Seorang mahasiswa asal Indonesia sukses meraih gelar juara dalam Swift Student Challenge 2026 nan diselenggarakan Apple. Karya nan mengantarnya menang bukan sekadar aplikasi biasa, dia membangun sebuah pengalaman interaktif nan membongkar metode pencarian internet nan selama ini bekerja secara diam-diam di kembali layar.
Ghazali Ahlam Jazali (23), lulusan Ilmu Komputer dari Universitas Sanata Dharma asal Klaten, Jawa Tengah, menciptakan aplikasi playground berjudul They Have Your Fingerprint! nan sekarang menjadi salah satu karya terpilih dalam kejuaraan bergengsi tahunan Apple tersebut.
Berkat prestasinya tersebut, Ghazali mendapat undangan langsung dari Apple untuk menghadiri arena tahunan Worldwide Developers Conference alias WWDC 2026 nan bakal digelar awal Juni mendatang. Acara bergengsi ini menjadi tempat Apple memperkenalkan teknologi dan penemuan terbaru kepada developer dari seluruh dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mitos 'Hapus Cookies = Aman'
Ide aplikasi ini lahir dari sebuah miskonsepsi nan sangat umum di masyarakat: banyak orang mengira bahwa menghapus cookies sudah cukup untuk melindungi privasi mereka saat berselancar di internet.
Padahal, ada teknik pencarian nan jauh lebih canggih dan tidak ikut terhapus saat cookies dibersihkan. Salah satunya adalah canvas fingerprinting, ialah metode nan mengidentifikasi pengguna melalui perbedaan lembut dalam langkah perangkat mereka merender font, warna, dan emoji.
"Tujuan saya adalah mengambil ancaman privasi nan tak kasat mata seperti canvas fingerprinting dan membuatnya terlihat, sehingga orang-orang betul-betul bisa memahaminya," ujar Ghazali.
Menurut Ghazali, persoalan privasi digital saat ini bukan lagi sekadar soal cookies.
"Saya merasa rumor metode tracking perlu lebih banyak dibahas lantaran sekarang opt-out itu sudah bukan lagi betul-betul pilihan. Dulu kita tetap bisa mencegah website mengumpulkan info hanya dengan menghapus cookies. Tapi sekarang ada metode seperti canvas fingerprinting dan supercookies nan tetap bisa mengenali pengguna," jelasnya.
Tampilan aplikasi edukatif They Have Your Fingerprint! buatan Ghazali Ahlam Jazali Foto: Apple
Lebih lanjut, Ghazali menyebut bahwa canvas fingerprinting hanyalah satu contoh dari sekian banyak metode pencarian nan terus berkembang. Ia juga menyinggung soal supercookies berbasis favicon, pencari nan bisa mengenali pengguna apalagi setelah cookies dihapus lantaran datanya tersimpan di ikon mini pada tab browser.
"Masalahnya bukan sekadar apakah kita sudah menghapus cookies alias belum. Pihak-pihak dengan niat jelek bakal terus menemukan langkah baru untuk melacak pengguna," katanya.
Pengguna Diajak Jadi Tracker
Yang membikin aplikasi ini unik adalah pendekatannya: alih-alih menjelaskan ancaman dari perspektif pandang korban, Ghazali justru menempatkan pengguna di posisi pencari itu sendiri.
Dalam sebuah minigame di dalam aplikasi, pengguna berkedudukan sebagai pihak nan melakukan tracking - mencocokkan profil pengguna dengan canvas fingerprint nan tepat berasas sebuah dossier. Konsep absurd seperti spesifikasi hardware disajikan melalui tampilan arsip nan familiar dalam kehidupan sehari-hari: mulai dari name tag, paspor, boarding pass, hingga menu restoran.
Ghazali mengatakan pendekatan tersebut dipilih agar konsep teknis nan rumit bisa dipahami lebih mudah, apalagi oleh orang tanpa latar belakang IT.
"Saya menyederhanakannya menjadi mini-game di mana pemain hanya perlu mencocokkan name tag dengan fingerprint. Menurut saya itu pendekatan nan paling mudah dipahami," ujarnya.
Pengguna Diajak Jadi Tracker Foto: Apple
Ia menambahkan, pendekatan tersebut juga terinspirasi dari pengalaman belajar cybersecurity saat kuliah.
"Dalam pengalaman saya mengajar dan belajar, pendekatan seperti itu sering kali lebih efektif. Seperti saat kuliah cybersecurity - kami diajarkan berpikir seperti penyerang agar tahu langkah bertahan," jelas Ghazali.
Dari Academy ke Institute AI Apple
Perjalanan Ghazali menuju pencapaian ini melewati banyak kota. Lahir di Klaten, dia pernah tinggal di Mojokerto, Yogyakarta, dan Makassar sebelum akhirnya menetap di Surabaya untuk mengikuti Apple Developer Academy pada 2025.
Program danasiwa Apple itu menjadi titik kembali bagi Ghazali. Ia nan semula mengaku idealis - mau semua melangkah sesuai rencana - belajar untuk lebih fokus, realistis, dan memangkas fitur nan tidak esensial.
Tampilan aplikasi edukatif They Have Your Fingerprint! buatan Ghazali Ahlam Jazali Foto: Apple
Academy juga mempertemukannya dengan bumi kreasi dan ideasi aplikasi, nan melengkapi keahlian teknisnya nan sudah kuat sejak mulai belajar coding di bangku SMP.
Kini Ghazali menjadi bagian dari angkatan pertama Apple Developer Institute for AI and ML, program lanjutan nan berfokus pada kepintaran buatan dan machine learning.
"Menjadi juara Swift Student Challenge adalah kehormatan luar biasa lantaran ini menunjukkan bahwa Apple menghargai bukan hanya langkah kita menulis kode, tetapi masalah nyata nan kita coba selesaikan," kata Ghazali.
Di sela program tersebut, dia tengah menyempurnakan aplikasi They Have Your Fingerprint! untuk dirilis ke App Store dalam waktu dekat.
Swift Student Challenge sendiri merupakan kejuaraan tahunan Apple nan terbuka bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh dunia. Para peserta ditantang membikin aplikasi playground menggunakan Swift Playgrounds alias Xcode dengan penilaian mencakup kreativitas, kualitas teknis, serta akibat dari buahpikiran nan diusung.
(afr/afr)
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·