Jakarta, CNN Indonesia --
Iran resmi menutup total jalur perdagangan krusial global, Selat Hormuz, untuk semua pelayaran menyusul bentrok nan meningkat antara mereka dengan Amerika Serikat dan Israel.
Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya Iran dalam rilis resmi menyatakan penutupan tersebut berangkaian dengan argumen keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selat Hormuz ditutup untuk transit semua jenis kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, dan setiap pergerakan bakal menjadi sasaran," demikian laporan instansi buletin Iran, IRNA, mengutip pernyataan militer, Kamis (11/6).
Mereka juga menegaskan Angkatan Bersenjata Iran bakal memberi tanggapan "yang menghancurkan dan tegas" ke setiap agresi dan tindakan jahat pasukan AS di area tersebut.
AS menggempur wilayah Iran pada awal pekan ini usai menuduh Garda Revolusi Islam (IRGC) menembak pesawat Apache nan sedang patroli di sekitar Selat Hormuz.
Serangan mereka menyebabkan menara komunikasi dan akomodasi air Iran hancur. Tak lama setelah itu, Teheran meluncurkan jawaban ke pangkalan militer AS di Bahrain, Yordania, serta Kuwait.
Iran dan AS kembali bertempur di tengah gencatan senjata nan dimulai sejak April dan diperpanjang tanpa rincian waktu.
Kesepakatan itu mencakup penghentian serangan dari AS dan sekutunya Israel ke Iran dan Lebanon. Namun, Iran menuduh mereka melanggar gencatan. Pertempuran pun terus bersambung hingga kini.
Penutupan total Selat Hormuz oleh Iran diperkirakan bakal membikin bumi kembali panik lantaran terputusnya salah satu jalur perdagangan krusial dunia, terutama minyak mentah.
Sejumlah negara pun menyuarakan kekhawatiran tersebut dan meminta AS dan Iran kembali duduk di bangku negosiasi.
Desakan negara-negara
Rusia apalagi meminta Washington dan Teheran kembali membuka jalur komunikasi untuk negosiasi.
"Kami menyerukan kepada semua pihak dalam bentrok ini untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan," kata ahli bicara Kremlin Dmitry Peskov, kepada AFP.
Peskov menambahkan bahwa eskalasi tersebut berisiko menimbulkan lebih banyak "konsekuensi negatif bagi situasi di area dan ekonomi global."
Arab Saudi juga telah menyampaikan kekhawatiran mendalam jika saling serang kembali terjadi bakal semakin memperparah bentrok di Timur Tengah.
Saudi mendesak AS dan Iran kembali ke meja perundingan dengan mediasi dari Qatar dan Pakistan.
Turki juga mendesak kedua negara nan bertikai segera menghentikan tindakan saling serang lantaran semakin membahayakan stabilitas kawasan.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·