Kenapa Kita Suka Garuk-garuk Saat Stres?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 25 Mei 2026 16:00 WIB

Kenapa Kita Suka Garuk-garuk saat Stres? Ilustrasi. Rasa gatal nan muncul saat stres alias berada di bawah tekanan bukan sekadar sugesti, tetapi respons nyata tubuh terhadap kondisi psikologis. (iStockphoto/triocean)

Jakarta, CNN Indonesia --

Rasa gatal nan muncul saat stres alias berada di bawah tekanan bukan sekadar sugesti, tetapi respons nyata tubuh terhadap kondisi psikologis.

Banyak orang mengira gatal hanya disebabkan oleh masalah kulit. Padahal dalam sejumlah kasus, aspek emosional seperti kekhawatiran dan stres juga bisa memicunya, apalagi tanpa tanda bentuk nan jelas di kulit.

Hal ini terjadi lantaran tubuh dan pikiran saling terhubung erat. Ketika seseorang mengalami kecemasan, tubuh bakal mengaktifkan respons stres nan memengaruhi sistem saraf.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Respons ini bisa memunculkan sensasi fisik, termasuk rasa gatal, perih, alias seperti terbakar di kulit, meski tidak selalu disertai ruam alias iritasi nan terlihat.

Mengutip dari Healthline, Anxiety and Depression Association of America menyebut, gangguan kekhawatiran memengaruhi 40 juta orang dewasa setiap tahunnya.

Penelitian menunjukkan, gangguan kekhawatiran dapat memicu indikasi bentuk nan nyata, termasuk gatal nan dipicu oleh aspek psikologis. Kondisi ini juga bisa menjadi siklus, stres menyebabkan gatal, lampau gatal nan terus-menerus justru meningkatkan kecemasan.

Bagaimana stres bisa menyebabkan gatal?

Saat seseorang mengalami stres alias tekanan emosional, otak mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh melalui sistem saraf. Dalam kondisi ini, sistem saraf menjadi lebih sensitif, termasuk saraf di kulit.

Sebuah penelitian menyebut, otak memainkan peran krusial dalam sensasi gatal. Area sensorik, motorik, hingga emosi di otak diaktifkan ketika kita merasa gatal.

Akibatnya, muncul sensasi seperti gatal, kesemutan, alias panas di beragam bagian tubuh, seperti tangan, kaki, wajah, alias kulit kepala. Sensasi ini bisa muncul sesekali alias berjalan terus-menerus, tergantung tingkat stres nan dialami.

Namun, gatal ini tidak selalu muncul berbarengan dengan rasa cemas. Dalam beberapa kasus, sensasi gatal bisa datang lebih dulu, lampau memicu kekhawatiran nan memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Mengutip dari Psych Central, beberapa orang nan mengalami gatal akibat kekhawatiran melaporkan bahwa rasa gatal mereka lebih parah terjadi di malam hari nan disebut pruritus nokturnal.

Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara gatal dan indikasi depresi. Orang dengan depresi berat melaporkan intensitas gatal nan lebih tinggi dibandingkan dengan dengan orang nan melaporkan indikasi depresi ringan.

Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kondisi gatal kronis juga terjadi lantaran memandang gambar-gambar nan menimbulkan stres, seperti ular nan menyerang alias seseorang nan ditarik keluar gedung nan terbakar. Hal ini membikin tingkat keparahan gatal meningkat.

Siklus berulang

Salah satu perihal nan membikin kondisi ini susah diatasi adalah adanya siklus berulang. Ketika seseorang merasa gatal, respons alami adalah menggaruk. Namun, garukan justru bisa memperparah iritasi kulit, menyebabkan luka, apalagi infeksi.

Di sisi lain, rasa tidak nyaman akibat gatal nan tak kunjung lenyap dapat meningkatkan stres dan kecemasan. Akibatnya, tubuh kembali memicu sensasi gatal, dan siklus ini terus berulang.

Tanpa penanganan nan tepat, kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berakibat pada kualitas hidup, termasuk tidur, konsentrasi, dan kesehatan mental.

Penanganan kondisi ini perlu dilakukan dari dua sisi, ialah bentuk dan psikologis. Mengatasi hanya salah satunya sering kali tidak cukup.

Dari sisi kesehatan mental, mengelola stres menjadi langkah utama. Terapi psikologis, teknik relaksasi, meditasi, hingga olahraga teratur dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan. Dalam beberapa kasus, tenaga ahli mungkin merekomendasikan terapi perilaku alias pengobatan tertentu.

Sementara itu, dari sisi kulit, menjaga kelembapan dan menghindari iritan sangat penting. Penggunaan pelembap, losion anti-gatal, alias krim tertentu dapat membantu meredakan gejala.

ilustrasi gatal badanIlustrasi. Stres memicu respons fisiologis berupa gatal-gatal. (iStockphoto/Piyapong Thongcharoen)

Jika gatal dan stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan luka pada kulit, alias tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Rasa gatal saat stres adalah respons nyata tubuh nan sering kali tidak disadari penyebabnya. Hubungan antara pikiran dan tubuh membikin tekanan emosional dapat muncul dalam corak indikasi fisik, termasuk pada kulit.

Dengan memahami mekanismenya, seseorang dapat lebih sigap mengenali dan mengatasi kondisi ini. Mengelola stres dan merawat kesehatan kulit secara berbarengan berfaedah untuk memutus siklus gatal dan kekhawatiran nan saling memicu.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-lifestyle