program pemberdayaan.
Menyiapkan Kader Bangsa dan Generasi Tangguh
Menteri Mukhtarudin memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran PP GMKI. Ia menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin dan staf pembangunan masa depan.
“Negara ini bakal tetap eksis dan semakin maju jika mempunyai generasi masa depan nan berkualitas. Kami mau membangun sinergi dengan beragam organisasi pemudaan seperti GMKI, HMI, GMNI, hingga PMII untuk mempersiapkan kader-kader bangsa nan bakal meneruskan estafet kepemimpinan,” beber Menteri Mukhtarudin.
Peluang Global dan Kolaborasi Strategis
Lebih lanjut, Menteri Mukhtarudin memaparkan bahwa Indonesia bakal menghadapi puncak bingkisan demografi pada 2030-2035, di mana penyediaan lapangan kerja melalui sektor migrasi menjadi salah satu solusi mengatasi pengangguran.
Hingga Mei 2026, tercatat ada lebih dari 249.000 sisa lowongan kerja alias sekitar 77.28 persen di luar negeri, dengan sektor kesehatan dan manufaktur sebagai kesempatan terbesar.
Kementerian P2MI membuka ruang kerjasama nan luas bagi PP GMKI melalui beragam inisiatif strategis, salah satunya adalah Program GMKI Preneur nan berfokus pada pengembangan kewirausahaan bagi para purna Pekerja Migran Indonesia, agar mereka bisa berdikari secara ekonomi sekembalinya ke tanah air.
Selain itu, kerjasama ini juga diarahkan pada penguatan edukasi migrasi aman, di mana GMKI diposisikan sebagai mitra kunci dalam menyosialisasi literasi migrasi nan resmi dan terlindungi melalui jaringan luas mereka di beragam kampus dan gereja di seluruh Indonesia.
Menteri Mukhtarudin mengatakan bahwa pentingnya pemanfaatan platform digital GMKI untuk menyebarkan info kesempatan kerja luar negeri nan resmi.
“Kami mau menciptakan ekosistem di mana purna Pekerja Migran tidak hanya kembali membawa modal, tetapi juga skill dan jaringan untuk menjadi pengusaha di tanah air. Di sinilah peran kerjasama dengan pemuda seperti rekan-rekan di GMKI menjadi sangat penting,” tandas Mukhtarudin.
GMKI Siap Wujudkan Ekosistem Pekerja Migran nan Unggul
Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Prima Surbakti menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi melakukan transformasi besar-besaran.
Dalam periode kepengurusan ini, GMKI diproyeksikan menjadi penguatan spiritualitas sekaligus “Rumah Talenta” guna mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) nan berkekuatan saing global.
Prima menjelaskan bahwa konsentrasi utama organisasi saat ini adalah memberikan nilai tambah bagi para kader agar tidak hanya menjadi mahasiswa nan “biasa saja”.
“Kami berupaya keras agar GMKI menjadi ekosistem nan bisa melakukan lompatan tinggi bagi kader. Kita bekali mereka dengan integritas, kompetensi, hingga keahlian bahasa agar siap memberikan akibat besar bagi bangsa, khususnya di sektor lapangan kerja,” ujar Prima.
GMKI, kata Prima, berkomitmen menyiapkan anggotanya untuk mengisi beragam lini strategis di masa depan, mulai dari menjadi tenaga profesional, politisi, hingga pengusaha melalui program-program nan berbasis akibat dan berkelanjutan.
Diketahui, GMKI adalah organisasi kemahasiswaan nan didirikan pada tanggal 9 Februari 1950. Saat ini, mempunyai 120 bagian di seluruh Indonesia dan menerima personil baru sebanyak 12.000 – 15.000 orang setiap tahun.
GMKI menurut Prima, bukan sekadar organisasi kaderisasi, tapi punya arah strategis pengembangan talenta, kepemimpinan, dan pemberdayaan sosial-ekonomi, sehingga sangat sesuai untuk dilakukan kerjasama dengan Kementerian P2MI.
Adapun, program GMKI mengenai transformasi diperkuat dengan peluncuran ‘Platform Digital GMKI'S Future', sebagai ekosistem modern untuk memetakan serta mengukur kompetensi kader secara transparan, nan dilengkapi dengan fitur info lowongan kerja, beasiswa, hingga sarana mobilisasi kader secara nasional.
Sinergi dengan KP2MI dan Lawan Perdagangan Manusia
Untuk itu, Prima Surbakti menyatakan kemauan GMKI untuk menjalin kemitraan strategis dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) salah satu rumor krusial nan menjadi perhatian serius adalah pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Dirinya menyoroti kejadian memprihatinkan di mana banyak penduduk negara alias Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) nan berangkat bekerja ke luar negeri namun pulang dalam kondisi tidak bernyawa akibat eksploitasi.
“Isu perdagangan manusia adalah pergumulan kita bersama. GMKI siap berdiri di garda terdepan sebagai simbol perlawanan atas nama kemanusiaan. Kami siap dilibatkan, baik dalam perihal sosialisasi, edukasi, maupun pembelaan langsung terhadap para korban,” tegas Prima.
Melalui langkah ini, Ketua PP GMKI berambisi dapat berkontribusi nyata dalam melindungi hak-hak pekerja migran sekaligus memastikan kader-kader mahasiswa menjadi bagian dari solusi atas problematika kemanusiaan di Indonesia.
Menteri P2MI menyatakan optimismenya terhadap langkah transformasi nan diambil oleh organisasi GMKI tersebut.
Menteri Mukhtarudin meyakini bahwa dengan semangat pembaruan dan sistem pengembangan talenta GMKI nan tepat, bakal lahir generasi baru nan tidak hanya mempunyai kelebihan intelektual, tetapi juga memegang teguh nilai-nilai integritas.
Ia menegaskan pentingnya kerjasama dalam memperkuat pelindungan Pekerja Migran Indonesia termasuk melalui edukasi masyarakat mengenai TPPO, guna memutus rantai perdagangan orang sejak dini.
Sembari memberikan apresiasi, Menteri P2MI Mukhtarudin pun mendorong seluruh komponen bangsa untuk terus bekerja keras dan konsisten dalam memberikan kontribusi terbaik serta pengabdian nyata demi kemajuan bangsa dan negara.
(adista)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·