Jakarta -
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan lonjakan nilai minyak bumi akibat bentrok di Timur Tengah berpotensi membikin anggaran subsidi bahan bakar pemerintah membengkak hingga Rp 150-200 triliun.
Perhitungan itu menggunakan dugaan nilai minyak mentah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar US$ 70 per barel. Sementara pembelian alias impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri diasumsikan berada di kisaran US$ 90 per barel.
"Dengan nilai minyak saat ini, kita tidak tahu apa nan bakal terjadi. Maksud saya, jika nilai rata-rata sekitar US$ 90, anggap saja US$ 90, anggaran negara kita US$ 70, kita punya selisih US$ 20. Jadi kita mungkin berbincang tentang defisit nyaris Rp 200 alias 150 triliun hanya lantaran nilai minyak ini," kata Luhut dalam aktivitas ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luhut menilai akibat kenaikan nilai minyak terhadap perekonomian dalam negeri mulai terasa pada Juli mendatang. Namun, dia belum merinci akibat nan dimaksud.
"Kita bisa memandang dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, akibat kenaikan nilai minyak ini, saya rasa dalam bulan Juli mendatang. Jadi kita kudu berhati-hati dalam mengawasi masalah ini," ujarnya.
Ia juga mengaku terus menjalin komunikasi dengan beragam pihak, terutama negara-negara mitra di Timur Tengah sebagai eksportir minyak mentah dunia. Sebab, meskipun Indonesia tidak banyak melakukan impor langsung dari area tersebut, sekitar 20% perdagangan daya bumi tetap berasal dari sana.
"Kami menjaga komunikasi dengan teman-teman kami di Timur Tengah dan beberapa wilayah lainnya. Apa nan bakal terjadi di Selat Hormuz? Berapa lama bakal seperti ini? Hari ini mereka bilang 50-50 dan besok mereka bilang lain. Jadi betul-betul tidak pasti. Karena kita sangat berjuntai pada perdagangan ini, perihal itu dapat berakibat pada perekonomian kita," jelas Luhut.
Dalam kesempatan itu, Luhut juga mengaku mendapat keluhan dari mitra di Timur Tengah lantaran Indonesia dinilai belum memberikan support resmi mengenai bentrok di area Selat Hormuz.
"Kemarin saya mendapat telepon dari kawan saya, kawan baik saya dari salah satu negara di Timur Tengah. Dia juga mengeluh kepada saya tentang tanggapan Indonesia terhadap situasi di Timur Tengah. Mereka berambisi Indonesia dapat memberikan support terbuka kepada negara mereka," tutur Luhut.
"Mereka juga menakut-nakuti kami (Indonesia), 'kalian juga mengimpor dari negara kami (di Timur Tengah). Jadi kenapa kalian tidak juga memberikan support kepada kami?'," lanjutnya.
(igo/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·