Jakarta, CNN Indonesia --
Teknologi nuklir kerap dikaitkan dengan peledak dengan daya ledak dahsyat. Namun, teknologi nuklir rupanya mempunyai sederet faedah lain, mulai dari pembangkit energi hingga membantu produksi pangan.
Di Indonesia, penelitian nuklir sudah lama dilakukan dan menyasar beragam sektor, salah satunya energi.
Energi nuklir dimasukkan sebagai salah satu sumber daya nan menjadi penyeimbang bauran daya nasional menuju sasaran NZE pada 2060.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah Indonesia telah memasukkan daya nuklir sebagai bagian dari bauran daya nasional sampai 2060. Di tahun 2060, kapabilitas pembangkit tenaga listrik bakal didominasi sekitar 41,6 persen dari pembangkit variable renewable energy (VRE), dan sekitar 58,4 persen pembangkit dispatchable (non-VRE)," ujar Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaiful Bakhri dalam keterangannya pada 2025.
Dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) Tahun 2024, kapabilitas pembangkit tenaga listrik (dalam daya bisa netto) menuju NZE pada 2060 diproyeksikan sekitar 443 gigawatt.
Sekitar 7,9 persen diperoleh dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapabilitas daya sekitar 35 gigawatt, dan produksi tenaga listrik sekitar 276 terawatt-jam alias sekitar 14,2 persen.
Pembangunan PLTN di Indonesia telah dirancang secara berjenjang dalam arsip Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
RUEN menetapkan kontribusi daya nuklir dalam bauran daya nasional bisa mencapai 4 hingga 5 persen pada 2050. Terbaru, BRIN menggandeng Badan Geologi untuk menyiapkan tapak PLTN pertama nan bakal dibangun.
Syaiful menyebut saat ini pertimbangan tapak tetap dalam tahap awal dan kudu dilakukan dengan hati-hati.
"Saat ini, pertimbangan beberapa tapak tetap berkarakter awal atau desk evaluation. Karena itu, krusial bagi kita untuk menyamakan persepsi. Kajian nan lebih mendalam bakal dilanjutkan pada tahap berikutnya sesuai standar nan berlaku," kata Syaiful dalam keterangannya, Kamis (7/5).
Kajian nan dilakukan mencakup sejumlah aspek kebumian utama, termasuk potensi gempa bumi, tsunami, serta dinamika pesisir seperti pengikisan dan akresi.
Hasil kajian ini bakal mempunyai implikasi jangka panjang, mengingat PLTN dirancang untuk beraksi dalam rentang waktu panjang, apalagi sampai 80 tahun.
BRIN memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti baru di bagian nuklir guna mendukung pengembangan daya nuklir nasional, termasuk rencana pembangunan PLTN pertama nan ditargetkan beraksi pada 2032 ini.
Uranium lokal
Upaya mengembangkan bahan bakar nuklir berbasis sumber daya lokal salah satunya dilakukan peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN Ade Saputra dan tim. Tim ini mengembangkan material adsorben inovatif untuk pemurnian uranium.
Ade mengatakan, Indonesia mempunyai potensi besar bahan baku nuklir, salah satunya berasal dari pasir monasit - limbah hasil penambangan timah. Namun, tantangan utama terletak pada pemisahan uranium dan thorium nan bercampur dengan logam tanah jarang.
"Jika pemisahan ini berhasil, kita tidak hanya menyelesaikan masalah limbah radioaktif, tetapi juga memperoleh logam tanah jarang nan bersih serta bahan bakar nuklir dari sumber domestik," katanya, Selasa (5/5).
Menurutnya, penguasaan teknologi hulu khususnya pemurnian bahan bakar menjadi kunci krusial untuk menuju misi NZE.
"Penyiapan bahan bakar nuklir merupakan fondasi krusial dalam memastikan keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ke depan," katanya.
Pangan
Tak hanya bagian energi, riset dan pemanfaatan nuklir juga menyasar sektor pangan. BRIN baru-baru ini melakukan panen perdana bibit penjenis alias breeder seed varietas padi unggul nan dikembangkan melalui pemuliaan mutasi iradiasi di Subang Jawa Barat.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pemanfaatan teknologi nuklir melalui radiasi sinar gamma bukan lagi sebatas riset di atas kertas, melainkan kontribusi nyata dalam menghadapi krisis pangan global.
"Dengan varietas unggul hasil iradiasi, kita bisa meningkatkan indeks pertanaman dan hasil per hektare secara signifikan," ujarnya saat melaksanakan panen di lahan produksi CV Fiona Benih Mandiri Subang, Kamis (30/4), mengutip laman BRIN.
Menurut Arif, teknologi nuklir memungkinkan para periset untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman secara luas dan kondusif guna memperbaiki karakter tanaman nan mempunyai kelemahan, seperti batang nan terlalu tinggi alias umur panen nan panjang.
"Teknik pemuliaan mutasi dengan iradiasi sinar gamma (Co-60) bekerja dengan langkah memberikan dosis daya radiasi tertentu pada bibit padi untuk memicu perubahan struktur DNA, kemudian diseleksi secara ketat oleh pemulia. Berbeda dengan Rekayasa Genetika (GMO), hasil mutasi iradiasi tidak memasukkan gen asing, sehingga sepenuhnya kondusif dikonsumsi dan ramah lingkungan," tuturnya.
Pemanfaatan teknologi nuklir untuk membangun ketahanan pangan diamini oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan).
Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kemenko Pangan Bara Krishna Hasibuan menyebut teknologi nuklir mempunyai peran krusial dalam misi pemerintah membangun resiliensi pangan dalam komoditas strategis dan bahan pangan pokok nasional.
Pemanfaatannya mencakup pemuliaan varietas unggul nasional, peningkatan efisiensi input pertanian, penguatan keamanan dan ketahanan pascapanen, pengelolaan sumber daya air dan lahan, serta pengendalian (benih)penyakit nan ramah lingkungan.
Meski demikian, Bara juga menyoroti potensi akibat nan perlu diantisipasi, khususnya mengenai kontaminasi radionuklida seperti Cesium-137 nan dapat berakibat terhadap keamanan pangan, lingkungan, kesehatan, dan ekonomi.
(lom/dmi)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·