Jakarta, CNN Indonesia --
Bencana alam rupanya bisa meruntuhkan sebuah kekaisaran. Seperti nan terjadi pada letusan Gunung Tambora nan terjadi April 1815.
Letusan luar biasa nan menewaskan 80 ribu orang itu, tercatat bukan saja sebagai peristiwa kejadian vulkanologis, tapi runtuhnya sebuah kekaisaran terbesar di Eropa ialah Kekaisaran Prancis Napoleon Bonaparte.
Puncak letusan eksplosif itu terjadi pada 10 April 1815, seperti dilihat dari laman BPBD. Letusan Tambora sukses membikin bumi mengalami tahun tanpa musim panas pada 1816, lantaran suhu dunia berkurang antara 0,4-0,7 °C.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Volcanic Explosivity Index (VEI) mencetus bahwa ledakan Gunung Tambora mencapai level 7, ialah 10 kali lebih besar dari Krakatau.
Isi perut gunung berupa material vulkanik, abu, dan batuan cair dimuntahkan, apalagi bunyi ledakannya terdengar sampai Sumatera. Dipercaya apalagi bunyi ledakannya setara dengan 800 megaton TNT.
Runtuhnya kaisar Prancis
Doktor Matthew Genge dari Imperial College London, nan meneliti peristiwa lebih dari 200 tahun itu, menemukan bahwa abu vulkanik bermuatan listrik akibat letusan itu dapat mengakibatkan terjadinya 'arus pendek' di listrik ionosfer - tingkatan langit di atas atmosfer, dimana terjadi pembentukan awan.
Peristiwa ini kemudian menghasilkan hujan lebat nan terjadi di seluruh Eropa. Temuan nan dipublikasikan dalam jurnal Geologi pada 2018 silam, ini mengkonfirmasi adanya kaitan antara letusan dan kekalahan tentara Napoleon di Waterloo, sebuah kota di Belgia.
"Sebelumnya, para mahir pengetahuan bumi mengira jika abu vulkanik terperangkap di lapisan langit nan lebih rendah lantaran semburan material vulkanik naik secara ringan dan perlahan," ujar Genge.
"Namun penelitian saya menunjukkan jika abu dapat melesat ke tingkat lapisan atmosfer atas lantaran kuatnya daya listrik," katanya dikutip dari laman imperial.uc.uk.
Selain itu, jenis awan unik muncul lebih sering dari biasanya setelah letusan Krakatau. Awan noktilusen jarang ditemukan dan bercahaya, serta terbentuk di ionosfer.
Dr Genge beranggapan bahwa awan-awan ini memberikan bukti adanya levitasi elektrostatik abu dari letusan gunung berapi besar. Rupanya langit eropa nan mendung dan suasana nan berubah dalam tempo lama menyebabkan kekalahan pasukan Napoleon, nan sebelumnya sudah bertempur selama 23 tahun.
Sambil mengutip sastrawan Prancis Victor Hogo dalam novel Les Misérables, nan menulis tentang Pertempuran Waterloo dia mengatakan: "'langit nan berawan di luar musim sudah cukup untuk menyebabkan runtuhnya sebuah dunia.' Sekarang kita selangkah lebih dekat untuk memahami peran Tambora dalam Pertempuran tersebut dari bagian bumi nan berbeda," kata Genge.
Ubah sejarah Eropa
Pertempuran Waterloo terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo sekitar 15 km selatan ibu kota Belgia, Brussel (yang saat itu berada dalam wilayah Kerajaan Bersatu Belanda), merupakan pertempuran terakhir Kaisar Napoleon Bonaparte, berdiri pada 18 Mei 1804, dengan pengangkatan Napoleon I sebagai "kaisar Prancis.
Kala itu Prancis bertempur melawan Inggris dan koalisinya, di bawah ketua Arthur Wellesley dan sekutunya Prussia, di bawah komando Feldmarschall Blücher. Pasukan Napoleon nan terkenal gagah berani kudu mengakui kekalahan.
Medan pertempuran tersebut nan berawa dan berlumpur sangat tebal akibat intensitas hujan nan sangat tinggi akibat dari letusan Gunung Tambora, dimanfaatkan dengan baik dengan Inggris.
Pasukan nan dipimpin oleh Arthur Wellesley alias Duke of Wellington itu sengaja memancing pasukan Napoleon dengan zirah dan peralatan berat termasuk kavaleri mereka ke dalam medan berlumpur sehingga terjebak. Gerak pasukan Napoleon menjadi sangat lamnat lambat. Pasukan Duke Wellington pun dengan leluasa menghabisi pasukan dari Kekaisaran Prancis tersebut.
Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari terakhir Napoleon sejak pelariannya dari pulau Elba, saat masa pengasingan pertamanya. Selain itu, perang ini menjadi penutup sejarahnya sebagai Kaisar Prancis dan akhir dari Kekaisaran Pertama Prancis.
Setelah kekalahan ini Prancis dibebankan persyaratan perdamaian nan memberatkan dalam Perjanjian Paris Kedua, dan Napoleon menjadi tawanan perang oleh pihak Inggris dan ditahan di Pulau St. Helena di Samudra Atlantik hingga meninggal bumi pada 5 Mei 1821.
Kekalahan Kaisar Napoleon ini kemudian mengubah sejarah Eropa secara radikal melalui dua peristiwa besar: runtuhnya hegemoni Kekaisaran Prancis dan lahirnya Kongres Wina (1814-1815) nan merestrukturisasi pemisah wilayah serta tatanan politik benua tersebut.
Kongres Wina adalah konvensi diplomatik para duta besar negara Eropa (dipimpin oleh Kanselir Austria Klemens von Metternich) nan bermaksud memulihkan stabilitas dan peta politik benua tersebut setelah kekalahan Napoleon Bonaparte.
Pertemuan ini sukses membentuk keseimbangan kekuatan baru dan perdamaian jangka panjang di Eropa, seperti dikutip Britannica.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·