Menjadi jenis terbaik dari diri sendiri bukan berfaedah kudu sempurna. Dalam psikologi, pertumbuhan pribadi lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan sehari-hari dibandingkan oleh motivasi sesaat.
Kebiasaan mini nan dilakukan berulang kali bisa membentuk langkah berpikir, emosi, apalagi kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang.
Menariknya, banyak orang konsentrasi mencari apa nan kudu dilakukan agar sukses dan bahagia, tetapi melupakan satu perihal penting: ada beberapa kebiasaan nan justru perlu dihentikan.
Sebab, sering kali nan menghalang perkembangan diri bukan kurangnya kemampuan, melainkan pola perilaku nan terus dipertahankan tanpa disadari.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (10/6), terdapat tujuh kebiasaan nan sebaiknya dihindari jika Anda mau berkembang menjadi jenis terbaik dari dirimu menurut beragam temuan psikologi.
- Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Membandingkan diri dengan orang lain adalah sesuatu nan alami. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membikin seseorang susah menghargai pencapaiannya sendiri.
Teori Social Comparison nan dikemukakan oleh psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia condong menilai dirinya berasas pencapaian orang lain. Masalahnya, di era media sosial, kita hanya memandang “bagian terbaik” dari kehidupan orang lain, sementara kita membandingkannya dengan keseluruhan kehidupan kita nan penuh tantangan.
Akibatnya:
Muncul rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Kepercayaan diri menurun.
Sulit menikmati proses nan sedang dijalani.
Lebih mudah merasa iri dan cemas.
Daripada membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu beberapa bulan alias beberapa tahun nan lalu. Fokus pada kemajuan mini nan telah Anda capai.
- Menunda-Nunda Pekerjaan alias Prokrastinasi
Banyak orang mengira prokrastinasi terjadi lantaran malas. Padahal, menurut psikologi, menunda pekerjaan sering kali berangkaian dengan pengelolaan emosi.
Seseorang menunda lantaran mau menghindari rasa tidak nyaman, takut gagal, alias merasa tugas tersebut terlalu berat. Sayangnya, semakin lama ditunda, tingkat stres justru semakin meningkat.
Dampak kebiasaan ini antara lain:
Produktivitas menurun.
Meningkatkan kecemasan.
Menurunkan kualitas pekerjaan.
Membuat seseorang kehilangan kesempatan.
Mulailah dengan langkah kecil. Tidak perlu langsung menyelesaikan semuanya sekaligus. Prinsip “mulai saja selama lima menit” sering kali cukup untuk mengatasi halangan mental nan muncul di awal.
- Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri
Banyak orang percaya bahwa bersikap keras pada diri sendiri bakal membikin mereka lebih disiplin. Faktanya, penelitian ilmu jiwa menunjukkan bahwa self-compassion alias keahlian memperlakukan diri sendiri dengan lebih bijak justru membantu seseorang lebih tahan menghadapi kegagalan.
Jika setiap kesalahan selalu dibalas dengan kalimat seperti:
“Aku memang tidak berbakat.”
“Aku selalu gagal.”
“Aku tidak bakal pernah berhasil.”
Maka lama-kelamaan pikiran tersebut bakal membentuk kepercayaan negatif nan menghalang perkembangan.
Menghargai diri sendiri bukan berfaedah memanjakan diri. Sebaliknya, itu berfaedah memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar nan dialami semua orang.
- Selalu Mencari Validasi dari Orang Lain
Tidak ada nan salah dengan mau dihargai. Namun, ketika kebahagiaan sepenuhnya berjuntai pada pengakuan orang lain, seseorang bakal susah merasa puas.
Orang nan terlalu berjuntai pada pengesahan eksternal biasanya:
Takut mengecewakan orang lain.
Sulit mengatakan “tidak”.
Merasa tidak berbobot jika tidak dipuji.
Mudah kehilangan arah ketika mendapat kritik.
Psikologi menyebut bahwa motivasi intrinsik—dorongan nan berasal dari dalam diri—lebih bisa memberikan kepuasan dan ketahanan jangka panjang dibandingkan motivasi nan hanya berjuntai pada penilaian orang lain.
Belajarlah membikin keputusan berasas nilai dan tujuan hidupmu sendiri, bukan semata-mata demi mendapatkan persetujuan orang lain.
- Memelihara Pikiran Negatif Secara Berlebihan
Setiap orang pernah mengalami pikiran negatif. Namun, jika dibiarkan terus berputar tanpa kendali, perihal tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan nan merusak kesehatan mental.
Dalam psikologi, kecenderungan terus-menerus memikirkan perihal jelek disebut rumination.
Contohnya:
Mengulang kesalahan masa lampau berkali-kali.
Membayangkan skenario terburuk nan belum tentu terjadi.
Terlalu konsentrasi pada kegagalan dibandingkan keberhasilan.
Akibatnya:
Tingkat stres meningkat.
Kecemasan bertambah.
Sulit berkonsentrasi.
Suasana hati menjadi lebih buruk.
Cara nan lebih sehat adalah belajar membedakan antara berpikir untuk mencari solusi dan berpikir nan hanya berputar tanpa menghasilkan tindakan nyata.
- Mengabaikan Kesehatan Fisik
Tubuh dan pikiran mempunyai hubungan nan sangat erat. Kurang tidur, pola makan nan buruk, serta minim aktivitas bentuk dapat memengaruhi suasana hati, keahlian berpikir, apalagi tingkat motivasi.
Penelitian menunjukkan bahwa olahraga teratur membantu meningkatkan produksi hormon nan berangkaian dengan emosi senang dan mengurangi stres.
Mengabaikan kesehatan bentuk dapat menyebabkan:
Mudah lelah.
Sulit fokus.
Emosi lebih tidak stabil.
Motivasi menurun.
Menjadi jenis terbaik dari diri sendiri tidak hanya soal bekerja keras, tetapi juga menjaga tubuh agar tetap berfaedah secara optimal.
- Takut Gagal dan Terlalu Mengejar Kesempurnaan
Perfeksionisme sering dianggap sebagai sifat positif. Padahal, dalam banyak kasus, perfeksionisme justru membikin seseorang takut mencoba dan enggan mengambil risiko.
Mereka nan terlalu mengejar kesempurnaan biasanya:
Sulit memulai sesuatu.
Takut membikin kesalahan.
Merasa hasil nan baik tetap belum cukup.
Mudah mengalami kelelahan mental.
Psikolog Carol Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa keahlian seseorang dapat berkembang melalui proses belajar dan latihan. Kegagalan bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu, melainkan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.
Orang-orang nan terus bertumbuh bukanlah mereka nan tidak pernah gagal, tetapi mereka nan tidak berakhir belajar dari kegagalan tersebut.
Penutup
Menjadi jenis terbaik dari diri sendiri bukanlah tujuan nan bisa dicapai dalam semalam. Proses tersebut berjalan sedikit demi sedikit melalui kebiasaan nan kita pilih setiap hari.
Daripada terus mencari rahasia sukses nan rumit, mulailah dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan nan diam-diam menghalang pertumbuhan diri:
Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Menunda pekerjaan.
Terlalu keras mengkritik diri sendiri.
Bergantung pada pengesahan orang lain.
Memelihara pikiran negatif secara berlebihan.
Mengabaikan kesehatan fisik.
Takut kandas dan terobsesi pada kesempurnaan.
Pada akhirnya, jenis terbaik dari dirimu bukanlah seseorang nan tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan seseorang nan terus bertumbuh, belajar, dan berani menjadi lebih baik dari hari ke hari. Karena perubahan besar nyaris selalu dimulai dari keberanian untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mini nan selama ini menghalang langkahmu.(jpc)
1 jam yang lalu

English (US) ·
Indonesian (ID) ·