Jakarta -
Pemerintah Iran secara terbuka menuduh Amerika Serikat telah menggunakan backdoor tersembunyi alias jaringan botnet nan ditanam sebelumnya untuk melumpuhkan peralatan jaringan di dalam negerinya. Insiden ini diklaim terjadi tepat saat serangan militer baru-baru ini tengah berlangsung.
Tudingan nan pertama kali didorong oleh media pemerintah Iran tersebut menyoroti kegagalan perangkat keras dari beragam vendor raksasa seperti Cisco, Juniper, Fortinet, dan MikroTik. Perangkat-perangkat krusial tersebut dilaporkan tiba-tiba meninggal (reboot) alias terputus dari jaringan pada momen-momen kritis.
Menurut laporan dari instansi buletin Fars dan Entekhab, Teheran meyakini bahwa gangguan massal ini mengarah pada dugaan sabotase tingkat tinggi, bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Menariknya, rentetan kegagalan perangkat keras ini terjadi justru ketika Iran sedang memutus sebagian besar koneksinya dari internet global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua Teori Sabotase Utama
Para pejabat dan master di Iran mencurigai dua skenario utama mengenai gimana sabotase ini bisa terjadi di tengah pemadaman internet:
- Bom Waktu Firmware: Kode rawan diyakini telah disusupkan langsung ke dalam firmware alias bootloader perangkat sejak awal, lampau diprogram untuk aktif secara otomatis pada waktu nan telah ditentukan.
- Jaringan Botnet Rahasia: Teori kedua menyebut bahwa botnet tersembunyi telah bersarang di perangkat-perangkat tersebut dan langsung diaktifkan begitu serangan militer dimulai.
Meski tuduhan tersebut terdengar serius, verifikasi independen untuk membuktikan klaim ini nyaris mustahil dilakukan. Tragedi pemadaman internet nan diberlakukan sendiri oleh Teheran justru menjadi bumerang nan menghalangi proses investigasi dari pihak luar.
Organisasi pemantau jaringan NetBlocks mencatat bahwa krisis internet di Iran sekarang telah memasuki hari ke-50. Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebut bahwa otoritas setempat hanya memberikan akses konektivitas terbatas melalui sistem "Internet Pro" dan "kartu SIM putih" unik untuk kelompok-kelompok tertentu saja.
Kecurigaan Iran tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan. Deretan nama vendor nan dituduh nyatanya memang mempunyai rekam jejak celah keamanan nan cukup kontroversial di masa lalu:
- Cisco: Dokumen rahasia NSA nan dibocorkan oleh Edward Snowden pada tahun 2014 lampau membuktikan bahwa intelijen AS pernah mencegat pengiriman router Cisco untuk memasang perangkat penyadap sebelum tiba di tangan pelanggan.
- Juniper: Pada tahun 2015, perusahaan ini pernah mengungkapkan adanya kode tidak sah di sistem ScreenOS mereka nan berpotensi memberikan celah akses jarak jauh dan penjelasan VPN kepada peretas.
- Fortinet & MikroTik: Fortinet pernah mendapat sorotan tajam mengenai kredensial hardcoded di sistem operasi lama mereka, sementara perangkat jaringan buatan MikroTik sudah berulang kali ditemukan menjadi sarang botnet.
Kondisi geopolitik nan memanas ini tentu saja langsung dimanfaatkan oleh Tiongkok. Berbagai media pemerintah dan badan siber Tiongkok langsung menggemakan klaim Iran ini sebagai amunisi tambahan. Mereka menyebut kejadian ini sebagai bukti nyata bahwa Washington--bukan Beijing--yang sebenarnya merupakan "negara adikuasa backdoor" di bumi maya.
Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan pernyataan publik resmi untuk membantah tuduhan spesifik tersebut, demikian dikutip detikINET dari beragam Techspot, Kamis (23/4/2026).
Meski begitu, pihak Washington sebelumnya memang sudah secara terbuka mengakui adanya pengerahan operasi siber unik sebagai bagian dari kampanye militer bersandi Operation Epic Fury.
(asj/asj)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·