Jakarta -
Di tengah hiruk pikuk kuliner modern, Inna Sri Sugiati (60) sukses mengembangkan upaya asinan fermentasi. Ia sukses menghidupkan kembali resep kuliner warisan keluarganya jadi produk inovatif nan ramah lingkungan.
Berlokasi di Jalan Pancoran Timur Raya No. 50, Pengadegan, Jakarta Selatan, upaya ini berdiri di bawah jenama Niekting. Nama ini diambil dari kata Niniek nan berfaedah nenek dalam bahasa Sunda, serta Ting diambil dari nama panggilan sang ibu.
Jauh sebelum Inna memutuskan untuk menekuni upaya ini, aroma cuka, cabai, dan potongan buah dan sayur segar itu telah berkawan di masa kecilnya. Pasalnya, sang ibu, Tien Hamsini, telah merintis upaya asinan sejak tahun 1970.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini kemudian dilanjutkan oleh Inna pada tahun 2019 hingga berkembang dan naik kelas di bawah bimbingan Rumah BUMN BRI. Seperti kisahnya ?
Sebuah Pilihan Hidup
Inna mengenang perjalanannya meneruskan upaya kuliner asinan ini tidak bermulai dari rencana upaya nan matang di atas kertas, melainkan dari sebuah pilihan hidup nan penuh keikhlasan.
Sebelumnya, Inna adalah seorang pekerja kantoran nan mapan di salah satu perusahaan di ibu kota. Namun, garis hidup berubah saat sang ayah tiba-tiba jatuh sakit akibat serangan stroke.
Sebagai satu-satunya anak nan berada di ibu kota, kala itu, Inna akhirnya memilih mengalah. Pada tahun 1998, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya demi merawat sang ayah di rumah.
"Saudara saya nan lain ada di Ciamis dan Bekasi. Mau nggak mau berfaedah saya kudu ngalah. Akhirnya yaudah saya kerjanya di rumah aja," kenang Inna kepada detikcom belum lama ini.
Seiring berjalannya waktu, rutinitas di rumah menjadi ibu rumah tangga sempat memicu rasa jenuhnya. Hal inilah nan kemudian menuntun Inna untuk berasosiasi dalam program pembinaan kewirausahaan.
Di sana, Inna belajar langkah menjadi wirausaha dari rumah dan diarahkan untuk konsentrasi memilih satu produk kuliner unggulan nan mempunyai karakter rasa kuat di Jakarta. Pilihan Inna pun jatuh pada asinan.
Foto: Tien Hamsini (kiri) dan Inna Sri Sugiati (kanan).
Warisan Resep Keluarga
Inna ingat betul bahwa asinan racikan ibunya mempunyai rekam jejak nan manis. Pada masa kejayaannya, asinan ibunya bukan hanya dinikmati oleh tetangga alias kerabat dekat, melainkan oleh ekspatriat.
Asinan ibunya apalagi sempat mejeng di kantin Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Saat itu, ibunya diundang untuk menghadirkan cita rasa kuliner lokal.
"Itu memang Mama waktu zamannya dia, itu masuk ke kantinnya Kedutaan Amerika. Kita udah masuk ke sana. Ya artinya itu udah uji coba bahwa pihak luar, bule, itu suka makanan kita gitu kan," ungkapnya.
Namun, kata Inna, upaya sang ibu itu terpaksa meninggal suri pada tahun 1990 akibat keterbatasan sumber daya manusia. Resep asinan itu pun sempat tersimpan rapat di laci kenangan selama nyaris tiga puluh tahun lamanya.
"Kata Mama resepnya tetap ada, diteruskan saja. Iya juga ya, pikir saya," tutur Inna mengingat pesan almarhum sang ibu.
Inovasi Asinan Fermentasi
Inna kemudian memutuskan merintis upaya dari resep asinan ibunya pada akhir 2019. Namun, dia tidak mau sekadar meniru apa nan sudah ada. Ia mau membawa asinan tersebut ke level nan lebih tinggi melalui penemuan fermentasi.
Hal itu terinspirasi dari aktivitas ayahnya nan merupakan lulusan teknik kimia Universitas Gadjah Mada (UGM). Semasa hidup, sang ayah kerap melakukan uji coba di lab untuk mengukur kadar keasaman asinan nan sesuai.
Inna sendiri pernah menempuh pendidikan sekolah asisten apoteker. Sementara sang ibu, dulu pernah berguru di Sekolah Kepandaian Putri, alias sekarang setara SMK.
"Kita ulik nih komposisi asam-basahnya sampai mendapatkan formula nan dia bisa difermentasi," jelas Inna.
Adapun komposisi Asinan Fermentasi tersebut terdiri dari potongan bengkoang, mentimun, kol, dan sawi asin dengan ramuan kacang nan dicampur. Proses fermentasi itu menghasilkan kuman baik nan dibutuhkan untuk pencernaan dan usus.
"Jadi fermentasinya dilakukan dengan perendaman bahan baku dan sayuran selama dua-tiga hari," terangnya.
Melalui serangkaian uji coba nan berulang, Inna menghitung dengan jeli gimana hubungan antara tingkat keasaman buah, kadar gula, dan media cair dapat menciptakan proses fermentasi alami nan pas.
Hasilnya adalah asinan fermentasi nan tidak hanya menyegarkan dan mempunyai daya simpan lebih lama dalam bungkusan modern, tetapi juga tetap kondusif dan menyehatkan bagi pencernaan.
Foto: Asinan Fermentasi Niekting
Lahir di Tengah Pandemi
Seiring berjalannya waktu, tepat pada Oktober 2020, produk asinan fermentasi Niekting resmi diluncurkan ke pasar. Meski pandemi COVID-19, saat itu setidaknya Inna bisa memproduksi kurang lebih 1.000 pcs dalam satu bulan nan dipasarkan ke wilayah Jabodetabek.
Ia melibatkan lima pekerja utama nan bekerja secara elastis sesuai kebutuhan produksi. Model kerja per batch diterapkannya untuk menyesuaikan ritme usaha, sekaligus memberikan kesempatan bagi pekerja nan mempunyai tanggung jawab family alias pekerjaan sampingan.
"Kita berdayakan pekerja dari beragam latar belakang, termasuk wanita dan pekerja berumur lanjut, nan berkedudukan krusial dalam membantu proses produksi," ungkapnya.
Inna juga terus melakukan penemuan bungkusan agar produknya tahan lama saat dilakukan pengiriman. Pada periode awal pengembangan, bungkusan Niekting tetap menggunakan styrofoam. Kini, Niekting menggunakan dua jenis bungkusan ialah thin wall dan standing pouch nan bisa memperkuat lebih dari dua bulan.
"Kira-kira setelah dikeluarkan dari storage Niekting nan bersuhu 4-7 derajat celcius, asinan bisa memperkuat di perjalanan selama tiga hari sampai diterima oleh pelanggan," kata Inna.
Hal tersebut apalagi jauh berkembang jika dibandingkan dengan masa ketika upaya asinan dijalankan sang ibu. Dulu, asinan nan dikirim bakal tetap menggunakan rantang sehingga hanya bisa diantar untuk para pengguna jarak dekat.
Asinan Fermentasi Niekting berkembang berbareng Rumah BUMN BRI
Berkembang Via Rumah BUMN BRI
Perlahan tapi pasti, Inna kemudian berbagung menjadi UMKM bimbingan Rumah BUMN Jakarta nan dikelola BRI. Saat itu dia memandang postingan di media sosial tentang training peningkatan usaha. Inna pun tertarik dan datang langsung ke Rumah BUMN BRI nan berada di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat.
Di wadah inilah Niekting mendapatkan pendampingan nan intens melalui training berjenjang. Pendampingan dari BRI menyentuh aspek-aspek krusial nan dibutuhkan oleh Niekting agar naik kelas. Mulai dari perbaikan konten, pengaturan keuangan, hingga fasilitasi foto produk.
Bagi Inna, faedah terbesar nan dia rasakan dari pendampingan berkepanjangan Rumah BUMN BRI adalah pergeseran pola pikir alias mindset menjadi seorang entrepreneur.
"Kalau bukan entrepreneur, larinya hanya sekadar jualan saja dari pagelaran ke bazar. Padahal untuk meningkatkan kelas, kategorinya banyak. Bukan hanya dikenal secara branding, tapi internalnya juga kudu siap," ungkap Inna.
Melalui program ini, Inna dibekali pengetahuan produktivitas dan manajemen upaya jika menghadapi lonjakan permintaan. Ia juga diajarkan proses produksi hingga proses pengemasan.
Dukungan nyata BRI tidak berakhir pada ruang pelatihan. Langkah pemasaran Niekting pun meluas berkah integrasi ke ekosistem digital BUMN. Produk Niekting apalagi masuk ke dalam platform PaDi UMKM, sebuah platform B2B milik BUMN.
Kehadiran di marketplace tersebut membuka kesempatan besar bagi Niekting lantaran mempermudah kantor-kantor perusahaan BUMN untuk memesan produknya secara langsung guna beragam keperluan korporat.
"Jadi artinya marketingnya bukan hanya offline tapi online-nya juga," terangnya.
BRI juga kerap merekomendasikan Inna sebagai narasumber di beragam acara. Niekting juga mengikuti pagelaran nan berjalan di Sarinah Thamrin Jakarta serta KTT ASEAN 2023 lalu. Ajang-ajang tersebut setidaknya membikin Niekting lebih dilirik pasar.
Selain itu, berkah kurasi dan fasilitasi dari Rumah BUMN BRI, asinan fermentasi Niekting apalagi sudah sukses menembus pasar internasional dan mencicipi pasar kuliner di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Jadi Rumah BUMN BRI ini melalui beberapa programnya mengarahkan kita menjadi entrepreneur. Jadi mindset kita berubah tak sekedar jualan. Itulah nan saya dapetin dari Rumah BUMN BRI ini," jelasnya.
Limbah sayur, buah, dan minyak jelantah diolah jadi eco-enzyme hingga lilin.
Inovasi Zero Waste
Keberhasilan Inna dalam mengembangkan upaya asinan fermentasi ini tak membuatnya berpuas diri. Baginya, upaya nan maju kudu melangkah selaras dengan kelestarian lingkungan.
Oleh lantaran itu, Niekting secara disiplin memilah limbah organik sisa produksi asinannya. Ia mengolah limbah kulit bengkoang, bonggol kol serta minyak jelantah sisa penggorengan ramuan kacang jadi produk bernilai
Inna bekerja-sama dengan Arnetta Craft, sebuah organisasi pengolahan limbah asal Jakarta Timur nan dipimpin Chevie Mawarti dalam mengolah limbah tersebut.
"Awalnya saya hanya ikut kelas belajar mengolah limbah minyak jelantah jadi lilin dan tatakan. Lalu saya berpikir, limbah kulit bengkoang dan bonggol kol sisa produksi asinan saya ini bisa dibuat apa," tutur Inna.
Dari sinergi tersebut, limbah sayur dan buah dari Niekting sukses disulap menjadi cairan eco-enzyme. Selain itu, limbah tersebut juga bisa dikembangkan jadi karbol dan sabun lerak.
Langkah inovatif itu rupanya membawa akibat ekonomi. Produk-produk hasil olahan limbah Niekting dan Arnetta Craft telah rutin diserap oleh beragam perusahaan BUMN.
Produk eco enzyme, sabun lerak, karbol, dan lilin tersebut kerap dipesan dalam jumlah besar untuk mengisi goodie bag training internal alias dijadikan hampers korporat. Salah satu perusahaan apalagi memajang produk ramah lingkungan ini di gerai resmi mereka.
Komitmen BRI
Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI datang sebagai wadah bagi para pelaku upaya lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara cuma-cuma untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas seperti Niekting.
"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain nan memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena persoalan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.
Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali berasosiasi Rumah BUMN BRI, UMKM bakal diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya bakal menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat nan memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari upaya tersebut.
"Kami bakal mengarahkan mereka untuk konsentrasi mengikuti training pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program training dengan mengundang narasumber nan mahir expert di bidangnya," terangnya.
Jajang menyebut berbareng BRI, UMKM tak hanya tumbuh tapi juga beralih bentuk menuju ekonomi digital nan berdikari dan berkelanjutan.
"Setiap senyuman dari pelaku UMKM nan sukses naik kelas adalah daya bagi kami," ujarnya.
Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM nan aktif mengikuti beragam program training dan pendampingan.
"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, lantaran tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, konsentrasi utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.
(akd/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·