Kromosom Y Pada Pria Makin Menyusut, Seserius Ini Dampaknya Kata Ahli Genetika

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Para mahir genetika memperkirakan kromosom penentu jenis kelamin dalam lima tahun ke depan, bisa menghilang sepenuhnya dari jenis manusia.

Namun, sebelum itu terjadi, ada persoalan nan lebih mendesak untuk diperhatikan.

Seiring bertambahnya usia, sebagian laki-laki mulai kehilangan kromosom Y pada sel darah, sel otak, maupun sel-sel sistem kekebalan tubuh mereka. Kondisi ini berpotensi menimbulkan akibat kesehatan nan serius.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hilangnya kromosom Y rupanya mempunyai kaitan nan mengejutkan dengan beragam penyakit, mulai dari kanker, penyakit ginjal, penyakit jantung, hingga penyakit Alzheimer.

Selama beberapa dekade, para peneliti telah mengawasi bahwa pada sebagian laki-laki lanjut usia, sejumlah sel di dalam tubuh mereka mulai kehilangan kromosom Y.

Meski kromosom ini terdapat di sebagian besar sel tubuh, kromosom Y tampak seperti 'penumpang pasif' nan tidak banyak berperan. Selain itu, kromosom ini tergolong rentan dan rentan mengalami mutasi saat proses replikasi sel berlangsung.

Dari 46 kromosom nan umumnya terdapat pada sel manusia, kromosom Y merupakan satu-satunya kromosom nan bisa lenyap tanpa menyebabkan kematian sel.

Namun bukan berfaedah kehilangannya tidak menimbulkan masalah.

Pada 2022, sebuah penelitian menemukan ketika sel-sel imun unik pada jantung tikus kehilangan kromosom Y, kondisi tersebut menyebabkan gangguan kegunaan kardiovaskular hingga berujung kematian.

Berbagai studi klinis lanjutan juga menunjukkan laki-laki lanjut usia nan mengalami kehilangan kromosom Y mempunyai akibat lebih tinggi untuk meninggal lebih awal alias mengembangkan kanker. Meski jarang terjadi pada perseorangan nan lebih muda, kehilangan kromosom Y juga dikaitkan dengan infertilitas dan gangguan perkembangan.

Pada 2023, para peneliti menemukan hingga 40 persen laki-laki lanjut usia nan menderita kanker kandung kemih tidak mempunyai kromosom Y pada sel tumornya.

Karena laki-laki diketahui mempunyai akibat hingga lima kali lebih tinggi mengalami kanker kandung kemih dibandingkan wanita, sejumlah intelektual mulai menduga kromosom Y berkedudukan dalam perkembangan penyakit tersebut.

Bukti awal mendukung dugaan itu. Pada 2025, sebuah penelitian menemukan sel-sel imun nan kehilangan kromosom Y menjadi kurang efektif dalam menyerang sel kanker.

Pada tahun nan sama, sebuah tinjauan ilmiah menyimpulkan hilangnya kromosom Y kemungkinan memainkan peran krusial dalam membentuk aktivitas sistem kekebalan tubuh pria.

Meskipun kromosom Y hanya mengandung sekitar 0,9 persen dari total DNA dalam sel pria, kromosom ini baru sukses dipetakan secara komplit beberapa tahun lalu.

Sejak saat itu, kemajuan teknologi pengurutan genom membuka era baru dalam penelitian kromosom Y.

Penelitian mengenai kromosom ini tetap berada pada tahap awal, tetapi temuan-temuan awal menunjukkan bahwa kromosom Y mungkin terlibat dalam lebih banyak kegunaan seluler dibandingkan nan selama ini diperkirakan para ilmuwan.

Karena itulah, mahir biologi perkembangan Jennifer Hughes meyakini bahwa kromosom Y belum tentu bakal lenyap dari jenis manusia.

"Gen-gen nan tetap memperkuat di kromosom Y mempunyai kegunaan krusial di seluruh tubuh. Karena itu, tekanan perkembangan untuk mempertahankan gen-gen tersebut sangat besar sehingga mini kemungkinan mereka bakal hilang," kata Hughes.

Namun, mahir biologi perkembangan Jenny Graves mempunyai pandangan nan sedikit berbeda. Ia sepakat bahwa gen-gen pada kromosom Y sangat krusial dan berangkaian dengan kesehatan maupun penyakit. Meski demikian, menurutnya gen-gen krusial tersebut dapat 'dipindahkan' ke kromosom lain.

"Ya, memang ada gen inti nan sangat terjaga sepanjang evolusi," ujarnya.

"Tetapi tikus berduri dan tikus tanah vole tidak mengalami kesulitan untuk memindahkan alias mengganti gen-gen tersebut."

Beberapa mamalia memang sudah tidak lagi mempunyai kromosom Y. Sebagai gantinya, kromosom lain mengambil alih kegunaan penentuan jenis kelamin.

Fenomena ini menunjukkan gen dapat beranjak dari satu kromosom ke kromosom lain. Dengan kata lain, kromosom Y mungkin saja sedang menuju kepunahannya, terlepas dari apakah manusia menginginkannya alias tidak.

Saat ini, kromosom Y manusia hanya mempertahankan sekitar 3 persen dari gen-gen leluhurnya.

Meski demikian, gen-gen nan tersisa kemungkinan menyimpan petunjuk penting, bukan hanya tentang kesehatan laki-laki saat ini, tetapi juga mengenai sejarah perkembangan manusia dan masa depan jenis kita.

(naf/naf)

Sumber detik-health