Mengapa Ada Orang Yang Tak Suka Mengikuti Berita? Ini Alasannya

Sedang Trending 2 jam yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 10 Jun 2026 09:00 WIB

Ilustrasi orang baca buletin online. Orang nan tak suka mengikuti buletin belum tentu mempunyai literasi rendah. Bisa jadi dia mengalami news fatigue. Ilustrasi. Orang nan tak suka mengikuti buletin belum tentu mempunyai literasi rendah. Bisa jadi dia mengalami news fatigue. (Istockphoto/PeopleImages)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sering kali, orang menghindari baca berita terbaru bukan lantaran ketidakpedulian atau literasi nan rendah. Bisa jadi lantaran mereka mengalami nan namanya news fatigue, namalain kelelahan mental akibat tingginya paparan informasi.

Adapun berasas laporan "2025 Digital News Report" dari Reuters Institute menunjukkan jumlah orang ini tidak sedikit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari hasil survei di beberapa negara, rata-rata 40 persen orang mengakui dirinya terkadang alias sering menghindari berita. Angka ini merupakan tertinggi nan pernah dicatat Reuters Institute.

Perilaku menghindari berita, paling tinggi terjadi di Bulgaria (63 persen), Turki (61 persen), Kroasia (61 persen), dan Yunani (60 persen). Adapun nomor terendah didapatkan di sejumlah negara nordik dan Taiwan (21 persen) serta Jepang (11 persen).

Fenomena meningkatnya orang nan menghindari baca buletin bisa dijelaskan dari perspektif pengetahuan psikologi. Apakah lantaran terlalu banyak buletin negatif nan beredar?

Adanya kecenderungan bias negatif

Ada satu kecenderungan psikologis bawaan manusia nan bisa memengaruhi langkah kita mengingat peristiwa, ialah negativity bias alias bias negatif.

Kecenderungan psikologis ini lebih menekankan pengalaman negatif daripada nan positif. Adapun kecenderungan ini merupakan hasil evolusi.

Mengutip Verywell Mind, pada awal sejarah manusia, memperhatikan ancaman jelek di alam liar merupakan masalah hidup dan mati. Manusia lebih peka terhadap ancaman dan memperhatikan hal-hal jelek di sekitar untuk memperkuat hidup.

Cara memperkuat hidup mewariskan gen kepada keturunan manusia hingga saat ini nan membikin kita lebih waspada terhadap bahaya.

Pada era modern, kecenderungan bias negatif membikin manusia lebih sensitif terhadap buletin negatif. Selain itu, buletin negatif juga condong dianggap benar.

Hal ini lantaran buletin negatif menarik perhatian lebih besar dan info tersebut juga mungkin dianggap mempunyai validitas lebih besar.

Inilah nan membikin buletin jelek tampak lebih menarik perhatian. Namun ketika orang mulai mengalami news fatigue, buletin mulai dihindari, terutama buletin buruk, sebagai sistem pertahanan diri.

Berita negatif bisa pengaruhi kondisi fisik

Beberapa studi, salah satunya nan dipublikasikan dalam jurnal Health Communication (2024), menunjukkan respons fisiologis nan terukur lebih kuat terhadap buletin negatif daripada buletin positif. Tubuh bereaksi sebelum pikiran memutuskan apakah ancaman tersebut relevan.

Studi nan dilakukan oleh Bryan McLaughlin et al. tersebut, menggunakan konsep konsumsi buletin bermasalah (problematic news consumption/PNC) nan diperkenalkan McLaughlin, Gotlieb, dan Mills pada 2023.

PNC merupakan pola keterlibatan buletin nan mengakibatkan obsesi, disregulasi, dan gangguan kegunaan sehari-hari. Hasil studi menunjukkan, 17 persen partisipan mempunyai tingkat PNC nan parah.

Dari 17 persen partisipan tersebut, 61 persen di antaranya melaporkan merasa tidak sehat nan cukup parah. Hanya 6 persen nan menyatakan baik-baik saja.

Ali Jasemi peneliti di bagian ilmu jiwa perkembangan dari Wilfrid Laurier University, Kanada, mengungkapkan buletin negatif menjadi sumber news fatigue nan terbukti bisa memengaruhi kondisi bentuk pula.

Ia berpendapat, news fatigue bisa lebih berakibat bagi golongan minoritas. Meski golongan nan dituju di dalam buletin negatif bukan kelompoknya, tetapi akibat psikologisnya tetap signifikan terhadap orang-orang dengan hubungan golongan nan sama. Lalu apa solusinya?

"Bukan penghindaran. Demokrasi berjuntai pada penduduk negara nan terinformasi," tulis Jasemi di SciTechDaily.

Penyebaran informasi, apalagi nan negatif, bisa jadi sumber stres utama. Namun menjauhi info nan jeli dan dapat dipercaya hanya memperdalam masalah.

Solusinya, ialah mengelola konsumsi dan sumbernya. Anda bisa membatasai konsumsi buletin pada jangka waktu tertentu untuk mengurangi akibat news fatigue.

Selain itu, memilih tulisan alias laporan panjang nan mempunyai kedalaman info juga lebih berfaedah daripada serangkaian unggahan random dan tak dapat diandalkan di media sosial.

Terakhir, waspadai info alias konten berkarakter provokatif, nan dirancang hanya untuk meningkatkan engagement di media sosial.

"Berita tidak bakal menjadi kurang 'berat', tetapi hubungan kita dengan buletin dapat menjadi lebih disengaja. Otak kita tidak dirancang untuk skala masukan sebesar ini. Namun, otak kita dirancang untuk belajar beradaptasi," kata Jasemi.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle