Jakarta, CNN Indonesia --
Ribuan kontainer dilaporkan menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Hal tersebut ditengarai ulah perusahaan otomotif nan tak kunjung mengeluarkan barangnya, di antaranya BYD dan Wuling.
Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budhi Utama mengatakan penumpukan terjadi bukan lantaran proses manajemen kepabeanan, melainkan perusahaan importir tidak segera melakukan pengeluaran peralatan dari pelabuhan tujuan.
"Keberadaan Bea Cukai sebagai lini terdepan di pelabuhan pada saat pelayanan keluar-masuk barang, sudah sesuai dengan dengan standar nan diharapkan oleh nasional," kata Djaka, Senin (15/6) melansir Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, ketika kontainer-kontainer tersebut sudah mengalami pengeluaran barang, ini tetap terjadi penumpukan lantaran para pelaku tidak dengan segera melakukan pengeluaran," ujarnya menambahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengurai gimana sejumlah perusahaan alias pabrikan otomotif memanfaatkan akomodasi sehingga membiarkan peralatan nan mereka datangkan untuk tidak segera keluar dari area pelabuhan selama tiga hari.
"Contohnya seperti BYD, kemudian dari Wuling, itu tetap memanfaatkan akomodasi nan diberikan oleh pelabuhan selama tiga hari setelah SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) keluar, apalagi lebih dari dua minggu dia tidak angkat ke luar. Kemarin itu nyaris sekitar 10 ribu kontainer nan tetap ada di pelabuhan," jelas Djaka.
Menanggapi perihal itu, DJBC pun juga telah melakukan upaya pemaksaan agar perusahaan-perusahaan importir tidak membiarkan peralatan tertumpuk lama di pelabuhan dan mengganggu waktu tinggal (dwelling time).
"Sehingga kita melakukan pemaksaan kepada perusahaan tersebut untuk dengan secepatnya melakukan pengeluaran dari area pelabuhan," tutur Djaka.
"Dari sisi kepabeanan, mereka sudah selesai administrasinya, nan belum mereka selesaikan adalah pengeluaran dari pelabuhan," imbuhnya.
Ia melanjutkan perusahaan membiarkan barangnya di pelabuhan dalam waktu nan lama menyusul pertimbangan biaya nan mungkin lebih murah dibanding jika peralatan mereka kudu ditempatkan di luar pelabuhan.
"Mengingat cost nan lebih murah daripada di luar, mereka memanfaatkan (fasilitas) itu. Mungkin ke depannya kita bakal segera mendorong mereka ke lini 2 di tempat di luar pelabuhan," tutup Djaka.
(ryh/mik)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·