Jakarta -
Jalur daya krusial Selat Hormuz kembali dinyatakan tutup oleh Iran. Sejalan dengan itu, nilai minyak bumi kembali meningkat.
Penutupan Selat Hormuz diambil Iran sebagai jawaban setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Di waktu nan nyaris berbarengan Presiden AS Donald Trump juga berjanji bakal melakukan lebih banyak serangan jika kesepakatan tenteram tidak tercapai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Reuters, Kamis (11/6/2026), perjanjian berjangka minyak Brent naik US$ 1,48, alias 1,59%, menjadi US$ 94,58 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,71, alias 1,90%, menjadi US$ 91,74.
Komando militer campuran tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari Kamis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial. Mereka juga mengatakan setiap kapal nan mencoba melewati jalur strategis tersebut bakal ditembak.
Eskalasi pertempuran nan kembali terjadi mendorong nilai minyak untuk naik pada perdagangan pagi hari. Analis ING menyatakan perihal ini menunjukkan bahwa kesepakatan tenteram tetap jauh dan ketidakstabilan pasokan daya tetap bakal terjadi.
"Ini sekali lagi menunjukkan bahwa kesepakatan tenteram tetap jauh dan bahwa aliran daya dari Teluk Persia bakal tetap sangat terbatas," kata analis ING dalam catatan kepada klien.
Pasukan AS mulai melancarkan serangan tambahan terhadap beberapa sasaran di Iran kemarin malam. Hal ini dikhawatirkan menyulut kembali perang skala penuh, nan sempat dihentikan sementara pada awal April ketika kedua pihak menyetujui gencatan senjata nan tetap rentan kesepakatannya.
Blokade selat nan dilakukan Iran selama berbulan-bulan terhadap Selat Hormuz telah membikin nilai minyak tetap tinggi. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur utama seperlima pengiriman minyak dan gas dunia selama ini.
(acd/acd)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·